Page 459 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 459

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Praktik  sosial  yang  dilakukan  pemustaka  digital  natives di ruang
            Perpustakaan  UGM  berdasarkan  keputusan  tindakan  individu  sebagai
            “agensi” dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal,
            seperti adanya interaksi dan pengaruh lingkungan, pemustaka sepergaulan,
            maupun pola asuh dalam keluarga dalam konteks ranah (field). Sementara itu,
            faktor internal dalam diri agensi pemustaka digital natives tersebut adalah
            modal dan habitus. Habitus tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sebagai
            sebuah arena pertarungan dimana terjadi kompetisi berbagai jenis modal.
            Modal yang dimiliki seorang pemustaka digital natives akan menentukan
            posisinya dalam struktur ranah dan kekuasaan yang dimilikinya. Istilahnya
            Bourdieu (1984) bahwa “capital is a social relation”. Posisi pemustaka
            digital natives sebagai agen di dalam lingkungan ditentukan oleh jumlah
            dan  bobot  relatif  dari  modal  yang  mereka  miliki.  Temuan  penelitian
            menunjukkan bahwa ruang-ruang yang ada di Perpustakaan UGM dapat
            diproduksi sesuai gaya belajar (learning style) pemustaka digital natives
            yang multitasking.
                Pemustaka digital natives merasakan kenyamanan proses belajar di
            ruang perpustakaan dengan difasilitasi oleh teknologi informasi. Hal ini
            karena kehidupan digital natives tidak terpisahkan dari teknologi digital,
            sehingga gaya belajar generasi ini selalu menginginkan dengan media baru
            teknologi  berbasis  online. Namun komunikasi  via  online ternyata  tidak
            cukup bagi mereka, buktinya ada penuturan informan yang sering membuat
            janji ketemu secara fisik dengan teman-temannya di ruang Perpustakaan
            UGM  untuk  sekedar  mengobrol.  Kegiatan  gratis  yang  diselenggarakan
            oleh  Perpustakaan  UGM  menunjukkan  adanya  sisi  keuntungan  yang
            diperolehnya  ketika  ke  perpustakaan.  Penggunaan  ruang  Perpustakaan
            UGM  untuk  kegiatan  lain,  misalnya  disewakan  untuk  kegiatan  seminar
            dan kegiatan lainnya menunjukkan ketidakkonsistenan dalam penggunaan
            ruang. Padahal secara konsep ruang  perpustakaan  tidaklah  seperti
            itu,  sehingga  hal  ini  menunjukkan  adanya  paradoks  pemakaian  ruang
            Perpustakaan UGM.
                Ada  aspek  munculnya  dinamisasi  pergeseran  sebuah  ruang
            perpustakaan yang semakin cair. Artinya bahwa ruang Perpustakaan UGM
            menjadi sebuah produk kultural ketika ruang perpustakaan menjadi bagian
            dari praktik sosial pemustaka digital natives. Seperti yang dikemukakan
            oleh Du Gay, et. al. (1997: 2) bahwa “all social practices are meaningful
            practices. they are all fundamentally cultural.” Makna memberi panduan
            untuk memahami  dan menjalani  praktik sosial sehingga semua praktik
            sosial yang dilakukan  akan memiliki  makna.  Melalui  makna  yang
            diproduksi  secara  sosial  itulah  kultur  penggunaan  ruang  Perpustakaan
            UGM oleh para pelaku bisa terbentuk.

            Endang Fatmawati                                              439
   454   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464