Page 449 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 449

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            gawai dan mengkonsumsi ruang bukan hanya berfungsi sebagai sebuah
            kegunaan, namun ada selera yang ingin ditampilkan. Era digital membuat
            remaja juga dimanjakan dengan banyaknya aplikasi permainan (games)
            yang  bisa  diunduh  secara  gratis  atau  dengan  berbayar.  Remaja  digital
            natives  menjadikan  internet  sebagai  sumber  informasi  utama.  Remaja
            digital natives yang lekat dan menguasai teknologi digital memungkinkan
            dirinya selalu eksis dalam cyberspace.


              2. REPRESENTASI RUANG PERPUSTAKAAN SEBAGAI RUANG
                              KONTESTASI KEPENTINGAN
                Dalam konteks penelitian ini, representasi ruang yang dimaksud adalah
            representasi  ruang  Perpustakaan  UGM.  Konsepsi  tersebut  bisa  berupa
            konsep  yang  tercetak  maupun  tidak,  yang  menghadirkan  representasi
            ruang yang mampu mengintervensi serta memodifikasi situasi dan ruang.
            Untuk  yang  tercetak  misalnya  sudah  nampak  jelas  seperti  pada  denah
            ruang yang tertempel pada dinding di masing-masing ruangan, sedangkan
            yang tidak tercetak adalah berupa gagasan dalam pikiran perancang ruang.
            Dapat dikatakan bahwa representasi ruang Perpustakaan UGM merupakan
            ruang  terkonsepsi  atau  ruang  terkonstruksi  oleh  konseptor  yang  dihiasi
            dengan berbagai tanda dan jargon, maupun rencana dan paradigma yang
            digunakan oleh para agen.
                Representasi ruang merupakan bentuk gagasan tata ruang yang telah
            dibangun oleh Perpustakaan UGM berikut dengan aturan atau sistem dalam
            penggunaan ruang tersebut. Dalam konteks ini terkait  dengan bahasan
            representasi ruang perpustakaan sebagai kontestasi beragam kepentingan.
            Ruang di Perpustakaan UGM tidak hadir dengan sendirinya. Artinya dalam
            pengembangan ruang perpustakaan termasuk mengatur ruang, bagaimana
            mendesain,  menempatkan  beberapa  furnitur,  menempatkan  perangkat
            aparatus-aparatus,  dan  komponen  yang  lainnya  di  ruang  Perpustakaan
            UGM, sebenarnya sudah digerakkan oleh kepentingan-kepentingan lain di
            luar UGM.

            Ruang Perpustakaan Sebagai Arena
                Ruang Perpustakaan UGM dapat dianalogikan sebagai sistem “arena
            (field)”, yaitu medan atau lapangan yang memiliki berbagai “daya yang
            saling tarik-menarik”. Bourdieu mengistilahkan sebagai arena perjuangan
            (field  of  struggle)  atau  konflik.  Modal  menjadi  kekuatan  spesifik  yang
            beroperasi di dalam ruang Perpustakaan UGM, sehingga kepemilikan modal
            berpengaruh  terhadap  eksistensi  dan  praktik  yang  terjadi.  Kepentingan
            eksternal  dalam  konteks  penelitian  ini  maksudnya  ada  kepentingan-
            kepentingan di luar UGM, sehingga ada tarik-menarik bagaimana pihak


            Endang Fatmawati                                              429
   444   445   446   447   448   449   450   451   452   453   454