
| Judul | NU Smoking: Kedaulatan Islam Nusantara dalam Fatwa Kretek / M. Jadul Maula; Dr. Gugun El Guyanie |
| Pengarang | Maula, M. Jadul Guyanie, Gugun El |
| EDISI | Cetakan Pertama |
| Penerbitan | Yogyakarta : Trussmedia Grafika, 2026 |
| Deskripsi Fisik | 142 :ill. ;15 cm |
| ISBN | 9786238443871 |
| Subjek | RELIGION |
| Abstrak | Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah persoalan yang tampak sederhana, seperti rokok, dibicarakan melalui perspektif agama, kebudayaan, ekonomi, dan politik. Rokok tidak lagi sekadar produk konsumsi, tetapi menjelma menjadi ruang perdebatan mengenai otoritas keagamaan, tradisi masyarakat, hingga kedaulatan ekonomi bangsa. Inilah gagasan penting yang dapat ditemukan dalam buku NU Smoking: Kedaulatan Islam Nusantara dalam Fatwa Kretek, karya M. Jadul Maula dan Dr. Gugun El Guyanie. Salah satu daya tarik buku ini adalah penelusuran terhadap tradisi intelektual ulama Nusantara dalam membahas kretek. Fatwa mengenai rokok tidak dipahami semata-mata sebagai keputusan hukum yang bersifat normatif, tetapi juga sebagai hasil pergulatan pemikiran ulama dalam menghadapi realitas sosial. Tradisi bahtsul masail Nahdlatul Ulama menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana persoalan rokok dibicarakan, dipertimbangkan, dan ditempatkan dalam kerangka hukum Islam. Melalui pendekatan tersebut, buku ini memperlihatkan karakter pemikiran Islam Nusantara yang tidak terlepas dari konteks kebudayaan lokal. Agama tidak hadir sebagai sistem yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan berdialog dengan tradisi, pengalaman sejarah, serta kebutuhan sosial. Kretek, dalam konteks ini, menjadi salah satu contoh bagaimana produk budaya lokal berinteraksi dengan pemikiran keagamaan. Pembahasan kemudian berkembang ke persoalan yang lebih luas, yakni kedaulatan ekonomi dan keberlangsungan ekosistem kretek nasional. Industri kretek memiliki hubungan dengan kehidupan petani tembakau, petani cengkeh, buruh, serta masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada sektor tersebut. Oleh karena itu, pembicaraan tentang kretek tidak cukup hanya dilihat dari perspektif konsumsi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Perspektif ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan regulasi pengendalian tembakau dan pengaruh kebijakan kesehatan global. Buku ini mengajak pembaca melihat kemungkinan adanya ketegangan antara kebijakan pengendalian rokok dengan keberlangsungan industri kretek nasional. Penulis mempertanyakan bagaimana kebijakan global dapat memengaruhi ruang kedaulatan negara, khususnya dalam menentukan arah kebijakan yang berkaitan dengan petani dan industri lokal. Kelebihan buku ini terletak pada keberaniannya menghadirkan perspektif lintas disiplin. Persoalan kretek dibahas melalui pendekatan agama, sejarah, budaya, ekonomi, dan politik. Pendekatan semacam ini memberikan pemahaman yang lebih luas dibandingkan pembahasan yang hanya berfokus pada hukum merokok. Pembaca memperoleh kesempatan untuk melihat hubungan antara fatwa, tradisi masyarakat, dan kepentingan ekonomi nasional secara lebih menyeluruh. Selain itu, pembaca yang mengharapkan pembahasan medis secara terperinci mungkin belum menemukan jawaban yang memadai dalam buku ini. Kajian kesehatan memerlukan pendekatan dan bukti ilmiah tersendiri, sehingga perspektif tersebut dapat menjadi pelengkap penting bagi diskusi yang dibangun penulis. Catatan ini juga mengemuka dalam kegiatan bedah buku yang menyoroti perlunya pembahasan kesehatan dan perlindungan perokok dini. Pada akhirnya, NU Smoking merupakan buku yang menarik untuk dibaca sebagai upaya memahami hubungan antara agama, kebudayaan, dan kedaulatan bangsa. Buku ini mengingatkan bahwa sebuah fatwa tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari konteks sosial yang melingkupinya. Kretek menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana tradisi keagamaan, kepentingan ekonomi, dan identitas kebangsaan saling berinteraksi. Dengan demikian, NU Smoking layak menjadi bahan bacaan bagi siapa pun yang tertarik pada Islam Nusantara, pemikiran Nahdlatul Ulama, kebudayaan lokal, serta dinamika kebijakan tembakau di Indonesia. Buku ini menawarkan perspektif yang menggugah sekaligus mengundang pembaca untuk melanjutkan diskusi secara lebih kritis dan berimbang. |
| Catatan | Daftar Isi : BAB I : Latar Historis BAB II : Fikih kretek dalam forum bahtsul masail BAB III : Kitab Irsyadul ikhwan tongak pemikiran ulama nusantara tentang kretek BAB IV : Tradisi, Kretek dan moral ekonomi nahdliyin BAB V : Intervensi asing, rezim kesehatan global dan ancaman kedaulatana BAB VI : Khidmah kebangsaan dan daulat ekosistem pertembakauan |
| Bahasa | Indonesia |
| Bentuk Karya | Tidak diketahui |
| Target Pembaca | Umum |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 034726111 | 297.5 Mau n | Dapat dipinjam | Perpustakaan Pusat - KK KKB Koleksi Khusus |
Diolah |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000000171693 | ||
| 005 | 20261102020831 | ||
