Cite This        Tampung        Export Record
Judul Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America / Imogen Knox
Pengarang Knox, Imogen
EDISI 1
Penerbitan Switzerland : Palgrave Macmillan, 2026
Deskripsi Fisik xiii, 315 hlm. :ill. ;25 cm.
ISBN 978-3-032-16506-0
Subjek Suicide—Great Britain—History
Abstrak Buku Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America merupakan kajian sejarah sosial dan sejarah agama yang menginvestigasi hubungan antara bunuh diri, pengalaman supranatural, dan kepercayaan religius pada masyarakat Britania serta New England selama periode modern awal. Penelitian ini berangkat dari kritik terhadap historiografi bunuh diri yang selama ini lebih banyak memanfaatkan catatan koroner sehingga hanya merekam kasus yang berakhir dengan kematian. Penulis menawarkan pendekatan berbeda dengan menggunakan sumber-sumber mengenai kerasukan setan, pengusiran setan, pamflet keagamaan, kesaksian spiritual, kisah mukjizat, tulisan teologis, serta berbagai dokumen yang menggambarkan pengalaman individu ketika menghadapi dorongan untuk mengakhiri hidup. Melalui pendekatan tersebut, penulis merekonstruksi bagaimana masyarakat Protestan memahami pikiran bunuh diri sebagai bagian dari pergulatan antara manusia, dosa, dan godaan iblis. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat modern awal tidak semata-mata menganggap bunuh diri sebagai tindakan kriminal atau dosa, tetapi juga sebagai bentuk serangan supranatural terhadap jiwa manusia. Dalam kerangka tersebut, individu yang mengalami keinginan bunuh diri dipandang sedang menghadapi cobaan spiritual yang memerlukan dukungan keluarga, komunitas, serta praktik keagamaan seperti doa, pertobatan, pembacaan Kitab Suci, dan pendampingan rohani. Buku ini juga memperlihatkan bagaimana narasi mengenai sihir, kerasukan, dan aktivitas iblis menjadi sarana untuk mengekspresikan penderitaan psikologis yang pada masa kini mungkin dipahami melalui konsep kesehatan mental. Dengan menghubungkan sejarah bunuh diri, sejarah emosi, sejarah agama, dan sejarah kesehatan mental, karya ini memberikan perspektif baru mengenai pengalaman manusia pada masa modern awal. Penulis menegaskan bahwa pemahaman terhadap bunuh diri harus ditempatkan dalam konteks budaya, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat pada zamannya sehingga tidak dapat dijelaskan hanya melalui pendekatan hukum atau medis. Buku ini menjadi kontribusi penting bagi studi sejarah Eropa, sejarah kolonial Amerika, sejarah agama, sejarah emosi, dan historiografi kesehatan mental. Imogen Knox menunjukkan bahwa masyarakat Protestan pada masa tersebut memahami dorongan bunuh diri bukan semata sebagai tindakan kriminal atau dosa, tetapi juga sebagai bentuk godaan iblis (demonic temptation) yang mengancam keselamatan jiwa manusia. Dengan memanfaatkan berbagai sumber sejarah seperti catatan gereja, pamflet, kisah kerasukan, laporan pengusiran setan, tulisan keagamaan, hingga dokumen sosial, penulis merekonstruksi bagaimana individu mengalami keinginan bunuh diri serta bagaimana keluarga, komunitas, dan tokoh agama merespons pengalaman tersebut. Melalui analisis lintas wilayah antara Britania dan New England, buku ini juga memperlihatkan bagaimana gagasan mengenai iblis, kerasukan, serta bunuh diri menyebar dan berkembang dalam masyarakat Protestan Atlantik. Secara keseluruhan, karya ini memberikan kontribusi penting terhadap historiografi bunuh diri, sejarah emosi, sejarah agama, dan sejarah kesehatan mental dengan menunjukkan bahwa pengalaman bunuh diri pada masa modern awal tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif hukum atau medis, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka budaya religius dan kepercayaan supranatural masyarakat saat itu. ANOTASI Buku ini merupakan hasil penelitian sejarah yang memadukan pendekatan sejarah sosial, sejarah budaya, sejarah agama, sejarah emosi, dan sejarah kesehatan mental untuk menjelaskan bagaimana masyarakat Britania dan New England pada abad ke-16 hingga awal abad ke-18 memahami fenomena bunuh diri. