Page 142 - index
P. 142

130                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


                    Bagi kalangan remaja urban yang sudah kecanduan membaca,
              meminta mereka menghentikan kegemarannya membeli dan membaca
              boleh dikata mustahil untuk dilakukan. Sejumlah informan menyatakan,
              jika harus memilih salah satu antara jalan-jalan dan makan atau pergi ke
              toko buku, mereka umumnya memilih pergi ke toko buku. Bagi penggemar
              bacaan yang benar-benar sudah kecanduan seperti Nadia, Nico, Reza, Rani,
              Wendi, Nona, atau yang lain, membeli dan membaca bacaan tak ubahnya
              seperti kebutuhan primer lain.

                    Nadia, misalnya menuturkan, pernah orang tuanya melarang ia
              beberapa waktu membeli komik karena dinilai sudah terlalu  kebablasan,
              karena di rumahnya jumlah komik yang menjadi koleksinya sudah
              mencapai ribuan, dan orang tuanya khawatir dengan kesehatan matanya
              karena huruf yang ada di komik-komik grafi s seringkali ukurannya terlalu
              kecil. Sepulang periksa ke dokter mata, Nadia memang diketahui matanya
              minus. Untuk mencegah agar minus matanya tidak terus bertambah, orang
              tua Nadia sempat melarang anaknya membaca komik.

                    Dalam hitungan hari atau maksimal dua minggu, Nadia memang
              berusaha mentaati larangan orang tuanya. Tetapi, setelah dua minggu
              berselang, hasrat Nadia untuk membeli dan membaca komik grafi s  tidak
              dapat dibendung lagi. Tanpa bisa dicegah, Nadia pun kembali membeli komik
              grafi s dan berbagai jenis bacaan lain untuk bacaan mengisi waktu luangnya.
              Di hari libur panjang, terutama, sejumlah remaja urban yang gemar membaca
              niscaya sulit dapat melewati liburan jika tidak ditemani novel, komik, majalah
              atau bacaan yang lain.
                    Seorang remaja urban yang sudah kecanduan membaca, tampaknya
              mustahil kebiasaan dan perilaku mereka yang gemar membaca dapat
              distop begitu saja –meski mereka tengah menghadapi ulangan di sekolah
              atau bahkan Ujian Nasional sekalipun. Rani, Evelyn, Cindy, Rossa, Sofyan,
              Nico, dan Wendi yang gemar membeli dan membaca komik grafi s serial,
              misalnya, besar kemungkinan setiap ada kesempatan mereka akan mencari
              jilid terusannya hingga komik itu tamat. Demikian pula, ketika mereka
              sudah pernah membeli majalah populer seperti Animonster, Cinemax atau
              yang lain, maka dapat dipastikan setiap edisi baru diterbitkan, mereka
              akan membelinya, sebab dari majalah populer itulah mereka memperoleh
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147