Page 466 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 466
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
yang dibangun dari penelitian ini adalah pemustaka digital natives yang
awalnya merupakan pemakai (user) perpustakaan, bergeser menjadi
“komoditas” yang dipakai oleh kepentingan eksternal. Pada satu sisi
mereka “memakai” ruang Perpustakaan UGM, tetapi mereka juga sekaligus
“dipakai” oleh kepentingan kapital. Selain itu, ada dinamika negosiasi
dan resistensi serta perbedaan konteks dalam praktik sosial dan ruang
representasi di Perpustakaan UGM. Artinya ada peluang dari pemakai
ruang untuk melakukan dinamika negosiasi dan resistensi.
V. KESIMPULAN
Dalam membangun dan mengatur ruang perpustakaan dibangun di
atas berbagai kepentingan yang saling berkontestasi. Perpustakaan telah
mengharmonisasi semua kepentingan, karena konsep awalnya tidak
lepas dari spirit pihak perpustakaan yang menginginkan World Class
University, sehingga kepentingan corporate juga diakomodir dalam rangka
internasionalisasi.
Ruang perpustakaan menjadi ruang produksi tetapi maknanya
berbeda. Ruang produksi bagi konseptor ruang adalah produksi ide
(akademik) untuk mendukung tri dharma perguruan tinggi, tetapi yang
terjadi dalam lived space adalah ruang produksi dalam konteks industrial
(ekonomi). Pemustaka digital natives justru menggunakan ruang
perpustakaan dan beragam fasilitas yang disediakan oleh konseptor ruang
untuk kepentingan pribadi dalam konteks menggunakan transaksi yang
bersifat ekonomi. Dalam praktik sosialnya, pemustaka digital natives
memiliki agency tersendiri dalam mengkonsumsi ruang perpustakaan.
Ruang perpustakaan sebagai ruang produktif yang dapat menghasilkan
uang dan ruang untuk menghabiskan waktu luang mereka. Dalam
kenyataannya ada ketidaksesuaian dari yang semula ruang perpustakaan
dirancang untuk kepentingan akademik, namun pemustaka digital natives
justru mengkonsumsinya di luar itu. Hal ini mengindikasikan bahwa ruang
perpustakaan kini menjadi ruang yang bisa ditembus, artinya sebagai ruang
yang menghapuskan sekat antara kerja dan non kerja.
Begitu juga dalam konteks ruang perpustakaan sebagai ruang leisure.
Ada beberapa aktivitas ketika pemustaka digital natives menjadikan
ruang perpustakaan menjadi ruang leisure. Pertama, untuk mendapatkan
kebebasan dari tekanan sosial, lingkungan, dan domestik. Kedua, untuk
mencari hiburan (pleasure) karena menggunakan ruang tidak untuk
memproduksi ide tetapi untuk kesenangan yang lain. Ketiga, sebagai
ruang katarsis, yaitu sebagai bentuk pelarian diri (escape) dari space yang
tidak nyaman maupun dari berbagai struktur formal yang biasa pemustaka
digital natives hadapi di luar ruang perpustakaan. Ketika berada di ruang
446 Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan