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang berfokus pada aspek hukum melalui catatan koroner, Imogen Knox menggunakan sumber-sumber alternatif berupa narasi kerasukan setan, kisah pengusiran roh jahat, traktat teologi Protestan, pamflet populer, autobiografi religius, catatan pengalaman pertobatan, laporan mukjizat, serta berbagai dokumen gerejawi guna merekonstruksi pengalaman orang-orang yang mengalami pikiran bunuh diri maupun mereka yang berhasil diselamatkan sebelum melakukan tindakan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan penulis mengkaji dimensi psikologis dan emosional yang sebelumnya kurang memperoleh perhatian dalam historiografi. Isi buku dibagi menjadi delapan bab yang tersusun secara sistematis. Bab pertama menjelaskan kerangka konseptual mengenai bunuh diri, istilah-istilah yang digunakan masyarakat modern awal, sumber penelitian, serta pendekatan historiografi. Bab kedua membahas perkembangan konsep bunuh diri di Britania dan New England. Bab ketiga menguraikan hubungan antara godaan iblis, kerasukan, dan dorongan bunuh diri sebagai bagian dari kepercayaan religius Protestan. Bab keempat menganalisis pengalaman emosional individu yang mengalami penderitaan batin dan pergulatan spiritual. Bab kelima mengkaji respons keluarga, masyarakat, pendeta, dan komunitas terhadap individu yang dianggap sedang berada dalam pengaruh kekuatan supranatural. Bab keenam menunjukkan bagaimana pengalaman pertobatan dan penyelenggaraan providensi ilahi dipahami sebagai proses penyelamatan dari keinginan bunuh diri. Bab ketujuh menguraikan berbagai strategi spiritual, sosial, dan religius yang diyakini mampu mengatasi keinginan bunuh diri, sedangkan bab terakhir menyajikan sintesis mengenai hubungan antara bunuh diri, supranatural, emosi, dan pembentukan identitas religius masyarakat modern awal. Kontribusi utama buku ini terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan studi bunuh diri dengan sejarah supranatural, sesuatu yang sebelumnya jarang dilakukan dalam historiografi. Penulis menunjukkan bahwa keyakinan terhadap iblis bukan sekadar bentuk takhayul, melainkan kerangka budaya yang digunakan masyarakat untuk memahami penderitaan psikologis, rasa putus asa, dan pergulatan batin. Buku ini juga memperlihatkan bahwa pengalaman bunuh diri dipandang sebagai pengalaman kolektif yang melibatkan keluarga, gereja, dan komunitas, bukan semata persoalan individu. Oleh karena itu, karya ini menjadi referensi penting bagi peneliti sejarah agama, sejarah kesehatan mental, sejarah budaya, demonologi, sejarah emosi, serta studi mengenai masyarakat Britania dan Amerika kolonial pada periode modern awal
Catatan Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America mengajak pembaca memahami kembali makna bunuh diri dalam masyarakat Britania dan New England antara abad keenam belas hingga awal abad kedelapan belas. Pada masa tersebut, bunuh diri tidak dipandang hanya sebagai tindakan kriminal atau dosa pribadi, tetapi sebagai bagian dari peperangan spiritual antara manusia dan kekuatan supranatural. Melalui telaah mendalam terhadap berbagai sumber primer, Imogen Knox memperlihatkan bahwa masyarakat Protestan meyakini iblis memiliki kemampuan menanamkan godaan, keputusasaan, dan dorongan untuk mengakhiri hidup, meskipun keputusan akhir tetap berada pada tanggung jawab moral individu. Buku ini menunjukkan bahwa pengalaman bunuh diri pada masa modern awal jauh lebih kompleks daripada gambaran yang diberikan oleh dokumen hukum. Banyak individu mengalami pergulatan batin yang panjang, rasa takut kehilangan keselamatan jiwa, kecemasan terhadap dosa, serta konflik emosional yang kemudian diekspresikan melalui b
