Cite This        Tampung        Export Record
Judul Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) / Editors: Maiko Nishi, Suneetha M. Subramanian, Philip Varghese, Juliano Sènanmi Hermann Houndonougbo
Pengarang Nishi, Maiko
Subramanian, Suneetha M.
Varghese, Philip
Houndonougbo, Juliano Sènanmi Hermann
EDISI 1
Penerbitan Singapore : Springer, 2026
Deskripsi Fisik xxviii, 276 hlm. :ilus. ;25 cm
ISBN 978-981-95-1474-8
Subjek Landscape ecology
Biological diversity conservation
Abstrak Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) membahas pentingnya konektivitas ekologis sebagai fondasi keberlangsungan fungsi ekosistem, konservasi keanekaragaman hayati, serta ketahanan sosial-ekologis dalam menghadapi perubahan lingkungan global. Buku ini menyoroti bagaimana perencanaan ruang, pengelolaan lanskap, dan pengelolaan bentang laut berbasis masyarakat dapat mendukung pergerakan spesies, aliran proses ekologis, pemeliharaan keanekaragaman genetik, penyerbukan, penyebaran benih, siklus nutrien, serta adaptasi terhadap perubahan iklim. Melalui dua belas studi kasus dari Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika Selatan, buku ini menunjukkan bagaimana pengelolaan Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) dapat meningkatkan konektivitas ekologis dengan memadukan konservasi biodiversitas, pengetahuan tradisional, tata kelola masyarakat, restorasi habitat, koridor ekologis, pertanian berkelanjutan, serta kolaborasi multipemangku kepentingan. Buku ini juga membahas tantangan konseptual dan metodologis dalam mengukur konektivitas ekologis, mengelola trade-off antara pembangunan dan konservasi, serta mengintegrasikan konektivitas ke dalam kebijakan global seperti Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework. Anotasi Buku ini merupakan karya kolektif yang mengeksplorasi hubungan antara konservasi biodiversitas, pembangunan berkelanjutan, dan konektivitas ekologis dalam lanskap dan bentang laut yang dikelola manusia. Konsep utama yang dikembangkan adalah bahwa konservasi tidak cukup dilakukan hanya melalui kawasan lindung yang terisolasi, melainkan harus memastikan keterhubungan habitat dan proses ekologis yang memungkinkan spesies, energi, dan materi bergerak secara alami di dalam ekosistem. Bab pengantar menjelaskan bahwa konektivitas ekologis merupakan syarat penting bagi keberlangsungan fungsi ekosistem, termasuk pemeliharaan keanekaragaman genetik, migrasi satwa, penyerbukan, penyebaran benih, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penulis menunjukkan bahwa meskipun luas kawasan lindung terus meningkat secara global, banyak wilayah penting bagi pergerakan satwa masih belum terhubung secara efektif sehingga manfaat konservasi belum optimal. Kontribusi utama buku ini terletak pada penggunaan pendekatan SEPLS (Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes). Pendekatan tersebut memandang lanskap sebagai mosaik ekosistem yang dikelola melalui interaksi manusia dan alam. Dalam konteks ini, konektivitas ekologis tidak hanya mencakup hubungan biologis antarhabitat, tetapi juga mencakup dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan tata kelola yang memungkinkan konservasi berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Dua belas studi kasus yang disajikan berasal dari Ghana, Kenya, Thailand, Malaysia, Taiwan, India, Spanyol, dan Kolombia. Kasus-kasus tersebut memperlihatkan berbagai strategi peningkatan konektivitas, antara lain agroforestri, konservasi berbasis komunitas, koridor satwa liar, restorasi hutan, pengelolaan kawasan pesisir, jaringan ekologis, pertanian organik, dan integrasi pengetahuan tradisional dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain aspek praktis, buku ini juga mengkaji tantangan metodologis dalam mengukur konektivitas ekologis, mengidentifikasi trade-off antara konservasi dan pembangunan ekonomi, serta merumuskan indikator untuk menilai efektivitas kebijakan dan pengelolaan lanskap. Bab sintesis menyimpulkan berbagai pelajaran penting dan menawarkan rekomendasi kebijakan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal. Buku ini sangat relevan bagi peneliti ekologi, geografi, konservasi biodiversitas, perencanaan wilayah, kehutanan, ilmu lingkungan, pengambil kebijakan, serta organisasi yang bekerja dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.
