Page 460 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 460

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Temuan  penelitian  bahwa  ruang  Perpustakaan  UGM  juga  sebagai
            ruang  untuk  “membangun  distingsi”,  yang  dalam  hal  ini  dapat  peneliti
            dikategorikan  dalam  2  (dua)  hal.  Pertama,  distingsi  antarorang  yang
            datang  dan  tidak  datang  ke  Perpustakaan  UGM  (hubungannya  sebagai
            mahasiswa). Kedua, distingsi dengan sesama pengunjung (visitor), yang
            dalam hal ini disebut dengan pemakai perpustakaan (pemustaka). Selain
            itu,  distingsi  dari  hasil  penelitian  ini  terkait  dengan  distingsi  konsumsi
            material dan distingsi praktik beragama.
                Distingsi menurut Bourdieu (1984: 468) terkait dengan habitus kelas,
            yaitu  pengetahuan  praktis yang diperoleh  sebagai  hasil  dari pembagian
            obyektif ke dalam kelas sosial itu sendiri. Pada titik ini konsep distingsi
            Bourdieu dalam faktanya juga dapat berlaku pada praktik membedakan
            diri terhadap sesama pengunjung Perpustakaan UGM. Ketika pemustaka
            digital  natives  sama-sama  menggunakan  gawai  di  ruang  Perpustakaan
            UGM,  maka  dalam  kondisi  ini  mereka  bisa  berbagi  makna  yang  sama
            dan  memiliki  identitas  yang  sama  sebagai  satu  kelompok  pemustaka
            digital natives yang menggunakan gawai. Dengan demikian, pemustaka
            digital  natives  dapat  masuk  pada  struktur  sosial  yang  sama,  sehingga
            akan  memberikan  peluang  yang  sama  bagi  pemustaka  digital  natives
            untuk  mengkonsumsi  gawai  dan  gaya  hidup  yang  sama.  Pada  titik  ini
            berarti  kelompok  pemustaka  digital  natives yang menggunakan  gawai
            saat di ruang Perpustakaan UGM membangun distingsi tersendiri dengan
            kelompok pemustaka lainnya yang tidak menggunakan gawai.
                Dari praktik konsumsi gawai yang dilakukan oleh informan penelitian
            ini,  maka  bisa  dikatakan  kalau  pemustaka  digital  natives mendapatkan
            kapital  simbolik  dan  kapital  sosial  sebagai  keuntungan  atau  profit.
            Dengan  mendapatkan  kapital  tersebut,  kemudian  juga  tindakan  mereka
            dalam mengkonsumsi gawai di ruang perpustakaan, maka mereka akan
            memperoleh  “distingsi  sosial”  dengan sesama pengunjung di ruang
            Perpustakaan  UGM.  Bourdieu  (1986:  243),  menjelaskan  bahwa  modal
            simbolik (symbolic capital) merupakan sumber kekuasaan yang krusial.
            Modal  simbolik  merupakan  modal  yang  dipandang  melalui  skema
            klasifikasi yang ditanamkan secara sosial.
                Bourdieu (1984: 170) mengatakan bahwa “The habitus is not only
            a  structuring  structure,  which  organizes  practices  and  the  perception
            of  practices,  but  also  a  structured  structure...”. Dalam hal ini, habitus
            menjadi  sebuah  struktur  kognitif  yang  menjembatani  antara  pemustaka
            digital natives dengan realitas sosial di sekitarnya. Jadi habitus bukanlah






            440           Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan
   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465