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai
Lokasi Akses Online https://link.springer.com/book/10.1007/978-3-032-30174-1
https://doi.org/10.1007/978-3-032-30174-1

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
253926192 364.152 44 Kno s Baca Online Perpustakaan Pusat - Online Resources
Ebook
Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000169597
005 20260727012751
007 ta
008 260727################|##########|#|##
020 # # $a 978-3-032-16506-0
035 # # $a 0010-0726000094
082 # # $a 364.152 44
084 # # $a 364.152 44 Kno s
100 0 # $a Knox, Imogen
245 1 # $a Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America /$c Imogen Knox
250 # # $a 1
260 # # $a Switzerland :$b Palgrave Macmillan,$c 2026
300 # # $a xiii, 315 hlm. : $b ill. ; $c 25 cm.
500 # # $a Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America mengajak pembaca memahami kembali makna bunuh diri dalam masyarakat Britania dan New England antara abad keenam belas hingga awal abad kedelapan belas. Pada masa tersebut, bunuh diri tidak dipandang hanya sebagai tindakan kriminal atau dosa pribadi, tetapi sebagai bagian dari peperangan spiritual antara manusia dan kekuatan supranatural. Melalui telaah mendalam terhadap berbagai sumber primer, Imogen Knox memperlihatkan bahwa masyarakat Protestan meyakini iblis memiliki kemampuan menanamkan godaan, keputusasaan, dan dorongan untuk mengakhiri hidup, meskipun keputusan akhir tetap berada pada tanggung jawab moral individu. Buku ini menunjukkan bahwa pengalaman bunuh diri pada masa modern awal jauh lebih kompleks daripada gambaran yang diberikan oleh dokumen hukum. Banyak individu mengalami pergulatan batin yang panjang, rasa takut kehilangan keselamatan jiwa, kecemasan terhadap dosa, serta konflik emosional yang kemudian diekspresikan melalui bahasa religius dan supranatural. Dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen Protestan, pengalaman psikologis tersebut dipahami sebagai serangan iblis, cobaan iman, atau bentuk gangguan supranatural yang membutuhkan intervensi spiritual. Selain memusatkan perhatian pada individu yang mengalami pikiran bunuh diri, penulis juga menggambarkan bagaimana keluarga, tetangga, pemimpin gereja, dan komunitas memainkan peran penting dalam proses penyembuhan. Dukungan sosial, doa bersama, pembacaan Kitab Suci, konseling pastoral, hingga praktik eksorsisme dipandang sebagai upaya melindungi seseorang dari pengaruh kekuatan jahat. Dengan demikian, pengalaman bunuh diri tidak pernah dipahami sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai persoalan komunitas yang menyangkut keselamatan bersama. Melalui delapan bab yang saling berkaitan, penulis menghubungkan sejarah bunuh diri dengan sejarah emosi, sejarah agama, sejarah kesehatan mental, sejarah sihir, dan sejarah demonologi. Ia juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat memahami penderitaan psikologis dari penjelasan yang didasarkan pada kekuatan supranatural menuju pendekatan medis dan psikiatris pada masa berikutnya. Analisis ini memberikan kontribusi penting terhadap historiografi modern karena menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kesehatan mental selalu dibentuk oleh konteks budaya, agama, dan sosial pada setiap zaman. Secara keseluruhan, buku ini merupakan karya akademik yang menawarkan perspektif baru mengenai sejarah bunuh diri dengan menempatkan pengalaman manusia, emosi, keyakinan religius, dan budaya supranatural sebagai satu kesatuan analisis. Karya ini sangat bermanfaat bagi peneliti sejarah modern awal, sejarah agama, ilmu perpustakaan, sejarah kesehatan mental, kajian budaya, maupun studi mengenai hubungan antara agama dan masyarakat, karena memperlihatkan bagaimana sistem kepercayaan membentuk cara manusia memahami penderitaan, identitas diri, dan makna kehidupan.
