Cite This        Tampung        Export Record
Judul Modern Interpretations of Traditional Chinese Culture / Yonglin Huang ; diterjemahkan oleh Li Yu; Xuan Liu; Chaolu Deng
Pengarang Huang, Yonglin
EDISI 1
Penerbitan Singapore : Springer, 2026
Deskripsi Fisik xix, 353 hlm. :ill. ;25 cm.
ISBN 978-981-92-0734-3
Subjek China — Civilization — 21st century
Abstrak Buku ini menyajikan kajian akademis komprehensif mengenai perlindungan, pewarisan, transformasi kreatif, dan pengembangan inovatif kebudayaan tradisional Tiongkok di tengah arus modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi abad ke-21. Ditulis oleh Profesor Yonglin Huang, pakar terkemuka di bidang industri budaya dan sastra rakyat dari Central China Normal University, monografi ini memadukan kebijakan warisan budaya, folklor, analisis mitologi, sejarah perkotaan, dan tata kelola pedesaan ke dalam satu kerangka teori yang holistik. Karya ini menjawab paradoks eksistensial yang dihadapi warisan budaya tradisional di era modern: ketika industrialisasi ekonomi dan teknologi digital mengancam ekosistem alam pedesaan serta aset takbenda, teknologi tersebut sekaligus menawarkan sarana canggih untuk pelestarian, revitalisasi, dan penyebaran budaya secara global. Secara struktural, buku ini mengeksplorasi lima dimensi krusial: tata kelola warisan budaya benda dan takbenda; arketipe mitologis dan sejarah folklor; seni rakyat, pertunjukan, dan estetika erotis; rekam jejak arsitektur kota dan adaptasi situs bersejarah; serta kebudayaan pedesaan, pelestarian desa tradisional, dan strategi pengentasan kemiskinan berbasis budaya. Dengan menekankan prinsip "dua inovasi" (transformasi kreatif dan pengembangan inovatif), penulis menegaskan bahwa kebudayaan tradisional Tiongkok bukanlah peninggalan sejarah yang statis, melainkan DNA spiritual yang dinamis dan sumber daya strategis yang esensial untuk memupuk kepercayaan diri nasional, membangun negara kebudayaan sosialis yang kuat, dan memperkuat daya tawar wacana internasional. Melalui integrasi studi lapangan empiris (termasuk figur perunggu Sanxingdui, Opera Jinghe, peninggalan kota Negeri Chu, dan bengkel kerja warisan budaya takbenda pedesaan) dengan metodologi lintas disiplin ilmu (antropologi, sosiologi, ekonomi, dan teknologi), karya ini merumuskan peta jalan teoritis dan praktis untuk menyelaraskan peradaban historis dengan kehidupan digital modern. Anotasi Buku ini menyoroti tonggak sejarah kebijakan pelestarian warisan budaya di Tiongkok—seperti Undang-Undang Cagar Budaya 1982, Konvensi ICH UNESCO 2003/2004, dan UU Warisan Budaya Takbenda 2011—serta penyelarasan strategisnya dengan arahan tata kelola kebudayaan Presiden Xi Jinping dan kepemimpinan akademis Central China Normal University (CCNU) dalam industri budaya. Berfokus pada reformasi hukum, restrukturisasi administrasi antar-departemen, serta standardisasi perlindungan atas 766.700 situs benda dan 1.557 aset takbenda tingkat nasional melalui integrasi teknologi 5G, restorasi Virtual Reality (VR), dan blockchain. Perspektif ini diterapkan secara konkrit melalui analisis semiotik terhadap temuan arkeologi Sanxingdui, khususnya topeng perunggu bermata menonjol selebar 138 cm yang dibedah dari sudut pandang mitos suku Zhulong (Naga Obor), sejarah Raja Cancong, pemujaan shamanistik, dan mitos lisan etnis Yi/Baima Di. Selanjutnya, buku