Catatan Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) membahas salah satu isu terpenting dalam konservasi modern, yaitu bagaimana menjaga keterhubungan ekosistem di tengah meningkatnya tekanan pembangunan, fragmentasi habitat, dan perubahan iklim. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa kawasan konservasi yang terpisah-pisah tidak cukup untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan habitat, spesies, manusia, dan sistem sosial dalam satu kerangka pengelolaan yang terpadu. Bagian awal buku menjelaskan konsep konektivitas ekologis sebagai kemampuan suatu lanskap atau bentang laut untuk memungkinkan pergerakan organisme dan berlangsungnya proses-proses ekologis secara alami. Konektivitas dipandang sebagai fondasi bagi migrasi satwa, aliran genetik, penyebaran spesies, ketahanan ekosistem, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penulis juga meninjau perkembangan kebijakan internasional y
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai
Lokasi Akses Online https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-95-1474-8
https://doi.org/10.1007/978-981-95-1474-8

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
252926192 333.95 Ens Baca Online Perpustakaan Pusat - Online Resources
Ebook
Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000169294
005 20260611033710
007 ta
008 260611################|##########|#|##
020 # # $a 978-981-95-1474-8
035 # # $a 0010-0626000539
082 # # $a 333.95
084 # # $a 333.95 Ens
245 # # $a Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) /$c Editors: Maiko Nishi, Suneetha M. Subramanian, Philip Varghese, Juliano Sènanmi Hermann Houndonougbo
250 # # $a 1
260 # # $a Singapore :$b Springer,$c 2026
300 # # $a xxviii, 276 hlm. : $b ilus. ; $c 25 cm
505 # # $a Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) membahas salah satu isu terpenting dalam konservasi modern, yaitu bagaimana menjaga keterhubungan ekosistem di tengah meningkatnya tekanan pembangunan, fragmentasi habitat, dan perubahan iklim. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa kawasan konservasi yang terpisah-pisah tidak cukup untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan habitat, spesies, manusia, dan sistem sosial dalam satu kerangka pengelolaan yang terpadu. Bagian awal buku menjelaskan konsep konektivitas ekologis sebagai kemampuan suatu lanskap atau bentang laut untuk memungkinkan pergerakan organisme dan berlangsungnya proses-proses ekologis secara alami. Konektivitas dipandang sebagai fondasi bagi migrasi satwa, aliran genetik, penyebaran spesies, ketahanan ekosistem, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penulis juga meninjau perkembangan kebijakan internasional yang menempatkan konektivitas ekologis sebagai komponen penting dalam konservasi global. Selanjutnya buku memperkenalkan konsep SEPLS sebagai pendekatan yang mengintegrasikan konservasi biodiversitas dengan aktivitas produksi dan kehidupan masyarakat. Lanskap dan bentang laut dipandang sebagai sistem sosial-ekologis yang terdiri atas berbagai tipe ekosistem, tata guna lahan, dan bentuk pengelolaan yang saling terhubung. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal. Dua belas studi kasus dari berbagai negara memberikan gambaran nyata tentang bagaimana konektivitas ekologis dapat diwujudkan melalui beragam strategi, termasuk penguatan hak masyarakat adat, pengelolaan warisan biokultural, pengembangan hutan komunitas, restorasi koridor ekologis, konservasi kawasan pesisir, pembangunan jaringan ekologis, pertanian berkelanjutan, dan pengelolaan kawasan peri-urban. Setiap studi menunjukkan bahwa keberhasilan konektivitas ekologis bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta. Pada bagian penutup, para editor menyintesiskan berbagai pelajaran dari seluruh studi kasus dan menegaskan bahwa konektivitas ekologis harus dipahami secara multidimensional. Tidak hanya berkaitan dengan habitat dan spesies, tetapi juga dengan budaya, pengetahuan lokal, tata kelola, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekonomi. Buku ini menawarkan kerangka konseptual dan praktis yang dapat digunakan untuk mendukung konservasi biodiversitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan global abad ke-21
