Page 49 - index
P. 49
Bab 21: Netnografi dan Studi tentang Komunitas Cyberspace
efektif dalam menyampaikan kisah sosial yang muncul di era masyarakat
post-industrial. Meski dalam era masyarakat post-industrial subjek kajian
dalam netnography banyak dipengaruhi kehadiran teknologi informasi
dan perkembangan komunitas di dunia maya, tetapi yang namanya kisah
tetap saja hidup hanya cara pengumpulan data dan penyampaiannya saja
yang berubah (Murthy, 2008).
Dalam etnografi virtual atau netnography, data yang dikumpulkan
tidak hanya kisah-kisah yang dituturkan secara lisan oleh subjek dan hasil
amatan fisik, tetapi juga data-data yang digali dari berbagai perangkat
komunikasi yang berkembang di dunia maya, seperti blog, jejaring sosial
seperti e-mail, facebook, dan twitter. Sebagai sebuah metode, etnografi
PRENADAMEDIA GROUP
menganalisis praktik manusia dalam konteks budaya, dan karena sekarang
internet adalah bagian dari budaya kita—dengan makna, simbol, dan
sistem konsepsi yang diekspresikan ke dalam bentuk-bentuk simbolis
dengan bantuan komunikasi yang mengabadikan dan mengembangkan
pengetahuan mereka mengenai sikap terhadap kehidupan—,maka
melakukan penelitian etnografi di era masyarakat post-industrial berarti
peneliti tidak hanya dituntut untuk akurat, peka dan reflektif terhadap
subjek analisis dirinya, tetapi juga peka dan reflektif terhadap konteks
di mana etnografi dilakukan dan diadakan (Benelto-Montagut, 2011).
Mengapa dalam penelitian tentang komunitas cyberspace, termasuk
di dalamnya net generation perlu dikembangkan metode yang spesifik
seperti netnography? Garcia et al. (2009) secara perinci menyatakan alasan
mengapa etnografi atau netnography perlu mengembangkan metode
yang lebih khusus ketika mengkaji subjek seperti net generation adalah:
Pertama, karena ahli etnografi tidak dapat secara langsung mengamati
orang yang sedang ia pelajari, yang merupakan sifat dari perubahan
observasi. Kedua, kemampuan merekam peristiwa, interaksi, dan lokasi
secara teknologi dalam pengaturan riset online mengubah peranan catatan
lapangan dan bagaimana penemuan dilaporkan. Ketiga, sifat data online
(yakni materi tekstual dan visual bukan pembicaraan dan tindakan orang)
membutuhkan keahlian berbeda untuk memahami dan menganalisisnya.
Keempat, etnografi internet/KMK yang ada cenderung mengistimewakan
fenomena berbasis teks dengan mengabaikan fenomena visual. Kelima,
penggunaan suara dan pergerakan dalam situs web sedang dianalisis
dalam karya etnografi online.
Sebelum melakukan proses pengumpulan data dan melakukan
wawancara yang mendalam, dalam penelitian netnography, seperti juga
261

