Page 457 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 457
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
mereka bisa bebas menerabas aturan yang ada. Dalam konteks ini, ruang
perpustakaan menjadi bentuk pelarian diri (escape) mereka dari berbagai
struktur birokrasi yang ada di luar perpustakaan. Pemustaka digital natives
berupaya untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan, dan memiliki
hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan (diversion) di ruang
Perpustakaan UGM. Lefebvre (1991) menyebut bahwa ruang representasi
merupakan ruang yang penuh dinamika, karena dihuni dengan berbagai
kepentingan yang diartikulasikan melalui hasrat dan tindakan.
Mereka dapat menggunakan ruang sesuai keinginannya dengan prinsip
yang penting enjoy, bebas, dan merasakan pleasure (misalnya: menggeser
kursi, membawa makan minum, booking tempat, mengambil foto di layar
pdf, membaca bahan bacaan ringan, sekedar rileks, dan lain sebagainya).
Stereotip ruang perpustakaan yang awalnya dibayangkan oleh pemustaka
digital natives, kini menjadi bergeser. Ruang perpustakaan bagi pemustaka
digital natives kini menjadi ruang yang menyenangkan “welcoming space”
dan bahkan menjadi ruangan untuk bersantai ria (relaxing environment)
untuk menghabiskan waktu luang mereka.
Ruang Perpustakaan: Bagian Dari Gaya Hidup Untuk Membangun Distingsi
Gaya hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
pemustaka digital natives. Meminjan konsep Bourdieu, temuan penelitian
menunjukkan bahwa ruang Perpustakaan UGM sebagai ruang untuk
membangun distingsi. Pada saat pemustaka digital natives masuk ruang
Perpustakaan UGM, maka ruang tersebut ibarat menjadi gaya hidupnya,
artinya sebagai ruang agar mereka bisa dinilai oleh pemustaka lain. Ada
keinginan untuk memamerkan kapital-kapital yang dimliki di dalam ruang
perpustakaan. Ruang Perpustakaan UGM dijadikan oleh pemustaka digital
natives sebagai ruang untuk menunjukkan lifestyle mereka. Artinya bahwa
ruang perpustakaan sebagai run a way untuk menunjukkan jika mereka
mempunyai banyak hal.
Pemustaka digital natives yang berkunjung ke ruang perpustakaan
sambil membawa gawai yang mahal menegaskan kapital ekonomi
yang dimiliki pemustaka digital natives, sekaligus menjadikan mereka
mendapatkan kapital simbolik (penanda kelas sosial. Fakta empiiris yang
mengatakan: gaptek, tidak gaul, tidak PD, dan malu jika tidak punya,
berarti menunjukkan bahwa ada orang lain yang melihat mereka. Hal ini
berarti pemustaka digital natives memiliki kepentingan dan tujuan sosial
kultural tersendiri. Pemustaka digital natives menggunakan gawai adalah
lebih karena nilai simbol (sign value) dan bukan karena nilai guna (use
value).
Dengan demikian, yang namanya smartphone, earphone, headset,
Endang Fatmawati 437

