Page 141 - index
P. 141
Perilaku Membaca untuk Kesenangan di Kalangan Remaja Urban 129
budaya bacaan yang dijajakan di rak-rak buku, jumlah yang terbanyak
adalah jenis bacaan yang ditujukan kepada remaja urban, seperti komik
grafi s, novel fi ksi, majalah populer, dan sejenisnya.
Sejumlah informan seperti Nadia, Sekartika, Rani, Sofyan, Reza, Aga,
Nico, Grecia, Wendi, Rossa, Evelyn, Nona, atau yang lain, minimal setiap
minggu atau dua minggu sekali mereka biasanya selalu menyempatkan
pergi jalan-jalan ke toko buku untuk mencari bacaan yang mereka gemari.
Menurut mereka, jika satu minggu saja mereka tidak pergi ke toko buku,
maka selang dua minggu kemudian bukan tidak mungkin mereka akan
kebingungan memilih bacaan mana yang harus dibeli karena sudah
sedemikian banyak novel, komik, majalah, dan bacaan baru lain yang telah
diterbitkan.
Nadia, misalnya menuturkan setiap minggu ia pergi ke toko buku rata-
rata jatah membeli bacaan sekitar 10 judul, bahkan lebih. Orang tua Nadia,
seperti yang ia tuturkan umumnya tidak terlalu membatasi jumlah buku
yang ia beli, sepanjang Nadia menyukai dan membacanya, kedua orang
tuanya relatif menyetujui apapun yang dibeli Nadia. Jika dinominalkan,
menurut Nadia selama seminggu, kurang-lebih dana yang dialokasikan
untuk membeli bacaan sekitar 300-500 ribu rupiah. Rani, polanya juga
kurang-lebih sama seperti Nadia. Hanya saja, jatah untuk membeli bacaan
dari orang tuanya, biasanya lebih banyak dimanfaatkan Rani untuk membeli
komik grafi s. Menurut pengakuannya, sekali pergi ke toko buku, rata-rata
Rani menghabiskan uang sekitar 200-300 ribu rupiah. Evelyn juga tergolong
penggemar berat buku. Setiap kali ke toko buku, diperkirakan sekitar
200-300 ribu rupiah ludes untuk membeli novel maupun komik grafi s
kegemarannya. Evelyn, bahkan menuturkan, kalau dia liburan ke Singapura
dan kemudian membeli bacaan di Kinokuniya atau Border Book Store, maka
bisa saja uang yang dihabiskan untuk membeli bacaan hingga sekitar 2 juta
rupiah.
“Kalau pas beli buku di Singapura, aku malah bisa habis jutaan. Soalnya kan
mumpung ke sana. Komik di sana itu bagus-bagus. Juga novelnya kan banyak
yang tidak ada di Indonesia. Jadi, papaku biasanya ndak apa-apa kalau aku beli
banyak. Aku sendiri ke Singapura ‘kan pas liburan saja, setahun sekali. Jadi,
biar tidak rugi ongkosnya, kalau beli buku sekalian banyak. Hi...hi....”, tutur
Evelyn.