520 # # $a Ensuring Ecological Connectivity in Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) membahas pentingnya konektivitas ekologis sebagai fondasi keberlangsungan fungsi ekosistem, konservasi keanekaragaman hayati, serta ketahanan sosial-ekologis dalam menghadapi perubahan lingkungan global. Buku ini menyoroti bagaimana perencanaan ruang, pengelolaan lanskap, dan pengelolaan bentang laut berbasis masyarakat dapat mendukung pergerakan spesies, aliran proses ekologis, pemeliharaan keanekaragaman genetik, penyerbukan, penyebaran benih, siklus nutrien, serta adaptasi terhadap perubahan iklim. Melalui dua belas studi kasus dari Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika Selatan, buku ini menunjukkan bagaimana pengelolaan Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes (SEPLS) dapat meningkatkan konektivitas ekologis dengan memadukan konservasi biodiversitas, pengetahuan tradisional, tata kelola masyarakat, restorasi habitat, koridor ekologis, pertanian berkelanjutan, serta kolaborasi multipemangku kepentingan. Buku ini juga membahas tantangan konseptual dan metodologis dalam mengukur konektivitas ekologis, mengelola trade-off antara pembangunan dan konservasi, serta mengintegrasikan konektivitas ke dalam kebijakan global seperti Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework. Anotasi Buku ini merupakan karya kolektif yang mengeksplorasi hubungan antara konservasi biodiversitas, pembangunan berkelanjutan, dan konektivitas ekologis dalam lanskap dan bentang laut yang dikelola manusia. Konsep utama yang dikembangkan adalah bahwa konservasi tidak cukup dilakukan hanya melalui kawasan lindung yang terisolasi, melainkan harus memastikan keterhubungan habitat dan proses ekologis yang memungkinkan spesies, energi, dan materi bergerak secara alami di dalam ekosistem. Bab pengantar menjelaskan bahwa konektivitas ekologis merupakan syarat penting bagi keberlangsungan fungsi ekosistem, termasuk pemeliharaan keanekaragaman genetik, migrasi satwa, penyerbukan, penyebaran benih, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penulis menunjukkan bahwa meskipun luas kawasan lindung terus meningkat secara global, banyak wilayah penting bagi pergerakan satwa masih belum terhubung secara efektif sehingga manfaat konservasi belum optimal. Kontribusi utama buku ini terletak pada penggunaan pendekatan SEPLS (Socio-Ecological Production Landscapes and Seascapes). Pendekatan tersebut memandang lanskap sebagai mosaik ekosistem yang dikelola melalui interaksi manusia dan alam. Dalam konteks ini, konektivitas ekologis tidak hanya mencakup hubungan biologis antarhabitat, tetapi juga mencakup dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan tata kelola yang memungkinkan konservasi berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Dua belas studi kasus yang disajikan berasal dari Ghana, Kenya, Thailand, Malaysia, Taiwan, India, Spanyol, dan Kolombia. Kasus-kasus tersebut memperlihatkan berbagai strategi peningkatan konektivitas, antara lain agroforestri, konservasi berbasis komunitas, koridor satwa liar, restorasi hutan, pengelolaan kawasan pesisir, jaringan ekologis, pertanian organik, dan integrasi pengetahuan tradisional dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain aspek praktis, buku ini juga mengkaji tantangan metodologis dalam mengukur konektivitas ekologis, mengidentifikasi trade-off antara konservasi dan pembangunan ekonomi, serta merumuskan indikator untuk menilai efektivitas kebijakan dan pengelolaan lanskap. Bab sintesis menyimpulkan berbagai pelajaran penting dan menawarkan rekomendasi kebijakan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal. Buku ini sangat relevan bagi peneliti ekologi, geografi, konservasi biodiversitas, perencanaan wilayah, kehutanan, ilmu lingkungan, pengambil kebijakan, serta organisasi yang bekerja dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.
650 # # $a Biological diversity conservation
650 # # $a Landscape ecology
700 1 # $a Houndonougbo, Juliano Sènanmi Hermann
700 1 # $a Nishi, Maiko
700 1 # $a Subramanian, Suneetha M.
700 1 # $a Varghese, Philip
856 # # $a https://doi.org/10.1007/978-981-95-1474-8
856 # # $a https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-95-1474-8
990 # # $a 252926192
Content Unduh katalog