Page 462 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 462
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
ruang Perpustakaan UGM sebagai tempat yang menyenangkan pemustaka
digital natives dan membuatnya menarik, yaitu karena pemustaka digital
natives juga dapat berafiliasi dan membangun jejaring dengan pemustaka
lainnya. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi
dengan orang lain. Senada dengan pandangan Lefebvre (1991) bahwa
memahami manusia sebagai makhluk sosial, mampu memproduksi
kehidupannya, kemudian dengan kesadaran sendiri membentuk dunianya
sendiri (konsepsi ruang sosial). Hal ini melahirkan konsepsi ruang, baik
secara nyata (absolute space) maupun abstrak (abstract space) dengan
manusia sebagai subyek pembentuknya. Dalam konteks ini, artinya
bahwa ruang Perpustakaan UGM sebagai ruang community hub sangat
memungkinkan bagi pemustaka digital natives (sebagai makhluk sosial)
untuk melakukan aktivitas serta berinteraksi dengan sesama pemustaka
digital natives maupun dengan pemustaka lainnya yang tidak tergolong
pemustaka digital natives.
Praktik sosial terjadi karena pemustaka digital natives merasa bahwa
ruang Perpustakaan UGM adalah ruang publik yang cair sehingga mereka
mempunyai kebebasan dalam menggunakan ruang tersebut. Jika kembali
pada Lefebvre (1991) bahwa hal itu akan terjadi jika ada kekuasaan yang
beroperasi melalui spasialisasi dominan yang telah berhasil menemukan
logika umum untuk diterjemahkan ke dalam berbagai wacana kepentingan.
Dalam praktik spasial ini, pemaknaan atas ruang terbentuk dalam bentuk
relasinya dengan kepentingan pemustaka digital natives. Dengan demikian,
ruang Perpustakaan UGM yang semula dimaknai sebagai tempat konkrit
untuk meminjam dan mengembalikan buku, menjadi bergeser menjadi
tempat yang bisa untuk berdiskusi dan bertemu teman dengan beragam
tujuan maupun kepentingan.
Ruang diproduksi secara sosial dan terbentuk oleh manusia dan
kegiatan di dalamnya. Ruang Perpustakaan UGM bisa disebut sebagai
ruang sosial yang terbentuk sebagai luaran dari proses produksi atau kreasi
sosial pemustaka digital natives yang bersifat kolektif. Dengan demikian,
ruang Perpustakaan UGM berkembang dan mengalami proses transformasi
sesuai dengan perubahan kebutuhan dari generasi pemustaka digital natives.
Lefebvre (1991) menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berperan untuk
memberi jalan agar dapat memaknai lingkungannya sebagai ruang. Praktik
spasial berisi berbagai jaringan interaksi, komunikasi serta berbagai proses
produksi dan pertukaran dalam masyarakat yang tumbuh dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam tataran ini, pemustaka digital natives berusaha untuk
mengafirmasi, meneguhkan identitas dan perbedaannya, kemudian juga
merasakan adanya “kenikmatan” melalui tindakan mengkonsumsi tanda
secara bersama-sama.
442 Praktik Pemaknaan Pemustaka Digital Natives Atas Ruang Perpustakaan

