
| Judul | Geostrategic Gulf : From World Wars to Modern Day / Warren Chin; Brandon Friedman; Andrew Stewart (Editors) |
| Pengarang | Chin Warren Friedman, Brandon Stewart, Andrew |
| EDISI | 1 |
| Penerbitan | Singapore : Springer, 2026 |
| Deskripsi Fisik | vi, 168 hlm. :ill. ;25 cm. |
| ISBN | 978-981-92-1070-1 |
| Subjek | Persian Gulf Region — Geopolitics |
| Abstrak | Buku ini menyajikan kajian multidimensional mengenai pentingnya kawasan Teluk secara geostrategis sejak Perang Dunia I hingga era kontemporer. Disunting oleh Warren Chin, Brandon Friedman, dan Andrew Stewart, antologi akademis ini menguji bagaimana interaksi antara geografi, perbatasan negara, jalur perdagangan, serta lokasi sumber daya alam dan ekonomi membentuk perumusan kebijakan kekuatan regional maupun global. Karya ini memperluas perspektif konvensional yang kerap menilai nilai strategis Teluk semata-mata dari kekayaan minyak bumi, dengan menempatkan faktor hidrokarbon tersebut ke dalam konteks sejarah geopolitik yang lebih luas, dinamis, dan terus berkembang. Secara tematis, buku ini terbagi ke dalam tiga fokus utama. Bagian pertama mengulas evolusi Teluk dari Perang Dunia hingga Perang Dingin, menganalisis persaingan imperialisme Britania dan Utsmaniyah, awal mula proyeksi kekuatan Amerika Serikat melalui utusan diplomatik di Iran, penanganan pemberontakan di Oman, serta geopolitik ketahanan pangan pada tahun 1970-an. Bagian kedua mengeksplorasi pengaruh peristiwa sejarah Teluk terhadap tatanan dunia pada akhir abad ke-20, termasuk akar historis Perang Global melawan Teror (Global War on Terror) dan visi New World Order pasca-Perang Teluk 1990–1991. Bagian ketiga mengkaji dinamika geostratejik kontemporer, yang mencakup respons terhadap terorisme Salafi-Jihadi, transformasi Uni Emirat Arab dari pengimpor senjata menjadi eksportir teknologi pertahanan, keterlibatan negara Teluk di Mediterania Timur, dampak Revolusi Industri 4.0, serta implikasi normalisasi Iran-Arab Saudi terhadap Perang Perang 7 Oktober 2023. Monografi ini merumuskan kerangka kerja penelitian geostrategis yang komprehensif untuk memahami pola-pola keterlibatan kekuatan besar di kawasan Teluk. ANOTASI Kajian ini diawali dengan merumuskan kerangka teori geostrategis yang menegaskan bagaimana faktor geografi, jalur perdagangan, dan lokasi sumber daya menentukan ke mana suatu negara memproyeksikan kekuatannya. Pembahasan menguraikan bahwa meskipun kawasan Teluk kerap dinilai berdasarkan cadangan minyak bumi, keterlibatan historis negara-negara besar telah berlangsung jauh sebelum komoditas hidrokarbon mendominasi—mulai dari perlindungan jalur perdagangan imperial dan rute haji Utsmaniyah hingga pengamanan jalur komunikasi Britania menuju India. Pemahaman ini diperdalam melalui analisis sejarah Perang Dunia I, di mana keterlibatan Britania di Mesopotamia awalnya bertujuan menjadikan kawasan tersebut sebagai benteng pertahanan (security buffer) menuju India. Namun, dalam dinamika peperangan, faktor gengsi imperium (prestige) berkembang menjadi pendorong utama komitmen militer Inggris yang masif, yang pada akhirnya membuka jalan bagi penguasaan cadangan minyak di Mosul dan Abadan. Selanjutnya, alur sejarah menyoroti awal masuknya pengaruh Amerika Serikat di Teluk selama Perang Dunia II melalui misi diplomatik Jenderal Patrick J. Hurley di Tehran. Misi ini mengungkap gesekan terselubung antara visi liberal tatanan dunia