Page 456 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 456

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            diproduksi oleh aktor yang menempatinya. Dari kajian mendalam, juga
            nampak adanya relasi gender, yan ditunjukkan dari pilihan jenis bacaan
            dan pilihan topik ketika menonton youtube.
                Selama  berada  di  ruang  Perpustakaan  UGM  diketahui  bahwa
            pemustaka  digital  natives juga  tidak  selamanya  online tetapi  terkadang
            juga  offline.  Pemustaka  digital  natives juga sering janjian mengobrol
            ketemu teman maupun menghabiskan waktu luang di sela-sela rutinitas
            kuliah di ruang Perpustakaan UGM. Selanjutnya juga melakukan praktik
            konsumsi ruang sebagai ruang untuk business online atau online shopping
            (kaos, tanaman karnivora) yang dapat menghasilkan uang. Pada saat ruang
            perpustakaan sudah menjadi bagian dari praktik sosial pemustaka digital
            natives, maka dapat dikatakan bahwa ruang Perpustakaan UGM tersebut
            adalah sebuah produk kultural. Dengan kata lain, ruang perpustakaan telah
            bergeser fungsinya, menjadi sebuah produk sosial yang diciptakan oleh
            pemustaka  digital  natives. Dalam  hal  ini  berarti  akan  turut  mengontrol
            aktivitas  yang  berlangsung  di  dalamnya.  Hal  ini  sebagaimana  konsep
            Lefebvre (1991) bahwa setiap relasi sosial menciptakan ruangnya sendiri.

            Ruang Alternatif Untuk Mencari Kebebasan
                Ruang alternatif yang dimaksud dalam temuan penelitian ini adalah
            sebagai ruang kebebasan (freedom) bagi pemustaka digital natives untuk
            melakukan  aktivitasnya.  Ruang  kebebasan  dimaksudkan  sebagai  ruang
            yang memungkinkan pemustaka digital natives untuk melakukan aktivitas
            tanpa terganggu oleh orang lain di sekitarnya maupun tekanan sosial yang
            lain.  Ruang  Perpustakaan  UGM  menjadi  ruang  alternatif  bagi  mereka
            karena  adanya  ketersediaan  beragam  fasilitas  yang  mendukung  mereka
            untuk bisa bebas beraktivitas tanpa hambatan dari pihak lain. Dari kajian
            mendalam dalam penelitian ini, temuannya bahwa ruang alternatif yang
            dipilih oleh pemustaka digital natives adalah di ruang Perpustakaan UGM,
            karena jika di rumah atau kost ada “tekanan” dari lingkungan, sedangkan
            jika di ruang perpustakaan mereka menjadi lebih leluasa karena tidak ada
            yang mengawasi atau mengontrol dari aktivitas yang dilakukan.
                Lalu  ketika  dikaitkan  dengan  ruang  representasinya,  berarti  dapat
            dikatakan pada saat ruang Perpustakaan UGM dipahami secara “simbolik”
            sebagai  ruang  alternatif  untuk  mencari  kebebasan.  Hal  ini  karena
            sesungguhnya praktik sosial dalam keseharian pemustaka digital natives
            menjadikan  “simbolisme”  itu sebagai  sebuah  penanda  relasi  antarruang
            yang paling konkrit. Lefebvre (1991: 42) mengatakan“... the only product
            of representational spaces are symbolic works”. Pemustaka digital natives
            juga  merasa  lebih  santai  karena  tidak  ada  birokrasi  ruang yang  rumit,
            mereka tinggal masuk tanpa banyak aturan. Sekalipun ada aturan, namun


            436           Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan
   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460   461