Page 440 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 440

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik








             PRAKTIK PEMAKNAAN PEMUSTAKA DIGITAL
                  NATIVES ATAS RUANG PERPUSTAKAAN




                                    Endang Fatmawati
                       1
                        Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia
                                     eenfat@yahoo.com





                                         Abstrak

            Tujuan  penelitian  ini  adalah  mendapatkan  gambaran  yang  komprehensif
            sekaligus  melakukan  analisis  kritis  terhadap  representasi  ruang  perpustakaan
            dan  praktik  konsumsi  oleh  pemustaka  digital  natives atas ruang  perpustakaan.
            Metode  penelitian  menggunakan  etnografi,  dengan  teknik  pengumpulan  data
            menggunakan observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian
            menunjukkan representasi ruang menjadi dominan karena reformulasi konstruksi
            ruang  perpustakaan  awalnya  adalah  mengarahkan  pemustaka  digital  natives.
            Ruang perpustakaan sebagai ruang paradoks. Ada regulasi yang bias mayoritas
            dan efisien yang tidak efisien. Ruang perpustakaan menjadi ruang produksi tetapi
            maknanya berbeda. Kapitalisasi perpustakaan menjadi dominan. Logika industrial
            dipakai oleh perpustakaan. Mediatisasi juga terjadi dalam konteks perpustakaan.
            Teknologisasi  di  perpustakaan  memunculkan  irasionalitas  dan  dehumanisasi
            sehingga  mengurangi  relasi  sosial.  Dalam  praktik  sosial,  pemustaka  digital
            natives memiliki  agency  tersendiri  dalam  mengkonsumsi  ruang  perpustakaan.
            Ruang  perpustakaan  menjadi  ruang  yang  bisa  ditembus,  artinya  sebagai  ruang
            yang menghapuskan sekat antara kerja dan nonkerja. Beberapa aktivitas ketika
            pemustaka digital natives menjadikan ruang perpustakaan sebagai ruang leisure,
            yaitu:  mendapatkan  kebebasan  dari  tekanan  sosial,  lingkungan,  dan  domestik;
            mencari hiburan karena menggunakan ruang tidak untuk memproduksi ide tetapi
            untuk kesenangan yang lain; sebagai ruang katarsis, yaitu sebagai bentuk pelarian
            diri dari space yang tidak nyaman maupun dari berbagai struktur formal. Ruang
            perpustakaan tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan dengan label birokrasi
            yang sulit, namun telah bergeser menjadi ruang publik yang dinamis dan cair.
            Ruang perpustakaan juga sebagai ruang alternatif untuk mencari kebebasan bagi
            pemustaka digital natives dalam melakukan aktivitas. Pemustaka digital natives



            420           Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan
   435   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445