AS—sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Atlantik—dengan dominasi komersial imperial Britania, sebelum akhirnya persaingan tersebut terlebur oleh munculnya ancaman bersama dari Uni Soviet pada awal Perang Dingin. Memasuki era Perang Dingin, penanganan Pemberontakan Dhofar di Oman (1962–1976) dianalisis sebagai keberhasilan penanggulangan pemberontakan (counterinsurgency) berbasis integrasi reformasi sosial-politik dan militer, yang sangat dipengaruhi oleh perubahan lanskap geopolitik kawasan pasca-penarikan Britania dari Aden serta keterlibatan Iran, Yordania, dan blok Komunis. Perspektif geopolitik kemudian bergeser pada krisis ketahanan pangan tahun 1970-an, ketika negara-negara Teluk yang mengalami kenaikan harga minyak menghadapi ancaman embargo gandum dari Amerika Serikat. Rasa rentan ini memicu investasi besar-besaran untuk menjadikan Sudan sebagai "lumbung pangan Arab" serta dorongan swasembada pertanian di Arab Saudi yang menguras akuifer air tanah. Memasuki akhir abad ke-20, analisis mengungkap bahwa Perang Global melawan Teror (Global War on Terror) memiliki akar historis yang membentang dari Perang Soviet-Afganistan (1979–1989), penempatan pasukan AS di Arab Saudi pasca-Perang Teluk I, hingga serangan jaringan Al-Qaeda pada dekade 1990-an. Pada saat yang sama, upaya Pentadbiran Bush untuk membentuk "Tatanan Dunia Baru" (New World Order) pasca-invasi Irak ke Kuwait (1990–1991) terbentur oleh ketidakserasian strategis dan dinamika politik domestik di antara negara-negara Teluk sendiri. Di era kontemporer, perhatian berfokus pada respons negara-negara Teluk terhadap ancaman terorisme Salafi-Jihadi, yang dilawan tidak hanya secara militer tetapi juga melalui kontra-narasi ideologis dan reformasi keagamaan. Sejalan dengan penataan ulang kekuatan domestik, Uni Emirat Arab memelopori transformasi strategis dari pengimpor senjata utama menjadi eksportir teknologi pertahanan terkemuka melalui konsolidasi industri nasional seperti EDGE Group. Selain itu, keterlibatan aktif negara Teluk meluas ke Mediterania Timur melalui keterlibatan dalam forum energi, kerja sama pertahanan, dan proyek koridor konektivitas antarkawasan. Keseluruhan narasi ditutup dengan evaluasi dampak Revolusi Industri 4.0 dan teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap kapasitas militer kawasan, serta analisis mengenai bagaimana detente Iran-Arab Saudi 2023 berpengaruh terhadap eskalasi Perang 7 Oktober antara Hamas dan Israel. |
| Catatan | Geostrategic Gulf: From World Wars to Modern Day adalah antologi akademis komprehensif yang membedah peran geostrategis kawasan Teluk dalam percaturan politik global sejak awal abad ke-20 hingga era kontemporer. Disunting oleh Warren Chin, Brandon Friedman, dan Andrew Stewart, buku ini menantang pandangan reduksionis yang menilai arti penting Teluk hanya dari kacamata kekayaan minyak bumi semata. Dengan mengintegrasikan kerangka geopolitik yang menghubungkan geografi, perbatasan, rute perdagangan, dan teknologi, buku ini membuktikan bahwa Teluk secara konsisten menjadi arena persaingan, proyeksi kekuatan, dan pembentukan tatanan internasional oleh aktor-aktor regional maupun negara daya utama. Karya ini merunut evolusi strategis Teluk melalui tiga babak sejarah utama. Pada paruh pertama abad ke-20, kawasan Teluk berfungsi sebagai benteng geografis (security buffer) untuk melindungi rute maritim imperium. Melalui analisis Perang Dunia I dan II, terlihat bagaimana kepentingan Britania dan Amerika Serikat ber |
| Bentuk Karya | Tidak ada kode yang sesuai |
| Target Pembaca | Tidak ada kode yang sesuai |
| Lokasi Akses Online |
https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-1070-1 https://doi.org/10.1007/978-981-92-1070-1 |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 254126192 | 327.53 Geo | Baca Online | Perpustakaan Pusat - Online Resources Ebook |
Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000000169606 | ||
| 005 | 20260729021537 | ||
| 007 | ta | ||
| 008 | 260729################|##########|#|## | ||
| 020 | # | # | $a 978-981-92-1070-1 |
| 035 | # | # | $a 0010-0726000103 |
| 082 | # | # | $a 327.53 |
| 084 | # | # | $a 327.53 Geo |
| 245 | # | # | $a Geostrategic Gulf : $b From World Wars to Modern Day /$c Warren Chin; Brandon Friedman; Andrew Stewart (Editors) |
| 250 | # | # | $a 1 |
| 260 | # | # | $a Singapore :$b Springer,$c 2026 |
| 300 | # | # | $a vi, 168 hlm. : $b ill. ; $c 25 cm. |
| 500 | # | # | $a Geostrategic Gulf: From World Wars to Modern Day adalah antologi akademis komprehensif yang membedah peran geostrategis kawasan Teluk dalam percaturan politik global sejak awal abad ke-20 hingga era kontemporer. Disunting oleh Warren Chin, Brandon Friedman, dan Andrew Stewart, buku ini menantang pandangan reduksionis yang menilai arti penting Teluk hanya dari kacamata kekayaan minyak bumi semata. Dengan mengintegrasikan kerangka geopolitik yang menghubungkan geografi, perbatasan, rute perdagangan, dan teknologi, buku ini membuktikan bahwa Teluk secara konsisten menjadi arena persaingan, proyeksi kekuatan, dan pembentukan tatanan internasional oleh aktor-aktor regional maupun negara daya utama. Karya ini merunut evolusi strategis Teluk melalui tiga babak sejarah utama. Pada paruh pertama abad ke-20, kawasan Teluk berfungsi sebagai benteng geografis (security buffer) untuk melindungi rute maritim imperium. Melalui analisis Perang Dunia I dan II, terlihat bagaimana kepentingan Britania dan Amerika Serikat bergeser—mulai dari pertarungan mempertahankan gengsi kekaisaran (prestige) atas Utsmaniyah, pengamanan pasokan minyak pasca-konversi bahan bakar armada, hingga persaingan pengaruh komersial-diplomatik yang diwarnai oleh benturan visi Piagam Atlantik versus imperialisme tradisional. Dinamika ini berlanjut pada masa Perang Dingin, sebagaimana tecermin dalam penanganan Pemberontakan Dhofar di Oman yang berhasil memadukan strategi militer dan pembangunan sosial, serta krisis ketahanan pangan 1970-an yang memicu diplomasi pangan dan investasi lintas negara pasca-ancaman embargo gandum Barat. Pada akhir abad ke-20, Teluk menjadi katalisator bagi pembentukan tatanan dunia baru. Invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990 dan Perang Teluk yang menyertainya dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk menegakkan prinsip-prinsip tatanan internasional berbasis aturan. Namun, pengerahan pasukan dan kehadiran militer AS yang berkepanjangan di Jazirah Arab justru menyemaikan benih radikalisasi ideologis. Buku ini menunjukkan bahwa Perang Global melawan Teror (Global War on Terror) bukanlah fenomena yang muncul secara mendadak pasca-9/11, melainkan puncak dari eskalasi jaringan jihadis transnasional (Al-Qaeda) yang berakar dari Perang Soviet-Afganistan dan konflik-konflik lokal sepanjang dekade 1990-an. Pada bagian kontemporer, antologi ini mengevaluasi