ini menjelaskan asal-usul antropologis tradisi bercerita (storytelling) berbasis teori evolusi Darwin, teori kerja Marxis, dan "Revolusi Kognitif" Harari, lalu menyusun sistem mitologi Tiongkok ke dalam empat kategori narasi utama (Penciptaan, Bencana, Penemuan, dan Tata Kelola Sosial Yao-Shun). Penulis juga menerapkan analisis "karnavalisasi" Bakhtin untuk membedah cerita rakyat erotis sebagai bentuk edukasi seksual dan kritik terhadap moralisme feodal, disusul dengan rekam sejarah 600 tahun Opera Jinghe serta model transmisinya di lingkungan kampus Universitas Yangtze. Spektrum kebudayaan rakyat yang meliputi adat istiadat regional, sastra lisan, tradisi ritual musiman, dan sistem kepercayaan lokal di berbagai provinsi serta etnis minoritas juga dibahas dalam buku. Dari ranah tradisi, perhatian dialihkan ke dimensi spasial melalui pelestarian arsitektur perkotaan, konservasi kawasan jalan kuno, dan revitalisasi ruang kota bersejarah seperti Jingzhou dan Chengdu menjadi pusat wisata budaya modern. Sementara pada kawasan rural, dirumuskan strategi perlindungan desa-desa tradisional, pelestarian warisan pertanian, dan pembentukan bengkel kerja warisan budaya takbenda untuk pengentasan kemiskinan serta revitalisasi pedesaan. Keseluruhan narasi ini ditutup dengan rekam jejak akademis Profesor Yonglin Huang dalam menjembatani warisan budaya dengan ekonomi kreatif, dilengkapi refleksi proses penyusunan buku dan apresiasi kepada tim peneliti serta penerjemah
Catatan Modern Interpretations of Traditional Chinese Culture merupakan karya akademis monumental yang menjembatani warisan sejarah kuno dengan tuntutan pembangunan sosial, kebijakan publik, dan teknologi digital abad ke-21. Buku ini menegaskan bahwa budaya tradisional—jauh dari sekadar peninggalan usang yang menghambat kemajuan—mengandung "meta-gen" spiritual dan soft power mendasar yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat identitas nasional, kohesi sosial, dan diplomasi budaya internasional. Buku ini mengawali pembahasannya dari aspek tata kelola struktural warisan budaya di Tiongkok. Penulis menyajikan analisis komprehensif mengenai kebijakan hukum nasional, sistem standardisasi pelestarian, serta pemanfaatan dinamis sumber daya sejarah. Dengan memadukan metode teknologi tinggi (seperti tur awan VR, autentikasi blockchain, dan distribusi video pendek 5G) dengan perlindungan lapangan, karya ini membuktikan bagaimana situs fisik dan seni takbenda dapat menjadi komponen hidup dalam masyarakat konsumen modern dan pend
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai
Lokasi Akses Online https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-0734-3
https://doi.org/10.1007/978-981-92-0734-3

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
254026192 306.095 1 Hua m Baca Online Perpustakaan Pusat - Online Resources
Ebook
Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000169604
005 20260729013840
007 ta
008 260729################|##########|#|##
020 # # $a 978-981-92-0734-3
035 # # $a 0010-0726000101
082 # # $a 306.095 1
084 # # $a 306.095 1 Hua m
100 0 # $a Huang, Yonglin
245 1 # $a Modern Interpretations of Traditional Chinese Culture /$c Yonglin Huang ; diterjemahkan oleh Li Yu; Xuan Liu; Chaolu Deng
250 # # $a 1
260 # # $a Singapore :$b Springer,$c 2026
300 # # $a xix, 353 hlm. : $b ill. ; $c 25 cm.
