Page 469 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 469

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            berusaha untuk mengafirmasi, meneguhkan identitas dan perbedaannya,
            kemudian juga merasakan adanya “kenikmatan”  melalui  tindakan
            mengkonsumsi tanda secara bersama-sama. Mereka cenderung merasakan
            kenyamanan  ketika  berkomunikasi  dengan orang lain yang budayanya
            ada  kesamaan.  Dalam  hal  ini,  cara  mengkonsumsi  ruang  perpustakaan
            menjadi penanda kesamaan identitas. Identitas menjadi sebuah citra-diri
            reflektif yang dikonstruksi, dialami, dan dikomunikasikan oleh pemustaka
            digital natives dalam proses interaksi sosial. Pergaulan pemustaka digital
            natives yang terhubung dalam kelompok menunjukkan adanya kesamaan
            latar belakang sosial budaya dan nilai-nilai yang ada dalam komunitas,
            sehingga tercipta kebiasaan yang hampir serupa, sama-sama senang berada
            di ruang perpustakaan dan sama-sama menggunakan gawai.
                Pemustaka  digital  natives  juga  mengkonsumsi  ruang  perpustakaan
            untuk  membangun  distingsi  dan  membangun  identitas  yang  berbeda
            terkait aspek agama dengan sholat berjamaah dan mengaji bersama dengan
            kelompoknya. Aktivitas mengaji bareng dengan liqoan merupakan salah
            satu contoh bahwa pemustaka digital natives juga membangun hegemoni
            untuk menggabungkan persoalan teknologi yang lekat dengan ciri khasnya
            (tidak bisa lepas dengan gawai) dengan aspek agama. Dengan demikian
            ruang perpustakaan bagi pemustaka digital natives juga dimaknai sebagai
            ruang komunal bagi kelompoknya.
                Dari  hasil  analisis  pada  penelitian  saya,  ada  hal  yang  tidak  dilihat
            oleh Lefebvre waktu itu. Lefebvre dahulu belum berbicara dalam konteks
            digital  seperti  saat  ini  sehingga  belum  mampu  mengungkap  dan  belum
            mengulas dalam konteks digital pada konsep triadiknya. Dari hasil kajian
            saya, bahwa dalam era digital saat ini sangat memungkinkan sekali adanya
            kolaborasi antara pihak konseptor (representasi ruang) dengan pemakainya
            (dalam konteks ini pemustaka digital natives). Dari hasil penelitian ini,
            bahwa antara  pihak konseptor ruang  perpustakaan  dan  user  sangat
            interaktif  dalam  berkomunikasi.  Hal  ini  nampak  dari  pihak  manajemen
            Perpustakaan UGM yang selalu bertransformasi mendesain ruang dengan
            mengakomodir kebutuhan dan keinginan pemustaka digital natives yang
            dilayaninya.  Dalam  praktik sosialnya,  pihak  konseptor  menyediakan
            formulir  saran  yang  disampaikan  melalui  “survei  kepuasan  konsumen”
            yang bisa diisi pemustaka sewaktu-waktu melalui online. Pada tataran ini
            ada umpan balik ketika berkomunikasi menyampaikan saran atau usulan.
            Selain  itu,  ada  dinamika  negosiasi  dan  resistensi  dalam  praktik  sosial
            dan ruang representasi di Perpustakaan UGM. Konsep Lefebvre adalah
            trialektik  dalam  triadik  dan representasi  ruang menjadi  dominan.  Dari
            kajian saya ada peluang-peluang dari pemustaka digital natives sebagai
            user untuk melakukan dinamika negosiasi dan resistensi.

            Endang Fatmawati                                              449
   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473   474