Page 445 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 445
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
hidup di dalam ruang. Hal ini menunjukkan dunia seperti yang dialami
oleh pemustaka digital natives dalam praktik kehidupan sehari-hari di
ruang perpustakaan. Dalam Lefebvre (1991: 33) disebutkan bahwa:
“Representational spaces, embodying complex symbolisms,
some-times coded, sometimes not, linked to the clandestine or
under-ground side of social life, as also to art (which may come
eventually to be defined less as a code of space than as a code of
representational spaces).”
Ruang representasional dapat diketahui adanya perwujudan
simbolisme yang kompleks, kadang-kadang semacam kode, seperti
artikulasi tindakan, perilaku, hasrat, ritual tertentu maupun gaya hidup
yang sebagaimana dikonseptualisasikan di dalam representasi ruang.
Kemudian apabila dilihat dari konsep Lefebvre (1991) mengenai ruang
tersebut, maka ruang perpustakaan yang digunakan oleh pemustaka
digital natives bisa saya sebut juga sebagai ruang representasi, artinya
menjadi ruang yang secara langsung memang digunakan oleh mereka.
B. McDonaldisasi Ritzer
Istilah “McDonaldisasi” pertama kali digunakan oleh George Ritzer
(sosiolog Amerika) tahun 1996 dalam bukunya McDonaldization of Society.
Ritzer (2013) memunculkan McDonaldisasi dengan membahas prinsip
restoran fast food yang hadir dan mendominasi di lebih banyak sektor
kehidupan Amerika dan di berbagai belahan lain dunia. Keempat prinsip dari
Mc Donaldisasi dari Ritzer (2013: 21) terdiri dari: efisiensi, keterprediksian,
kuantifikasi, dan teknologisasi. Prinsip efisiensi (efficiency) berarti
menyangkut produktivitas kerja. Prinsip keterprediksian (predictability)
diartikan bisa diperkirakan. Prinsip kuantifikasi (calculability) dikenal
dengan sebutan daya hitung atau kalkulasi. Artinya kuantitas menentukan
kualitas, sehingga dalam prinsip kuantifikasi adalah lebih mementingkan
kuantitas daripada kualitas. Selanjutnya prinsip teknologisasi (non-
human) adalah sebuah proses penggantian manusia dengan menggunakan
teknologi.
C. Habitus, Gaya Hidup, dan Distingsi Bourdieu
Menurut Bourdieu (1998: 4) bahwa konsep habitus tidak bisa
dipisahkan dari konsep arena (champ). Hal ini karena memiliki hubungan
dua arah, yaitu struktur - struktur obyektif (struktur - struktur bidang
sosial) dan struktur - struktur yang telah terintegrasi pada pelaku (struktur
- struktur habitus). Begitu juga konsep distingsi tidak bisa dilepaskan
dari konsep Bourdieu lainnya, seperti: habitus, arena, maupun kapital,
Endang Fatmawati 425