520 # # $a Buku Suicide and the Supernatural in Early Modern Britain and America merupakan kajian sejarah sosial dan sejarah agama yang menginvestigasi hubungan antara bunuh diri, pengalaman supranatural, dan kepercayaan religius pada masyarakat Britania serta New England selama periode modern awal. Penelitian ini berangkat dari kritik terhadap historiografi bunuh diri yang selama ini lebih banyak memanfaatkan catatan koroner sehingga hanya merekam kasus yang berakhir dengan kematian. Penulis menawarkan pendekatan berbeda dengan menggunakan sumber-sumber mengenai kerasukan setan, pengusiran setan, pamflet keagamaan, kesaksian spiritual, kisah mukjizat, tulisan teologis, serta berbagai dokumen yang menggambarkan pengalaman individu ketika menghadapi dorongan untuk mengakhiri hidup. Melalui pendekatan tersebut, penulis merekonstruksi bagaimana masyarakat Protestan memahami pikiran bunuh diri sebagai bagian dari pergulatan antara manusia, dosa, dan godaan iblis. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat modern awal tidak semata-mata menganggap bunuh diri sebagai tindakan kriminal atau dosa, tetapi juga sebagai bentuk serangan supranatural terhadap jiwa manusia. Dalam kerangka tersebut, individu yang mengalami keinginan bunuh diri dipandang sedang menghadapi cobaan spiritual yang memerlukan dukungan keluarga, komunitas, serta praktik keagamaan seperti doa, pertobatan, pembacaan Kitab Suci, dan pendampingan rohani. Buku ini juga memperlihatkan bagaimana narasi mengenai sihir, kerasukan, dan aktivitas iblis menjadi sarana untuk mengekspresikan penderitaan psikologis yang pada masa kini mungkin dipahami melalui konsep kesehatan mental. Dengan menghubungkan sejarah bunuh diri, sejarah emosi, sejarah agama, dan sejarah kesehatan mental, karya ini memberikan perspektif baru mengenai pengalaman manusia pada masa modern awal. Penulis menegaskan bahwa pemahaman terhadap bunuh diri harus ditempatkan dalam konteks budaya, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat pada zamannya sehingga tidak dapat dijelaskan hanya melalui pendekatan hukum atau medis. Buku ini menjadi kontribusi penting bagi studi sejarah Eropa, sejarah kolonial Amerika, sejarah agama, sejarah emosi, dan historiografi kesehatan mental. Imogen Knox menunjukkan bahwa masyarakat Protestan pada masa tersebut memahami dorongan bunuh diri bukan semata sebagai tindakan kriminal atau dosa, tetapi juga sebagai bentuk godaan iblis (demonic temptation) yang mengancam keselamatan jiwa manusia. Dengan memanfaatkan berbagai sumber sejarah seperti catatan gereja, pamflet, kisah kerasukan, laporan pengusiran setan, tulisan keagamaan, hingga dokumen sosial, penulis merekonstruksi bagaimana individu mengalami keinginan bunuh diri serta bagaimana keluarga, komunitas, dan tokoh agama merespons pengalaman tersebut. Melalui analisis lintas wilayah antara Britania dan New England, buku ini juga memperlihatkan bagaimana gagasan mengenai iblis, kerasukan, serta bunuh diri menyebar dan berkembang dalam masyarakat Protestan Atlantik. Secara keseluruhan, karya ini memberikan kontribusi penting terhadap historiografi bunuh diri, sejarah emosi, sejarah agama, dan sejarah kesehatan mental dengan menunjukkan bahwa pengalaman bunuh diri pada masa modern awal tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif hukum atau medis, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka budaya religius dan kepercayaan supranatural masyarakat saat itu. ANOTASI Buku ini merupakan hasil penelitian sejarah yang memadukan pendekatan sejarah sosial, sejarah budaya, sejarah agama, sejarah emosi, dan sejarah kesehatan mental untuk menjelaskan bagaimana masyarakat Britania dan New England pada abad ke-16 hingga awal abad ke-18 memahami fenomena bunuh diri. