Page 467 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 467

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            perpustakaan, justru pemustaka digital natives bisa melakukan negosiasi
            dengan aturan-aturan yang ada. Hal ini justru menjadi paradoks karena
            sebetulnya di perpustakaan banyak sekali aturan. Pemustaka digital natives
            justru  tidak  tunduk  pada  konseptor  ruang,  sehingga  temuan  penelitian
            menunjukkan  bahwa ruang  perpustakaan  menjadi  ruang  yang  bisa
            diterobos oleh pemustaka digital natives untuk melakukan praktik yang
            berbeda. Ruang perpustakaan tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan
            dengan label birokrasi yang sulit, namun telah bergeser menjadi  ruang
            publik yang dinamis dan cair.
                Ruang  perpustakaan  juga  sebagai  ruang  alternatif  untuk  mencari
            kebebasan  bagi  pemustaka  digital  natives dalam  melakukan  apapun
            yang diinginkan. Dari hasil penelitian ternyata ruang perpustakaan tidak
            seperti  image yang sebelumnya  berkembang  atau  dominan  selama  ini.
            Stereotip perpustakaan ternyata tidak ditemukan oleh pemustaka digital
            natives, sehingga ketika menghidupi ruang mereka mengambil  peluang
            dan  memanfaatkan  betul  ruang  yang  ada  dengan  beragam  fasilitasnya.
            Pemustaka digital natives menggunakan ruang perpustakaan untuk lifestyle
            yaitu sebagai ruang untuk menunjukkan siapa mereka. Ruang perpustakaan
            itu ternyata menjadi ruang display untuk membangun distingsi identitas
            dan gaya hidupnya. Distingsi yang dibangun antarmahasiswa dan sesama
            pemustaka dilakukan melalui perilaku yang berbeda, pilihan ruang, pilihan
            konsumsi minuman, kepemilikan gawai, maupun melalui aktivitas sholat
            dan liqo. Pemustaka digital natives yang rajin ke ruang perpustakaan akan
            membentuk distingsi tersendiri dengan mahasiswa yang jarang atau bahkan
            tidak pernah ke perpustakaan. Begitu juga ketika mereka berada dalam
            ruang perpustakaan, juga membentuk distingsi tersendiri dengan sesama
            pemustaka yang berada di dalam ruang perpustakaan.
                Dalam konteks  lifestyle, ketika masuk dan berada di dalam ruang
            perpustakaan,  para  pemustaka  digital  natives cenderung men-display
            kapital-kapital  yang  dipunyainya.  Ruang  perpustakaan  menjadi  ruang
            dimana  mereka  bisa  dilihat  oleh  pemustaka  lain.  Ruang  perpustakaan
            sebagai display bahwa mereka mempunyai banyak hal. Mereka sama-sama
            menggunakan gawai, sehingga menunjukkan distingsi tersendiri dengan
            pemustaka  lainnya  yang  tidak  tergolong  digital  natives.  Ciri khas yang
            menonjol dari perilaku pemustaka digital natives yang selalu membawa
            gawai  tersebut  adalah  selalu  terkoneksi,  instan,  ICT  savvy,  tidak  fokus,
            multitasking, lahir pada jaman digital, berinteraksi dengan peralatan digital
            pada usia dini, dekat dengan teknologi digital, selalu menghubungkan ke
            berbagai sumber informasi online, serta memiliki pola pencarian informasi
            yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
                Representasi ruang menjadi dominan karena reformulasi konstruksi

            Endang Fatmawati                                              447
   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472