Page 458 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 458

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            tongsis, dan  charger menjadi  bawaan  wajib  manakala  ke ruang
            perpustakaan. Berdasarkan fakta empiris tersebut, berarti bahwa aktivitas
            pemustaka digital natives saat berkunjung ke ruang Perpustakaan UGM
            sambil membawa gawai dan perangkat lainnya, menjadi sebuah penanda
            kalau mereka bergaya hidup modern. Hal ini bisa diartikan juga bahwa
            alasan  pemustaka  digital  natives mengkonsumsi gawai saat di ruang
            perpustakaan adalah lebih karena agar bisa diterima di kalangan pemustaka
            yang sama-sama pemustaka digital natives. Hal ini sebagaimana (Bourdieu,
            1984:  66)  samapikan  bahwa  seseorang  dapat  melihat  bagaimana  cara
            memanfaatkan  benda-benda  simbolik  terutama  yang  dianggap  sebagai
            atribut-atribut keunggulan, sebagai salah satu tanda-tanda utama dari kelas
            yang merupakan senjata ideal dalam strategi-strategi pembedaan.
                Dalam  hal  ini,  habitus  berperan  penting  dalam  tindakan konsumsi
            maupun pilihan pemustaka digital natives dalam mengkonsumsi gawai di
            ruang Perpustakaan UGM. Habitus menjadi sebuah wadah dimana individu
            mengalami  beragam proses sosial sehingga memunculkan pemaknaan.
            Hal ini sebagaimana konsep  Bourdieu  bahwa  habitus  menyarankan
            apa yang harus dipikirkan dan tindakan yang harus dipilih berdasarkan
            pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh. Habitus menurut Bourdieu
            (1984:  72)  menjadi  disposisi  yang  memungkinkan  seseorang  mencapai
            apa yang dipandang sebagai kebutuhannya. Dengan demikian, konsumsi
            gawai  menjadi  strategi  gaya  hidup  modern  yang  secara  sadar  dipilih
            pemustaka  digital  natives  untuk  menentukan  status  sosialnya,  sehingga
            dalam  prosesnya,  status  pemustaka  digital  natives  akan  dikonstruksi
            melalui gawai yang mereka gunakan. Kapital simbolik bisa diperoleh jika
            pemustaka  digital  natives  memiliki  habitus  seperti  multitasking,  selalu
            membawa gawai, maupun selalu terkoneksi. Dalam pandangan Bourdieu,
            relasi sosial setiap individu memiliki struktur yang menentukan posisinya
            di dalam relasi tersebut. Artinya bahwa keberadaan individu dalam sebuah
            arena merupakan sebuah perjuangan mendistribusikan segala kapital yang
            mereka miliki  untuk mempertahankan  posisi atau kedudukannya dalam
            relasi sosial tersebut.
                Pemustaka  digital  natives membeli  gawai (misalnya  smartphone)
            dan menggunakannya di ruang Perpustakaan UGM, menegaskan adanya
            unsur kapital ekonomi yang mereka miliki.  Hal ini sekaligus menjadi
            pertanda  bahwa  pemustaka  digital  natives tersebut  juga  mendapatkan
            kapital  simbolik.  Sementara  itu,  pemustaka  lainnya  bisa  bertambah
            kapital sosialnya melalui jaringan hubungan sebagai sumber daya untuk
            penentuan kedudukan sosialnya. Hal ini karena mereka juga ikut-ikutan
            temannya membeli gawai dan kemudian menggunakannya saat berada di
            ruang Perpustakaan UGM.

            438           Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan
   453   454   455   456   457   458   459   460   461   462   463