Page 455 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 455
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
historislah yang menyebabkan ruang Perpustakaan UGM dapat dikonsumsi.
Ruang-ruang yang ada di Perpustakaan UGM yang tidak birokratis juga
menjadi salah satu aspek yang kondusif dalam mengakomodir kebutuhan
pemustaka digital natives, sehingga membuat pemustaka digital natives
merasa nyaman.
Secara ruang representasinya, pemustaka digital natives menghidupinya
dengan beragam motif, ada yang sekedar santai menunggu waktu untuk
berpindah ke waktu produktifnya yaitu kuliah, hanya sekedar membaca
buku-buku yang ringan, maupun bisa leluasa bermain game online. Dalam
artian bahwa jika pemustaka digital natives tidak ke ruang Perpustakaan
UGM, maka tidak akan mendapatkan fasilitas kenyamanan dari sebuah
ruang. Hasil penelitian menunjukkan adanya praktik sosial lainnya. Hal ini
berarti tidak sesuai dengan representasi ruang yang sebelumnya diset oleh
perancang ruang. Artinya bahwa ada perilaku pemustaka digital natives
di ruang Perpustakaan UGM yang “di luar” untuk memenuhi kebutuhan
terkait perkuliahan dan kepentingan akademik. Hal ini misalnya pemustaka
digital natives saat di ruang Perpustakaan UGM justru karena leisure saja.
Perilaku konsumtif ruang Perpustakaan UGM oleh pemustaka digital
natives untuk tujuan pembedaan sosial (distinction).
Pada titik ini, dapat peneliti katakan bahwa sebagai sebuah ruang,
artinya perpustakaan dalam praktik sosial pemustaka digital natives
dapat menghapuskan sekat antara kerja produktif (belajar) dan nonkerja
(leisure). Dalam praktik sosialnya, pemustaka digital natives juga memiliki
agency tersendiri dalam mengkonsumsi ruang-ruang tersebut. Terkait
dengan temuan penelitian sebagai ruang leisure, maka bisa dikatakan
pemustaka digital natives memiliki kebebasan dalam menghabiskan waktu
luang di ruang perpustakaan. Bourdieu (1984) berpendapat bahwa gaya
hidup merupakan suatu area penting bagi pertarungan diantara berbagai
kelompok dan kelas sosial. Jadi terbatasnya fasilitas yang ada di kost
menunjukkan adanya faktor kelas sosial, karena ketika pemustaka digital
natives memiliki kapital ekonomi yang tinggi tentu akan memilih tempat
kost yang lengkap dan ada fasilitas wifi-nya. Tindakan mengkonsumsi
ruang Perpustakaan UGM yang dilakukan oleh pemustaka digital natives
merupakan sebuah pernyataan untuk memposisikan diri mereka dalam
praktik sosial di ruang perpustakaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh
Lefebvre (1991: 26) bahwa “..the space thus produced also serves as a
tool of thought and of action..”. Praktik sosial menjadi sebuah praktik
atau aktivitas yang dilakukan pemustaka digital natives terhadap tempat
fisik dimana aktivitas yang dilakukannya berpengaruh terhadap proses
pemaknaan ruang Perpustakaan UGM secara lebih spesifik. Bagaimanapun
sebuah ruang itu tidak dapat eksis dalam dirinya, namun akan selalu
Endang Fatmawati 435