transformasi negara-negara Teluk di tengah arus Revolusi Industri 4.0 dan perubahan peta geopolitik. Negara-negara Teluk kini tidak lagi sekadar menjadi objek keterlibatan kekuatan asing, melainkan aktor geostrategis yang aktif. Hal ini terlihat dari respons sistematis terhadap terorisme Salafi-Jihadi melalui instrumen hukum, militer, dan penangkal ideologis; transformasi Uni Emirat Arab dari negara pengimpor senjata menjadi eksportir teknologi pertahanan dan kecerdasan buatan; ekspansi pengaruh ekonomi dan keamanan ke kawasan Mediterania Timur; serta peran dinamika diplomasi regional—seperti normalisasi Iran-Arab Saudi 2023—terhadap stabilitas kawasan pasca-Perang 7 Oktober. Secara keseluruhan, buku ini memberikan peta jalan teoritis dan historis yang krusial untuk memahami kontinuitas serta perubahan pola kompetisi kekuatan besar di Teluk. |
| 520 | # | # | $a Buku ini menyajikan kajian multidimensional mengenai pentingnya kawasan Teluk secara geostrategis sejak Perang Dunia I hingga era kontemporer. Disunting oleh Warren Chin, Brandon Friedman, dan Andrew Stewart, antologi akademis ini menguji bagaimana interaksi antara geografi, perbatasan negara, jalur perdagangan, serta lokasi sumber daya alam dan ekonomi membentuk perumusan kebijakan kekuatan regional maupun global. Karya ini memperluas perspektif konvensional yang kerap menilai nilai strategis Teluk semata-mata dari kekayaan minyak bumi, dengan menempatkan faktor hidrokarbon tersebut ke dalam konteks sejarah geopolitik yang lebih luas, dinamis, dan terus berkembang. Secara tematis, buku ini terbagi ke dalam tiga fokus utama. Bagian pertama mengulas evolusi Teluk dari Perang Dunia hingga Perang Dingin, menganalisis persaingan imperialisme Britania dan Utsmaniyah, awal mula proyeksi kekuatan Amerika Serikat melalui utusan diplomatik di Iran, penanganan pemberontakan di Oman, serta geopolitik ketahanan pangan pada tahun 1970-an. Bagian kedua mengeksplorasi pengaruh peristiwa sejarah Teluk terhadap tatanan dunia pada akhir abad ke-20, termasuk akar historis Perang Global melawan Teror (Global War on Terror) dan visi New World Order pasca-Perang Teluk 1990–1991. Bagian ketiga mengkaji dinamika geostratejik kontemporer, yang mencakup respons terhadap terorisme Salafi-Jihadi, transformasi Uni Emirat Arab dari pengimpor senjata menjadi eksportir teknologi pertahanan, keterlibatan negara Teluk di Mediterania Timur, dampak Revolusi Industri 4.0, serta implikasi normalisasi Iran-Arab Saudi terhadap Perang Perang 7 Oktober 2023. Monografi ini merumuskan kerangka kerja penelitian geostrategis yang komprehensif untuk memahami pola-pola keterlibatan kekuatan besar di kawasan Teluk. ANOTASI Kajian ini diawali dengan merumuskan kerangka teori geostrategis yang menegaskan bagaimana faktor geografi, jalur perdagangan, dan lokasi sumber daya menentukan ke mana suatu negara memproyeksikan kekuatannya. Pembahasan menguraikan bahwa meskipun kawasan Teluk kerap dinilai berdasarkan cadangan minyak bumi, keterlibatan historis negara-negara besar telah berlangsung jauh sebelum komoditas hidrokarbon mendominasi—mulai dari perlindungan jalur perdagangan imperial dan rute haji Utsmaniyah hingga pengamanan jalur komunikasi Britania menuju India. Pemahaman ini diperdalam melalui analisis sejarah Perang Dunia I, di mana keterlibatan Britania di Mesopotamia awalnya bertujuan menjadikan kawasan tersebut sebagai benteng pertahanan (security buffer) menuju India. Namun, dalam dinamika peperangan, faktor gengsi imperium (prestige) berkembang menjadi pendorong utama komitmen militer Inggris yang masif, yang pada akhirnya membuka jalan bagi penguasaan cadangan minyak di Mosul dan Abadan. Selanjutnya, alur sejarah menyoroti awal masuknya pengaruh Amerika Serikat di Teluk selama Perang Dunia II melalui misi diplomatik Jenderal Patrick J. Hurley di Tehran. Misi ini mengungkap gesekan terselubung antara visi liberal tatanan dunia AS—sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Atlantik—dengan dominasi komersial imperial Britania, sebelum akhirnya persaingan tersebut terlebur oleh munculnya ancaman bersama dari Uni Soviet pada awal Perang Dingin. Memasuki era Perang Dingin, penanganan Pemberontakan Dhofar di Oman (1962–1976) dianalisis sebagai keberhasilan penanggulangan pemberontakan (counterinsurgency) berbasis integrasi reformasi sosial-politik dan militer, yang sangat dipengaruhi oleh perubahan lanskap geopolitik kawasan pasca-penarikan Britania dari Aden serta keterlibatan Iran, Yordania, dan blok Komunis. Perspektif geopolitik kemudian bergeser pada krisis ketahanan pangan tahun 1970-an, ketika negara-negara Teluk yang mengalami kenaikan harga minyak menghadapi ancaman embargo gandum dari Amerika Serikat. Rasa rentan ini memicu investasi besar-besaran untuk menjadikan Sudan sebagai "lumbung pangan Arab" serta dorongan swasembada pertanian di Arab Saudi yang menguras akuifer air tanah. Memasuki akhir abad ke-20, analisis mengungkap bahwa Perang Global melawan Teror (Global War on Terror) memiliki akar historis yang membentang dari Perang Soviet-Afganistan (1979–1989), penempatan pasukan AS di Arab Saudi pasca-Perang Teluk I, hingga serangan jaringan Al-Qaeda pada dekade 1990-an. Pada saat yang sama, upaya Pentadbiran Bush untuk membentuk "Tatanan Dunia Baru" (New World Order) pasca-invasi Irak ke Kuwait (1990–1991) terbentur oleh ketidakserasian strategis dan dinamika politik domestik di antara negara-negara Teluk sendiri. Di era kontemporer, perhatian berfokus pada respons negara-negara Teluk terhadap ancaman terorisme Salafi-Jihadi, yang dilawan tidak hanya secara militer tetapi juga melalui kontra-narasi ideologis dan reformasi keagamaan. Sejalan dengan penataan ulang kekuatan domestik, Uni Emirat Arab memelopori transformasi strategis dari pengimpor senjata utama menjadi eksportir teknologi pertahanan terkemuka melalui konsolidasi industri nasional seperti EDGE Group. Selain itu, keterlibatan aktif negara Teluk meluas ke Mediterania Timur melalui keterlibatan dalam forum energi, kerja sama pertahanan, dan proyek koridor konektivitas antarkawasan. Keseluruhan narasi ditutup dengan evaluasi dampak Revolusi Industri 4.0 dan teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap kapasitas militer kawasan, serta analisis mengenai bagaimana detente Iran-Arab Saudi 2023 berpengaruh terhadap eskalasi Perang 7 Oktober antara Hamas dan Israel. |
| 650 | # | # | $a Persian Gulf Region — Geopolitics |
| 700 | 0 | # | $a Chin Warren |
| 700 | 0 | # | $a Friedman, Brandon |
| 700 | 0 | # | $a Stewart, Andrew |
| 856 | # | # | $a https://doi.org/10.1007/978-981-92-1070-1 |
| 856 | # | # | $a https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-1070-1 |
| 990 | # | # | $a 254126192 |
| No | Nama File | Nama File Format Flash | Format File | Action |
| 1 | 978-981-92-1070-1.pdf | Download |
Content Unduh katalog