Page 453 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 453
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
yang mengkonsumsi ruang Perpustakaan UGM. Artinya bahwa dalam
praktiknya, pemustaka digital natives tidak selalu mengakses koleksi
digital yang disediakan, namun malah sebaliknya bebas menggunakan
sesuai dengan kepentingannya. Ruang yang tadinya banyak disediakan
dengan konsep agar dapat digunakan untuk mengakses digital, ternyata
dalam praktiknya tidak selamanya demikian. Dominasi melalui aturan juga
tidak kuat, karena tidak ada kontrol dari petugasnya. Pemustaka digital
natives memanfaatkan adanya peluang wifi tersebut untuk kepentingan di
luar akademik.
Secara ruang representasi, sekalipun pemustaka digital natives
memiliki kecenderungan untuk memilih ruang yang menjadi favoritnya
dan menghidupinya, namun permasalahan akan muncul ketika hari
Jum’at tiba, karena ada jam istirahat dan ruang perpustakaan harus tutup.
Ada bias mayoritas karena aspek agama menjadi suatu hal yang ikut
serta berperan dalam hal pengaturan ruang. Dalam konteks penelitian
ini, berarti bagaimana sebuah ruang perpustakaan ternyata juga diatur
dengan didiktekan oleh kelompok mayoritas dominan. Hal ini senada yang
disampaikan Lefebvre (1991) bahwa ruang diproduksi sedemikian rupa
untuk melanggengkan kekuasaan dan menciptakan dominasi. Artinya,
mengatur ruang Perpustakaan UGM tidak bisa lepas dari faktor sosial di
luar itu yang dianggap dominan yaitu faktor agama.
Bentuk paradoks lainnya yang peneliti temukan adalah adanya desain
dan konsep ruang mushola yang diseting di dalam ruang Perpustakaan
UGM. Gambaran paradoks terkait aturan yang dibuat di Perpustakaan
UGM namun bias mayoritas, misalnya juga peneliti temukan di ruang ETD
lantai 2, pemustaka dilarang makan minum, dilarang memotret, dilarang
membawa tas masuk. Dalam konteks ini berarti karena ada relasi kuasa
yang tidak seimbang (mahasiswa magang dan pemustaka digital natives),
sehingga karena ada dominasi kekuasaan inilah melahirkan perlawanan
untuk tidak taat pada aturan. Seperti yang dikatakan Lefebvre (1991)
bahwa ruang terbentuk dari kegiatan manusia di dalamnya, lalu manusia
membuat sistem tanda dan bahasa yang digunakan untuk memproduksi
ruang tersebut.
Efisien yang Tidak Efisien
Pergeseran dalam mengatur ruang sirkulasi di Perpustakaan UGM
dari yang dahulu paradigmanya hanya sebagai sirkulasi buku namun
konsep yang dibuat saat ini menjadi sirkulasi orang. Namun yang terjadi
kondisi demikian ternyata justru menjadi tidak efisien bagi pegawainya.
Dalam tataran ini, berarti menjadi paradoks. Paradoks juga ditemukan
adanya fasilitas televisi di ruang Perpustakaan UGM. Dalam penelitian
Endang Fatmawati 433

