Page 144 - index
P. 144
132 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
Nico, Stefani dan yang lain, rata-rata semua sudah hafal web site mana yang
bisa dikunjungi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Nadia dan
Rani, misalnya, bahkan dengan cepat bisa mengakses amazon.com untuk
melihat dan memesan sejumlah novel berbahasa Inggris via internet. Ia
hanya tinggal meminta nomor kartu kredit orang tuanya untuk membayar
buku yang ia pesan. Harga novel di amazon.com, menurut Nadia dan Rani
sekitar 7-15 dollar US ditambah ongkos kirim sekitar 7 ribu per buku.
Selain memesan bacaan lewat internet, Rani bahkan mengaku beberapa kali
memesan merchandise yang ia sukai lewat internet.
Untuk mengetahui apakah sebuah bacaan menarik atau tidak, cara
yang paling mudah menurut sejumlah informan adalah membacanya
terlebih dahulu lewat iklan yang terpampang di depan toko buku atau
dengan cara membaca ringkasan dan resensinya di berbagai majalah
populer dan halaman belakang buku yang lain, meskipun di beberapa toko
buku seperti Toga Mas, Gramedia dan Uranus disediakan brosur-brosur
yang berisi ringkasan ceritanya. Nico, misalnya mengaku tertarik membeli
dan membaca Laskar Pelangi karena diilhami iklan yang banyak dimuat di
berbagai media massa. Ulasan di media cetak tentang kesuksesan fi lm Laskar
Pelangi yang ditonton jutaan pemirsa dan bertahan sebulan lebih di gedung
bioskop, sedikit-banyak membuat Nico tertarik untuk mengetahui lebih jauh
isi novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sementara itu, Wendi mengaku
tertarik membaca Twilight, karena di depan toko buku TriMedia ada poster
besar yang dipampang, yang mengiming-imingi orang yang lewat untuk
melirik dan kemudian membeli novel karya Stephenie Meyer itu. Sedangkan
Reza, mengaku tertarik membeli novel fi ksi Harry Potter karena sebelumnya
ia sudah membaca resensinya di internet.
Seorang remaja urban, dengan cepat ia bisa tertarik dan kemudian
memutuskan membeli sebuah bacaan, karena salah satu kekuatan dan daya
tarik yang ditawarkan kekuatan industri penerbitan adalah pada iming-
iming dan daya tarik yang dibangun melalui kekuatan iklan. Yang dimaksud
iklan di sini tentu bukan sekadar dalam bentuk fi sik, berupa pampangan
billboard besar di ruas-ruas jalan raya, iklan di halaman koran atau majalah,
atau iklan di sampul belakang sebuah buku. Iklan, yang dimaksud dalam
studi ini adalah sesungguhnya juga berkaitan dengan nilai budaya kapitalis
yang seringkali dibangun kekuatan industri, yaitu berupa “manfaat lain”