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang berfokus pada aspek hukum melalui catatan koroner, Imogen Knox menggunakan sumber-sumber alternatif berupa narasi kerasukan setan, kisah pengusiran roh jahat, traktat teologi Protestan, pamflet populer, autobiografi religius, catatan pengalaman pertobatan, laporan mukjizat, serta berbagai dokumen gerejawi guna merekonstruksi pengalaman orang-orang yang mengalami pikiran bunuh diri maupun mereka yang berhasil diselamatkan sebelum melakukan tindakan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan penulis mengkaji dimensi psikologis dan emosional yang sebelumnya kurang memperoleh perhatian dalam historiografi. Isi buku dibagi menjadi delapan bab yang tersusun secara sistematis. Bab pertama menjelaskan kerangka konseptual mengenai bunuh diri, istilah-istilah yang digunakan masyarakat modern awal, sumber penelitian, serta pendekatan historiografi. Bab kedua membahas perkembangan konsep bunuh diri di Britania dan New England. Bab ketiga menguraikan hubungan antara godaan iblis, kerasukan, dan dorongan bunuh diri sebagai bagian dari kepercayaan religius Protestan. Bab keempat menganalisis pengalaman emosional individu yang mengalami penderitaan batin dan pergulatan spiritual. Bab kelima mengkaji respons keluarga, masyarakat, pendeta, dan komunitas terhadap individu yang dianggap sedang berada dalam pengaruh kekuatan supranatural. Bab keenam menunjukkan bagaimana pengalaman pertobatan dan penyelenggaraan providensi ilahi dipahami sebagai proses penyelamatan dari keinginan bunuh diri. Bab ketujuh menguraikan berbagai strategi spiritual, sosial, dan religius yang diyakini mampu mengatasi keinginan bunuh diri, sedangkan bab terakhir menyajikan sintesis mengenai hubungan antara bunuh diri, supranatural, emosi, dan pembentukan identitas religius masyarakat modern awal. Kontribusi utama buku ini terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan studi bunuh diri dengan sejarah supranatural, sesuatu yang sebelumnya jarang dilakukan dalam historiografi. Penulis menunjukkan bahwa keyakinan terhadap iblis bukan sekadar bentuk takhayul, melainkan kerangka budaya yang digunakan masyarakat untuk memahami penderitaan psikologis, rasa putus asa, dan pergulatan batin. Buku ini juga memperlihatkan bahwa pengalaman bunuh diri dipandang sebagai pengalaman kolektif yang melibatkan keluarga, gereja, dan komunitas, bukan semata persoalan individu. Oleh karena itu, karya ini menjadi referensi penting bagi peneliti sejarah agama, sejarah kesehatan mental, sejarah budaya, demonologi, sejarah emosi, serta studi mengenai masyarakat Britania dan Amerika kolonial pada periode modern awal
650 # # $a Suicide—Great Britain—History
856 # # $a https://doi.org/10.1007/978-3-032-30174-1
856 # # $a https://link.springer.com/book/10.1007/978-3-032-30174-1
990 # # $a 253926192
No Nama File Nama File Format Flash Format File Action
1 978-3-032-30174-1.pdf pdf Download
Content Unduh katalog