Page 463 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 463

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Mereka cenderung merasakan  kepercayaan  ketika  berkomunikasi
            dengan  orang lain  yang budayanya  ada  kesamaan.  Dalam  hal  ini,  cara
            mengkonsumsi  ruang  Perpustakaan  UGM  dapat  menunjukkan  adanya
            habitus  pemustaka  digital  natives, karena  menggambarkan  serangkaian
            kecenderungan  yang mendorongnya untuk bereaksi dengan cara
            tertentu. Sebagaimana konsep Bourdieu (1994: 9) bahwa habitus sebagai
            struktur  mental  atau  kognitif  yang  digunakan  aktor  untuk  menghadapi
            kehidupan sosialnya yang diterjemahkan menjadi suatu kemampuan yang
            kelihatannya  alamiah  dalam  lingkungan  sosial tertentu.  Hal ini karena
            dalam satu komunitas pemustaka digital natives akan memiliki ikatan saling
            bersesuaian, menduduki posisi yang sama dalam dunia sosial, memiliki
            kebiasaan yang sama, serta membedakan mereka dengan pemustaka lain
            di luar mereka. Dengan demikian, memunculkan identitas atau citra-diri
            reflektif yang dikonstruksi, dialami, dan dikomunikasikan oleh pemustaka
            digital natives dalam proses interaksi sosial. Pergaulan pemustaka digital
            natives yang terhubung dalam kelompok  belajar  menunjukkan adanya
            kesamaan latar belakang sosial  budaya dan nilai-nilai  yang ada dalam
            komunitas, sehingga tercipta kebiasaan yang hampir serupa, sama-sama
            senang ke Perpustakaan UGM dan sama-sama menggunakan gawai.
                Pemustaka  digital  natives juga membangun  identitas  untuk
            menggabungkan  persoalan teknologi  yang lekat  dengan ciri khasnya
            (tidak  bisa lepas dengan gawai) dengan aspek religious.  Mereka ingin
            menunjukkan  bahwa mereka “berbeda”  dengan pengunjung yang
            lain,  karena  mereka  rajin  ke  Perpustakaan  UGM,  mereka  juga  digital
            natives, kemudian mereka juga membangun identitas  kelompok yang
            mengedepankan aspek religiousitas. Hal ini misalnya ruang Perpustakaan
            UGM  khususnya  lt.3  ruang  diskusi,  dihidupinya  dengan  aktivitas  yang
            berbeda, yaitu ngaji bersama, membahas tema kajian tertentu dan hafalan
            surat serta hadist pilihan. Padahal secara representasi ruang bahwa ruang
            diskusi lt.3 tidak diseting untuk aktivitas ngaji bareng.  Dalam tataran ini,
            terkait bahasan ruang diskusi di lt.3 dan ruang selasar perpustakaan, jika
            bertolak  dari  perspektif  Lefebvre  (1991),  maka  dapat  dikatakan  bahwa
            terbentuknya  ruang-ruang  tersebut tidak  bisa dilepaskan dari “realitas
            sosial” konseptor ruang perpustakaan.
                Bahasan “ruang komunal” terkait dengan adanya kesesuaian antara
            praktik  spasial  dan  ruang  representasi  yang  dilakukan  oleh  pemustaka
            digital natives dengan representasi ruangnya. Dalam konteks ini, ruang-
            ruang di Perpustakaan UGM bisa saya katakan menjadi salah satu alternatif
            ideal yang mempertemukan para pemustaka digital natives secara inklusif
            dalam melakukan aktivitasnya dalam keseharian. Dari hasil pengamatan
            di lapangan, saya  melihat  bahwa mereka  secara  praktik spasial  senang

            Endang Fatmawati                                              443
   458   459   460   461   462   463   464   465   466   467   468