| 007 | ta | ||
| 008 | 261102################g##########u#ind## | ||
| 020 | # | # | $a 9786238443871 |
| 035 | # | # | $a 0010-1126000023 |
| 082 | # | # | $a 297.5 |
| 084 | # | # | $a 297.5 Mau n |
| 100 | 0 | # | $a Maula, M. Jadul |
| 245 | 1 | # | $a NU Smoking: Kedaulatan Islam Nusantara dalam Fatwa Kretek /$c M. Jadul Maula; Dr. Gugun El Guyanie |
| 250 | # | # | $a Cetakan Pertama |
| 260 | # | # | $a Yogyakarta :$b Trussmedia Grafika,$c 2026 |
| 300 | # | # | $a 142 : $b ill. ; $c 15 cm |
| 505 | # | # | $a Daftar Isi : BAB I : Latar Historis BAB II : Fikih kretek dalam forum bahtsul masail BAB III : Kitab Irsyadul ikhwan tongak pemikiran ulama nusantara tentang kretek BAB IV : Tradisi, Kretek dan moral ekonomi nahdliyin BAB V : Intervensi asing, rezim kesehatan global dan ancaman kedaulatana BAB VI : Khidmah kebangsaan dan daulat ekosistem pertembakauan |
| 520 | # | # | $a Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah persoalan yang tampak sederhana, seperti rokok, dibicarakan melalui perspektif agama, kebudayaan, ekonomi, dan politik. Rokok tidak lagi sekadar produk konsumsi, tetapi menjelma menjadi ruang perdebatan mengenai otoritas keagamaan, tradisi masyarakat, hingga kedaulatan ekonomi bangsa. Inilah gagasan penting yang dapat ditemukan dalam buku NU Smoking: Kedaulatan Islam Nusantara dalam Fatwa Kretek, karya M. Jadul Maula dan Dr. Gugun El Guyanie. Salah satu daya tarik buku ini adalah penelusuran terhadap tradisi intelektual ulama Nusantara dalam membahas kretek. Fatwa mengenai rokok tidak dipahami semata-mata sebagai keputusan hukum yang bersifat normatif, tetapi juga sebagai hasil pergulatan pemikiran ulama dalam menghadapi realitas sosial. Tradisi bahtsul masail Nahdlatul Ulama menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana persoalan rokok dibicarakan, dipertimbangkan, dan ditempatkan dalam kerangka hukum Islam. Melalui pendekatan tersebut, buku ini memperlihatkan karakter pemikiran Islam Nusantara yang tidak terlepas dari konteks kebudayaan lokal. Agama tidak hadir sebagai sistem yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan berdialog dengan tradisi, pengalaman sejarah, serta kebutuhan sosial. Kretek, dalam konteks ini, menjadi salah satu contoh bagaimana produk budaya lokal berinteraksi dengan pemikiran keagamaan. Pembahasan kemudian berkembang ke persoalan yang lebih luas, yakni kedaulatan ekonomi dan keberlangsungan ekosistem kretek nasional. Industri kretek memiliki hubungan dengan kehidupan petani tembakau, petani cengkeh, buruh, serta masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada sektor tersebut. Oleh karena itu, pembicaraan tentang kretek tidak cukup hanya dilihat dari perspektif konsumsi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Perspektif ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan regulasi pengendalian tembakau dan pengaruh kebijakan kesehatan global. Buku ini mengajak pembaca melihat kemungkinan adanya ketegangan antara kebijakan pengendalian rokok dengan keberlangsungan industri kretek nasional. Penulis mempertanyakan bagaimana kebijakan global dapat memengaruhi ruang kedaulatan negara, khususnya dalam menentukan arah kebijakan yang berkaitan dengan petani dan industri lokal. Kelebihan buku ini terletak pada keberaniannya menghadirkan perspektif lintas disiplin. Persoalan kretek dibahas melalui pendekatan agama, sejarah, budaya, ekonomi, dan politik. Pendekatan semacam ini memberikan pemahaman yang lebih luas dibandingkan pembahasan yang hanya berfokus pada hukum merokok. Pembaca memperoleh kesempatan untuk melihat hubungan antara fatwa, tradisi masyarakat, dan kepentingan ekonomi nasional secara lebih menyeluruh. Selain itu, pembaca yang mengharapkan pembahasan medis secara terperinci mungkin belum menemukan jawaban yang memadai dalam buku ini. Kajian kesehatan memerlukan pendekatan dan bukti ilmiah tersendiri, sehingga perspektif tersebut dapat menjadi pelengkap penting bagi diskusi yang dibangun penulis. Catatan ini juga mengemuka dalam kegiatan bedah buku yang menyoroti perlunya pembahasan kesehatan dan perlindungan perokok dini. Pada akhirnya, NU Smoking merupakan buku yang menarik untuk dibaca sebagai upaya memahami hubungan antara agama, kebudayaan, dan kedaulatan bangsa. Buku ini mengingatkan bahwa sebuah fatwa tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari konteks sosial yang melingkupinya. Kretek menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana tradisi keagamaan, kepentingan ekonomi, dan identitas kebangsaan saling berinteraksi. Dengan demikian, NU Smoking layak menjadi bahan bacaan bagi siapa pun yang tertarik pada Islam Nusantara, pemikiran Nahdlatul Ulama, kebudayaan lokal, serta dinamika kebijakan tembakau di Indonesia. Buku ini menawarkan perspektif yang menggugah sekaligus mengundang pembaca untuk melanjutkan diskusi secara lebih kritis dan berimbang. |
| 650 | # | # | $a RELIGION |
| 700 | 0 | # | $a Guyanie, Gugun El |
| 990 | # | # | $a 034726111 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :