Page 464 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 464
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
berkelompok dan seolah-olah membatasi dengan kelompok lainnya. Hal
ini karena memang juga didukung oleh disain ruangan (di ruang diskusi lt.
3) yang memang dikondisikan dan dibuat sekat-sekat, sehingga terkesan
inklusif di setiap masing-masing kelompok pemustaka yang menggunakan
ruang tersebut. Artinya memang secara representasi ruang sudah
dikondisikan seperti itu.
Dengan demikian, pengalaman (live-experienced) atas ruang
Perpustakaan UGM dan beragam praktik konsumsi yang dilakukan oleh
pemustaka digital natives dalam menghidupi ruang, menunjukkan jika
ruang memiliki pemaknaan yang beragam (diversity). Dalam kenyataannya
pemustaka digital natives menghidupi ruang-ruang perpustakaan dengan
beragam cara. Pada titik ini, ruang Perpustakaan UGM menjadi ruang
representasi bagi pemustaka digital natives karena menunjukkan bahwa
ruang perpustakaan yang secara normatif awalnya hanya disesain sebagai
hanya tempat belajar untuk mengerjakan kepentingan yang berhubungan
dengan akademik, tempat untuk sirkulasi meminjam dan mengembalikan
buku, maupun ruang belajar, namun menjadi “berwajah lain” ketika
pemustaka digital natives memanipulasinya secara berbeda dalam praktik
ruang mereka.
Meta Teori Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan ketiga konsep teori dari Lefebvre, Ritzer,
dan Bourdieu. Dari deskripsi fakta empris yang sudah dijelaskan, dapat
disimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh pemustaka digital natives
adalah terjebak dalam logika kapitalis. Selanjutnya ada kebebasan
(freedom) yang ditawarkan karena persoalan digital, namun semuanya
difasilitasi oleh kepentingan-kepentingan neolib yang masuk ke dalam
Perpustakaan UGM. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik pada temuan
besar bahwa pemustaka digital natives sedang prihatin dan meratapi atas
apa yang dilakukan oleh pihak Perpustakaan UGM dalam mengakomodir
kepentingan kapital.
Pada saat pemustaka digital natives masuk di ruang Perpustakaan
UGM, mereka juga membangun distingsi, sehingga gaya hidup mereka
juga difasilitasi oleh kepentingan neolib. Perpustakaan yang dalam konteks
digital bisa ditenteng kemana-mana dengan gawai pemustaka digital
natives, namun kenyataannya mereka tetap mengkonsumsi secara fisik di
ruang Perpustakaan UGM. Logika pemustaka digital natives adalah agar
bisa menggunakan wifi gratis ketika datang ke ruang Perpustakaan UGM,
dan dalam hal ini mereka memiliki agency tersendiri. Pemustaka digital
natives memiliki obsesi yang sangat tinggi untuk bisa selalu connected.
Artinya tidak bisa hidup tanpa internet, sehingga wifi gratis bagaikan
444 Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan

