Page 461 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 461

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            merupakan hasil dari kehendak bebas atau ditentukan oleh struktur, namun
            diciptakan oleh semacam interaksi antarwaktu. Individu (dalam konteks ini
            pemustaka digital natives) dengan habitusnya berhubungan dengan yang
            lain dan berbagai realitas sosial yang menghasilkan tindakan sesuai dengan
            ranah dan modal yang dimilikinya di dalam ruang Perpustakaan UGM.
                Upaya  yang  dilakukan  seperti  kreatifitas  pemustaka  digital  natives
            saat berada di ruang perpustakaan. Kebebasan kreatif merupakan hasil dari
            pembatasan struktur-struktur, sehingga habitus menjadi sumber penggerak
            tindakan,  pemikiran,  dan  representasi.  Pemustaka  digital  natives juga
            membangun distingsi terkait dengan kebutuhan spiritual, karena selama
            mengkonsumsi  ruang  Perpustakaan  UGM  selalu  bisa  menjaga  sholat
            berjamaah.  Dalam konteks ini mereka  membangun  identitas,  yaitu
            membangun distingsi untuk memperkuat identitas religiusitasnya.



            Ruang  Community  Hub  Untuk  Membentuk  Identitas  Kolektif  Pemustaka
            Digital Natives
                Dari  hasil  penelitian  ditemukan  bahwa  ruang  Perpustakaan  UGM
            juga sebagai “community hub” artinya sebagai tempat untuk bersosialisasi
            dan bertemu fisik dengan pemustaka lain yang berasal dari UGM maupun
            luar UGM. Fakta empiris yang menarik bahwa pemustaka digital natives
            tidak beraktivitas sendiri namun cenderung berkelompok dan berdiskusi di
            ruang Perpustakaan UGM. Praktik sosial yang demikian menjadi paradoks,
            karena dalam era online yang bisa interkoneksivitas di dalam kesendirian,
            sehingga mahasiswa tidak harus datang secara fisik ke ruang Perpustakaan
            UGM ketika membutuhkan informasi, namun dalam kenyataannya mereka
            justru  senang  bertemu  fisik  di  ruang  Perpustakaan  UGM.  Dampaknya
            ruang-ruang  di  Perpustakaan  UGM  selalu  penuh  dikunjungi  oleh
            pemustaka. Artinya ada perubahan konsep yang dibayangkan oleh pembuat
            ruang perpustakaan, dari yang sebelumnya untuk belajar serta meminjam
            atau  mengembalikan  buku saja,  tetapi  sekarang  lebih  digunakan  atau
            dikonsumsi untuk aktivitas lainnya. Dalam hal ini misalnya untuk diskusi
            maupun hanya sekedar janjian ketemu untuk mengobrol, sehingga perilaku
            menggeser kursi dari meja lain menjadi potret keseharian dalam aktivitas
            mereka ketika berdiskusi di ruang Perpustakaan UGM tersebut.
                Dalam  praktik  sosialnya,  pemustaka  digital  natives menggunakan
            ruang Perpustakaan UGM sebagai tempat untuk bertemu fisik. Alasannya
            karena keberadaan tempat publik lainnya (seperti halnya cafe dan restoran)
            adalah  berorientasi  pada kepentingan  kapital,  sementara jika  di ruang
            Perpustakaan  UGM  semua  fasilitas  gratis.  Faktor  sosial  yang  membuat



            Endang Fatmawati                                              441
   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465   466