Page 454 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 454
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
ini, diketahui bahwa pemustaka digital natives itu salah satu cirinya
adalah tidak fokus pada suatu aktivitas saja, melainkan multitasking,
sehingga misalnya mereka bisa belajar sambil menonton TV dan sambil
makan. Perpustakaan UGM dalam kenyataannya juga tidak efektif dalam
penggunaan dan pemanfaatannya dalam mendukung civitas akademik di
UGM sendiri. Pendekatan kritisnya bisa dilihat dari spirit UGM yang
“mengakar kuat menjulang tinggi”. Perpustakaan UGM hanya berkutat
pada bagaimana supaya bisa eksis ke luar, gedung perpustakaan yang
megah, ruang-ruang yang bervariasi, fasilitas corner-corner, maupun
terakreditasi. Kondisi yang demikian seolah-olah yang dipikirkan hanya
menjulang tingginya saja.
Ruang perpustakaan dikonsepkan hanya untuk mendukung pihak
eksternal yang mayoritas dan melanggengkan konstruksi yang dominan
saja. Dalam hal ini berarti ada ambivalensi, karena Perpustakaan UGM
sudah membangun gedung perpustakaan yang bertaraf internasional yang
menyediakan banyak jenis ruang, namun sekaligus juga menggandeng
pihak luar sehingga memunculkan ruang dalam bentuk corner-corner.
Selanjutnya upaya untuk “mengakar kuatnya” menjadi tidak ada, artinya
hanya berorientasi keluar saja yang ditonjolkan. Padahal Perpustakaan
UGM bisa lebih berperan dalam konteks “mengakar kuat” misalnya
bagaimana membuat civitas akademik memiliki minat baca yang tingi,
membuat mereka suka membaca, mengoptimalkan koleksi elektronik yang
telah dilanggan dengan biaya yang mahal, dan yang lainnya, sejauh ini
belum dilakukan.
3. PRAKTIK KONSUMSI RUANG PERPUSTAKAAN OLEH
PEMUSTAKA DIGITAL NATIVES
Ruang Produktif dan Ruang Leisure
Dalam konteks praktik mengkonsumsi ruang Perpustakaan UGM
oleh pemustaka digital natives, temuan penelitian memperlihatkan bahwa
pemustaka digital natives mengkonsumsi ruang Perpustakaan UGM untuk
menghabiskan waktu luang (leisure) dan ruang yang dapat menghasilkan
uang (producing money). Kondisi ruang perpustakaan yang secara
representasi ruang diset dengan sistem terbuka, menjadi peluang bagi
pemustaka digital natives untuk melakukan praktik sosialnya. Dalam hal
ini, Lefebvre (1991) mengemukakan perspektif ruang sosial sebagai hasil
dari serangkaian relasi yang mewujud dalam praktik spasial. Konsep ini
merujuk pada dimensi berbagai praktik dan aktivitas serta relasi sosial. Jika
merujuk pada Bourdieu, bahwa dominan mengacu pada kekuasaan atas
kontrol. Dengan demikian, hanya melalui hubungan yang bersifat sosio-
434 Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan

