Page 465 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 465
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
“oksigen” bagi mereka. Selanjutnya jika dikaitkan dengan mediatisasi,
maka logic kapital juga dipakai oleh Perpustakaan UGM. Logika media
menguntungkan kapital karena berorientasi pada profit dan bersifat
komersial.
Dalam praktik ruangnya, ternyata ada berbagai paksaan kepada
Perpustakaan UGM yang dilakukan oleh kepentingan eksternal. Bahkan
pihak Perpustakaan UGM selalu melakukan transformasi, dengan
mengakomodir kepentingan pemustaka digital natives. Alasannya jika
tidak melakukannya maka akan ditinggalkan oleh penggunanya. Dalam
tataran ini, dapat ditarik abstraksinya bahwa kepentingan pemustaka
digital natives semakin menumbangkan kepentingan produksi akademik.
Artinya bukan kepentingan akademik yang dimenangkan, sehingga urusan-
urusan produktivitas akademik menjadi termarjinalkan. Kondisi ini justru
menegaskan apa yang dikonsepkan oleh Lefebvre, bahwa produksi ruang
menguntungkan kepentingan kapital.
Perpustakaan UGM dikembangkan dan diatur sedemikian rupa untuk
memenuhi kepentingan pemustaka digital natives, namun dari hasil
penelitian ternyata ditemukan adanya paksaan yang berasal dari luar.
Pertama, persoalan internasionalisasi. Dalam hal ini Perpustakaan UGM
mengakomodir kepentingan eksternal sehingga produknya adalah corner-
corner yang muncul di dalam perpustakaan. Kedua, kepentingan Badan
Akreditasi Nasional (BAN) PT yang mensyaratkan adanya ketersedian
berbagai fasilitas jenis ruang perpustakaan di perguruan tinggi. Ketiga,
kepentingan kapital yang saling berkontestasi. Kepentingan yang memiliki
modal besar adalah yang lebih berkuasa. Keempat, kepentingan standarisasi
perpustakaan perguruan tinggi.
Konsep awal yang didesain sebelumnya oleh pihak konseptor
Perpustakaan UGM adalah sebagai ruang akademik. Namun ternyata
yang tersisa sebagai ruang akademikpun juga dipakai untuk kepentingan
ruang yang lain, seperti hanya mushola dan reading cafe. Jika saya
menempatkan ketiga teori yang saya gunakan dalam penelitian ini secara
meta teori, maka dapat saya jelaskan bahwa Lefebvre memungkinkan
adanya dialektika dalam triadic yang ditawarkan, kemudian Ritzer dalam
McDonaldisasi tidak memberikan ruang bagi agensi, sedangkan disisi lain
konsep Bourdieu ada agensi sosial dalam ranah yang masih memungkinkan
adanya dinamika kontestasi dan negosiasi.
Dalam konteks ini, jika menempatkan teorinya Bourdieu, bahwa ada
arena yang dipermainkan di ruang Perpustakaan UGM tersebut, yang
dalam hal ini berarti ada hegemoni modal dan kapital yang bermain di
dalamnya. Selanjutnya dari sisi pemustaka digital natives, argumentasi
Endang Fatmawati 445