500 # # $a Modern Interpretations of Traditional Chinese Culture merupakan karya akademis monumental yang menjembatani warisan sejarah kuno dengan tuntutan pembangunan sosial, kebijakan publik, dan teknologi digital abad ke-21. Buku ini menegaskan bahwa budaya tradisional—jauh dari sekadar peninggalan usang yang menghambat kemajuan—mengandung "meta-gen" spiritual dan soft power mendasar yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat identitas nasional, kohesi sosial, dan diplomasi budaya internasional. Buku ini mengawali pembahasannya dari aspek tata kelola struktural warisan budaya di Tiongkok. Penulis menyajikan analisis komprehensif mengenai kebijakan hukum nasional, sistem standardisasi pelestarian, serta pemanfaatan dinamis sumber daya sejarah. Dengan memadukan metode teknologi tinggi (seperti tur awan VR, autentikasi blockchain, dan distribusi video pendek 5G) dengan perlindungan lapangan, karya ini membuktikan bagaimana situs fisik dan seni takbenda dapat menjadi komponen hidup dalam masyarakat konsumen modern dan pendidikan publik. Kerangka teoritis ini diterapkan secara langsung pada teka-teki arkeologi besar, seperti figur perunggu Sanxingdui, yang didekoder sebagai sintesis multi-lapis dari mitologi Zhulong, pemujaan leluhur Raja Cancong, dan identitas etnis Shu kuno. Dalam ranah folklor dan mitologi, buku ini mengupas bagaimana narasi lisan membentuk ingatan kolektif. Melalui pembedahan terhadap mitos penciptaan, bencana banjir, penemuan teknologi kuno, dan tata kelola sosial, penulis membuktikan bagaimana cerita-cerita kuno tersebut melahirkan prinsip-prinsip filsafat utama Tiongkok: "Kesatuan Langit dan Manusia", "Penyehatan Diri Tanpa Henti", "Inovasi Berani", dan "Pemerintahan Berbasis Kebajikan". Buku ini juga tidak ragu mengeksplorasi sub-genre yang terpinggirkan, seperti cerita rakyat erotis, dengan menganalisisnya melalui teori karnavalisasi Bakhtin sebagai ekspresi perlawanan rakyat terhadap moralisme feodal, sarana edukasi seksual, dan pelepasan tekanan psikologis. Pada bagian akhir, buku ini meneliti seni pertunjukan daerah, ruang perkotaan, dan lanskap pedesaan. Mengambil studi kasus Opera Jinghe, buku ini melacak evolusi 600 tahun seni pertunjukan di sepanjang Sungai Yangtze, merincikan silsilah para maestro, serta menampilkan bagaimana perguruan tinggi (seperti Universitas Yangtze) dapat berperan sebagai pusat pelestarian aktif. Monografi ini ditutup dengan merumuskan strategi aplikatif untuk melindungi desa-desa tradisional dan mengintegrasikan warisan budaya takbenda ke dalam program revitalisasi pedesaan serta pengentasan kemiskinan ekonomi. Pada akhirnya, Profesor Yonglin Huang menyajikan paradigma teoritis dan praktis yang jernih untuk mengubah peradaban kuno menjadi kekuatan budaya modern yang dinamis
520 # # $a Buku ini menyajikan kajian akademis komprehensif mengenai perlindungan, pewarisan, transformasi kreatif, dan pengembangan inovatif kebudayaan tradisional Tiongkok di tengah arus modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi abad ke-21. Ditulis oleh Profesor Yonglin Huang, pakar terkemuka di bidang industri budaya dan sastra rakyat dari Central China Normal University, monografi ini memadukan kebijakan warisan budaya, folklor, analisis mitologi, sejarah perkotaan, dan tata kelola pedesaan ke dalam satu kerangka teori yang holistik. Karya ini menjawab paradoks eksistensial yang dihadapi warisan budaya tradisional di era modern: ketika industrialisasi ekonomi dan teknologi digital mengancam ekosistem alam pedesaan serta aset takbenda, teknologi tersebut sekaligus menawarkan sarana canggih untuk pelestarian, revitalisasi, dan penyebaran budaya secara global. Secara struktural, buku ini mengeksplorasi lima dimensi krusial: tata kelola warisan budaya benda dan takbenda; arketipe mitologis dan sejarah folklor; seni rakyat, pertunjukan, dan estetika erotis; rekam jejak arsitektur kota dan adaptasi situs bersejarah; serta kebudayaan pedesaan, pelestarian desa tradisional, dan strategi pengentasan kemiskinan berbasis budaya. Dengan menekankan prinsip "dua inovasi" (transformasi kreatif dan pengembangan inovatif), penulis menegaskan bahwa kebudayaan tradisional Tiongkok bukanlah peninggalan sejarah yang statis, melainkan DNA spiritual yang dinamis dan sumber daya strategis yang esensial untuk memupuk kepercayaan diri nasional, membangun negara kebudayaan sosialis yang kuat, dan memperkuat daya tawar wacana internasional. Melalui integrasi studi lapangan empiris (termasuk figur perunggu Sanxingdui, Opera Jinghe, peninggalan kota Negeri Chu, dan bengkel kerja warisan budaya takbenda pedesaan) dengan metodologi lintas disiplin ilmu (antropologi, sosiologi, ekonomi, dan teknologi), karya ini merumuskan peta jalan teoritis dan praktis untuk menyelaraskan peradaban historis dengan kehidupan digital modern. Anotasi Buku ini menyoroti tonggak sejarah kebijakan pelestarian warisan budaya di Tiongkok—seperti Undang-Undang Cagar Budaya 1982, Konvensi ICH UNESCO 2003/2004, dan UU Warisan Budaya Takbenda 2011—serta penyelarasan strategisnya dengan arahan tata kelola kebudayaan Presiden Xi Jinping dan kepemimpinan akademis Central China Normal University (CCNU) dalam industri budaya. Berfokus pada reformasi hukum, restrukturisasi administrasi antar-departemen, serta standardisasi perlindungan atas 766.700 situs benda dan 1.557 aset takbenda tingkat nasional melalui integrasi teknologi 5G, restorasi Virtual Reality (VR), dan blockchain. Perspektif ini diterapkan secara konkrit melalui analisis semiotik terhadap temuan arkeologi Sanxingdui, khususnya topeng perunggu bermata menonjol selebar 138 cm yang dibedah dari sudut pandang mitos suku Zhulong (Naga Obor), sejarah Raja Cancong, pemujaan shamanistik, dan mitos lisan etnis Yi/Baima Di. Selanjutnya, buku ini menjelaskan asal-usul antropologis tradisi bercerita (storytelling) berbasis teori evolusi Darwin, teori kerja Marxis, dan "Revolusi Kognitif" Harari, lalu menyusun sistem mitologi Tiongkok ke dalam empat kategori narasi utama (Penciptaan, Bencana, Penemuan, dan Tata Kelola Sosial Yao-Shun). Penulis juga menerapkan analisis "karnavalisasi" Bakhtin untuk membedah cerita rakyat erotis sebagai bentuk edukasi seksual dan kritik terhadap moralisme feodal, disusul dengan rekam sejarah 600 tahun Opera Jinghe serta model transmisinya di lingkungan kampus Universitas Yangtze. Spektrum kebudayaan rakyat yang meliputi adat istiadat regional, sastra lisan, tradisi ritual musiman, dan sistem kepercayaan lokal di berbagai provinsi serta etnis minoritas juga dibahas dalam buku. Dari ranah tradisi, perhatian dialihkan ke dimensi spasial melalui pelestarian arsitektur perkotaan, konservasi kawasan jalan kuno, dan revitalisasi ruang kota bersejarah seperti Jingzhou dan Chengdu menjadi pusat wisata budaya modern. Sementara pada kawasan rural, dirumuskan strategi perlindungan desa-desa tradisional, pelestarian warisan pertanian, dan pembentukan bengkel kerja warisan budaya takbenda untuk pengentasan kemiskinan serta revitalisasi pedesaan. Keseluruhan narasi ini ditutup dengan rekam jejak akademis Profesor Yonglin Huang dalam menjembatani warisan budaya dengan ekonomi kreatif, dilengkapi refleksi proses penyusunan buku dan apresiasi kepada tim peneliti serta penerjemah
650 # # $a China — Civilization — 21st century
856 # # $a https://doi.org/10.1007/978-981-92-0734-3
856 # # $a https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-0734-3
990 # # $a 254026192
990 # # $a 354026192
No Nama File Nama File Format Flash Format File Action
1 978-981-92-0734-3.pdf pdf Download
Content Unduh katalog