Cite This        Tampung        Export Record
Judul Resilient Statehood : Why and How Some Nations Maintained Long-Term Independence and Sovereignty / Editors: Logan Cochrane, Alexandra Wilson
Pengarang Cochrane, Logan
Wilson, Alexandra
EDISI 1
Penerbitan Singapore : Springer Singapore, 2026
Deskripsi Fisik x, 169 hlm. :ilus. ;25 cm.
ISBN 978-981-92-0221-8
Subjek Sovereignty
Nation-state
Nationalism
Abstrak Resilient Statehood berupaya menjawab pertanyaan yang jarang dikaji dalam historiografi dan ilmu politik: mengapa sebagian kecil negara mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya ketika sebagian besar wilayah dunia mengalami kolonialisasi. Berbeda dari kajian yang berfokus pada negara-negara imperialis, buku ini memusatkan perhatian pada negara-negara yang berhasil menolak, menghindari, atau membatasi dominasi kolonial. Melalui pendekatan studi kasus komparatif terhadap Afghanistan, Bhutan, Ethiopia, Iran, Jepang, Thailand, Mongolia, dan Nepal, para penulis mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung ketahanan negara. Faktor tersebut meliputi diplomasi strategis, modernisasi selektif, resistensi militer, isolasionisme terukur, pembangunan identitas nasional, pemanfaatan kondisi geografis, dan kemampuan elite politik dalam memanfaatkan rivalitas kekuatan besar. Anotasi: Buku ini merupakan kontribusi penting dalam kajian ilmu politik, hubungan internasional, sejarah global, studi kolonialisme, dan ketahanan negara. Relevan bagi peneliti politik, sejarah, keamanan internasional, geopolitik, dan pembangunan negara.
Catatan Buku ini menawarkan perspektif yang berbeda dari kebanyakan literatur kolonialisme. Jika sebagian besar kajian berusaha menjelaskan mengapa negara-negara Eropa berhasil membangun imperium kolonial, buku ini justru bertanya: mengapa beberapa negara tidak pernah dijajah atau mampu mempertahankan sebagian besar kedaulatannya? Para editor mengembangkan konsep resilient statehood atau ketahanan negara sebagai kemampuan suatu bangsa mempertahankan kedaulatan politik, identitas nasional, dan otonomi pengambilan keputusan meskipun menghadapi tekanan eksternal yang besar. Melalui delapan studi kasus, buku ini menunjukkan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan keberhasilan tersebut. Geografi yang sulit, misalnya, memang membantu, tetapi tidak cukup tanpa kepemimpinan yang efektif, diplomasi yang cerdas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global. Beberapa kasus menampilkan strategi yang berbeda-beda. Jepang mempertahankan kedaulatan melalui isolasi selektif dan modernisasi terukur. Thailand
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai
Lokasi Akses Online https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-0221-8
https://doi.org/10.1007/978-981-92-0221-8

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
251326192 320.15 Res Baca Online Perpustakaan Pusat - Online Resources
Ebook
Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000168788
005 20260604031205
007 ta
008 260604################|##########|#|##
020 # # $a 978-981-92-0221-8
035 # # $a 0010-0626000033
082 # # $a 320.15
084 # # $a 320.15 Res
245 # # $a Resilient Statehood : $b Why and How Some Nations Maintained Long-Term Independence and Sovereignty /$c Editors: Logan Cochrane, Alexandra Wilson
250 # # $a 1
260 # # $a Singapore :$b Springer Singapore,$c 2026
300 # # $a x, 169 hlm. : $b ilus. ; $c 25 cm.
505 # # $a Buku ini menawarkan perspektif yang berbeda dari kebanyakan literatur kolonialisme. Jika sebagian besar kajian berusaha menjelaskan mengapa negara-negara Eropa berhasil membangun imperium kolonial, buku ini justru bertanya: mengapa beberapa negara tidak pernah dijajah atau mampu mempertahankan sebagian besar kedaulatannya? Para editor mengembangkan konsep resilient statehood atau ketahanan negara sebagai kemampuan suatu bangsa mempertahankan kedaulatan politik, identitas nasional, dan otonomi pengambilan keputusan meskipun menghadapi tekanan eksternal yang besar. Melalui delapan studi kasus, buku ini menunjukkan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan keberhasilan tersebut. Geografi yang sulit, misalnya, memang membantu, tetapi tidak cukup tanpa kepemimpinan yang efektif, diplomasi yang cerdas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global. Beberapa kasus menampilkan strategi yang berbeda-beda. Jepang mempertahankan kedaulatan melalui isolasi selektif dan modernisasi terukur. Thailand menggunakan diplomasi fleksibel (bamboo diplomacy) dan soft power untuk menyeimbangkan pengaruh Inggris dan Prancis. Afghanistan memanfaatkan kondisi geografis dan fragmentasi sosial untuk menghambat kontrol kolonial. Iran mengandalkan identitas peradaban yang kuat, posisi geopolitik strategis, dan kohesi budaya. Ethiopia mempertahankan kemerdekaan melalui kombinasi kepemimpinan, nasionalisme, diplomasi, dan kemenangan militer atas Italia. Bab penutup menyusun kerangka teoritis yang mengelompokkan faktor ketahanan negara ke dalam dua kategori besar: agency-driven strategies (diplomasi, modernisasi, resistensi, pembangunan identitas nasional) dan intrinsic factors (geografi, posisi geopolitik, ekonomi, serta kondisi sosial budaya). Kerangka ini menegaskan bahwa ketahanan negara merupakan hasil interaksi antara faktor internal dan eksternal, bukan akibat satu determinan tunggal. Secara keseluruhan, buku ini memberikan kontribusi teoritis yang kuat terhadap studi kedaulatan, nasionalisme, kolonialisme, dan hubungan internasional. Karya ini sangat bermanfaat bagi akademisi yang meneliti ketahanan negara, geopolitik, strategi nasional, serta dinamika kekuasaan global.
520 # # $a Resilient Statehood berupaya menjawab pertanyaan yang jarang dikaji dalam historiografi dan ilmu politik: mengapa sebagian kecil negara mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya ketika sebagian besar wilayah dunia mengalami kolonialisasi. Berbeda dari kajian yang berfokus pada negara-negara imperialis, buku ini memusatkan perhatian pada negara-negara yang berhasil menolak, menghindari, atau membatasi dominasi kolonial. Melalui pendekatan studi kasus komparatif terhadap Afghanistan, Bhutan, Ethiopia, Iran, Jepang, Thailand, Mongolia, dan Nepal, para penulis mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung ketahanan negara. Faktor tersebut meliputi diplomasi strategis, modernisasi selektif, resistensi militer, isolasionisme terukur, pembangunan identitas nasional, pemanfaatan kondisi geografis, dan kemampuan elite politik dalam memanfaatkan rivalitas kekuatan besar. Anotasi: Buku ini merupakan kontribusi penting dalam kajian ilmu politik, hubungan internasional, sejarah global, studi kolonialisme, dan ketahanan negara. Relevan bagi peneliti politik, sejarah, keamanan internasional, geopolitik, dan pembangunan negara.
650 # # $a Nation-state
650 # # $a Nationalism
650 # # $a Sovereignty
700 1 # $a Cochrane, Logan
700 0 # $a Wilson, Alexandra
856 # # $a https://doi.org/10.1007/978-981-92-0221-8
856 # # $a https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-92-0221-8
990 # # $a 251326192
No Nama File Nama File Format Flash Format File Action
1 978-981-92-0221-8.pdf pdf Download
Content Unduh katalog