Page 448 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 448
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
natives. Penggunaan media online dalam melakukan penelusuran informasi
ilmiah pada generasi digital natives dipengaruhi pula oleh gaya belajarnya.
Digital Natives di Kalangan Remaja
Era globalisasi mempengaruhi pergeseran budaya khususnya
di kalangan remaja yang cenderung lebih konsumtif. Masa remaja
merupakan masa pencarian jati diri. Label remaja digital natives
mencerminkan kelompok remaja yang identik selalu terkoneksi dengan
internet dalam aktivitas kesehariannya. Mereka terlahir di masa teknologi
sedang berkembang. Remaja cenderung memiliki gaya hidup meniru dan
menginginkan adanya kebebasan. Digital natives yang tergolong remaja,
bahwa perihal mengkonsumsi bukan hanya karena faktor kebutuhan,
namun ada faktor lainnya yang dikejar dibalik kebutuhan gawai yang
dibawanya.
Faktor gengsi dan mengikuti tren menjadi pemicu. Demi mengikuti
lifestyle, mereka mengejar status sosial dan harga diri. Faktor yang menjadi
pendorong tersebut tiada lain menyangkut persoalan “tanda”. Artinya
tidak ada kontrol sosial yang menjadi pembatas budaya yang berkontestasi
di kalangan remaja di era digital. Gawai bukan sekedar sesuatu yang
memenuhi kebutuhan dasar pemustaka digital natives, tetapi motivasi
konsumsi yang muncul justru lebih berfungsi sebagai lambang atau
simbol status sosial saja. Untuk membedakan kelompok sosial, misalnya
mereka ke ruang Perpustakaan UGM dengan membawa gawai merek
terkenal yang harganya mahal. Jika mengacu pada Bourdieu (1984) bahwa
kegiatan konsumtif merupakan pencarian distinction. Perilaku konsumtif
yang dilakukan oleh remaja digital natives untuk tujuan pembedaan sosial.
Artinya ada kekuatan yang mendorong perilaku remaja digital natives
untuk terlihat lebih “kelas” daripada remaja lainnya. Mereka sengaja
melakukan itu untuk menunjukkan sesuatu yang lebih berbeda. Pemustaka
mengkonsumsi gawai dan ruang perpustakaan karena ingin terlihat ada
jarak sosial. Pada saat pemustaka mengunjungi ruang Perpustakaan UGM,
mereka menunjukkan berpenampilan berbeda dengan membawa berbagai
gawai, untuk menunjukkan bahwa mereka adalah generasi digital natives.
Contoh upaya distinction terkait konsumtif dalam arena kultural remaja,
ditunjukkan melalui: gawai yang dibawanya, aktivitas perilaku saat berada
di ruang perpustakaan, maupun pilihan jenis ruang di Perpustakaan UGM.
Gawai menjadi sesuatu yang lekat dengan remaja digital natives.
Pada tataran ini, kegiatan konsumtif membawa gawai menjadikan adanya
perbedaan kelas sosial antar individu pemustaka. Selanjutnya konsumsi
ruang Perpustakaan UGM oleh pemustaka digital natives juga menunjukkan
adanya praktik pemaknaan yang ditonjolkan. Persoalan mengkonsumsi
428 Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan

