Page 443 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 443
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
oleh gagasan Marx tentang produksi dalam kapital masyarakat industrial.
Barometer dari proses sosial masyarakat industrial adalah unsur keuntungan
kapital seperti uang, menggantikan hubungan keluarga, ras, agama,
sehingga Marx mengkategorikan sebagai production of capital dalam
masyarakat modern.
Konsep triadic mengenai ruang menurut Lefebvre (1991) menyadarkan
tentang pemahaman sejarah ruang. Bagaimana ruang-ruang itu hadir dan
dihadirkan, kemudian bagaimana produksi sosial atas ruang perpustakaan
terkait dengan mode produksi dan budaya di dalamnya akan mengungkap
perubahan dalam produksi ruang dan demikian sebaliknya. Mengenai
karakter dari triadic dapat dilihat pada Tabel I.1 berikut:
Tabel I.1 Karakter Spatial Triads
No Dimensi Karakter
1. Spatial Practice Perceived
2. Representations of Space Conceived
3. Representational Space Lived
Sumber: Lefebvre (1991).
Triad konseptual tersebut yang kemudian dimaksud sebagai praktik
memproduksi ruang yang dilakukan oleh manusia melalui relasi produksi
pada sebuah relasi dan praktik sosial. Ketiga dimensi ruang Lefebvre
tersebut secara etnografi akan dideskripsikan tentang bagaimana ruang
perpustakaan dimaknai dan bagaimana ruang perpustakaan dihidupi oleh
pemustaka digital natives. Dalam pandangan Lefebvre, dalam ruang sosial
ada suatu realitas yang diyakini memiliki level-level ruang, seperti:
1. Level persepsi (perceived), yaitu ruang perpustakaan dapat dipersepsi
oleh semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap,
dan peraba). Bangunan persepsi merupakan komponen integral dalam
praktik sosial yang langsung terhubung dengan elemen material ruang.
2. Level konsepsi (conceived), yaitu sebuah ruang tidak bisa dipersepsi
jika tidak ada konsepsi atas keruangannya. Jadi ketika konsepsi ruang
perpustakaan telah terbentuk maka level keruangannya akan dibatasi
dan dilambangkan sebagai pra-asumsi pikiran yang terhubung dengan
produksi pengetahuan (keruangan).
3. Level pengalaman (lived), yaitu status sebuah ruang tidak cukup
syarat jika eksistensinya terbatas persepsi dan konsepsi keruangan.
Keberadaan sebuah ruang perpustakaan menjadi utuh jika sesuatu yang
dimaksud ruang itu pernah dirasakan atau dialami oleh pemustaka
digital natives. Dalam hal ini lived tersebut merupakan sebuah
pergumulan atau pengalaman yang nyata seseorang terhadap sebuah
ruang (lived experience of space).
Endang Fatmawati 423

