Page 468 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 468

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            ruang  perpustakaan  awalnya  adalah  mengarahkan  pemustaka  digital
            natives. Namun dalam konteks  lived  space  justru  berbeda.  Dalam  hal
            ini,  kapitalisasi  perpustakaan  menjadi  dominan  untuk  kepentingan
            internasionalisasi.  Ada praktik  dominasi  para  perancang (planners)
            dalam konsepsi ruang representasi, sehingga terbongkar kepentingan di
            balik perancangan ruang oleh pihak dominan dalam Perpustakaan UGM.
            Logika industrial juga dipakai oleh perpustakaan sehingga ada dominasi
            dalam  hal  mengatur  ruang-ruang  perpustakaan.  Mediatisasi  juga  terjadi
            dalam  konteks  perpustakaan.  Penerapan  teknologisasi  di  perpustakaan
            memunculkan irasionalitas dan dehumanisasi sehingga mengurangi relasi
            sosial. Saat menghidupi  ruang  perpustakaan,  pemustaka  digital  natives
            cenderung lebih akrab dengan gawai dan mesin komputer daripada
            berinteraksi dengan pustakawan.
                Selanjutnya  ruang  perpustakaan  dalam  kenyataannya  juga  sebagai
            ruang paradoks. Ada regulasi yang bias mayoritas dan ada aturan atau tata
            tertib yang ada di setiap ruang perpustakaan, tetapi aturan tersebut tidak
            ditegakkan sendiri oleh pihak perpustakaan. Dengan demikian, lived space
            (yang  subordinate)  dihidupi  oleh  pemustaka  digital  natives, sehingga
            resistensi dapat dilakukan oleh mereka. Cara bagaimana mereka mendiami
            ruang  itu,  sesuatu  yang  sebetulnya  tidak  diperbolehkan,  misalnya  tidak
            boleh memotret tapi akhirnya juga memotret. Dalam konteks ini, negosiasi
            pemustaka digital natives yang terjadi terkait dengan aturan-aturan yang
            ada di perpustakaan.
                Dalam praktik sosial ruang  perpustakaan  juga  merupakan  ruang
            community  hub  untuk  membentuk  identitas  kolektif  pemustaka  digital
            natives. Artinya, perpustakaan merupakan tempat untuk bersosialisasi dan
            bertemu fisik dengan pemustaka lain. Dalam tataran ini, yang dikonsumsi
            adalah ruangnya (consuming space). Faktor sosial yang membuat ruang
            perpustakaan  sebagai  tempat  yang  menyenangkan  pemustaka  digital
            natives dan membuatnya menarik, yaitu karena pemustaka digital natives
            juga dapat berafiliasi dengan pemustaka lainnya. Hal ini untuk memenuhi
            kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks
            ini, artinya bahwa ruang perpustakaan sebagai ruang community hub sangat
            memungkinkan bagi pemustaka digital natives untuk melakukan aktivitas
            serta  berinteraksi  dengan  sesama  pemustaka  digital  natives maupun
            dengan  kelompok  pemustaka  lainnya  yang  tidak  tergolong  pemustaka
            digital natives.
                Ruang  perpustakaan  yang  semula  dimaknai  sebagai  tempat  untuk
            meminjam dan mengembalikan buku, menjadi bergeser dan bertransformasi
            menjadi  tempat untuk berdiskusi dan bertemu teman dengan beragam
            tujuan maupun kepentingan. Dalam tataran ini, pemustaka digital natives

            448           Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan
   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473