Page 149 - index
P. 149
Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban 137
sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk keluar dari cara berpikir dan
berbagai studi selama ini yang boleh dikata konvensional, yang cenderung
memperlakukan membaca hanya sebagai bagian dari aktivitas belajar di
sekolah, sehingga kegiatan membaca dinilai semata bersifat akademik.
Membaca untuk kesenangan, dari perspektif Cultural Studies, selain
dipahami sebagai pilihan gaya hidup, selera dan cita rasa seseorang, sebagai
individu maupun kelompok sosial, aktivitas membaca ini juga dipahami
dalam konteks perkembangan industri budaya dan proses komodifi kasi
budaya populer.
Gaya hidup, sebagaimana dikatakan Chaney (2004: 40) adalah ciri
sebuah dunia modern, atau modernitas. Artinya, siapa pun yang hidup
dalam masyarakat modern, tak terkecuali remaja urban akan menggunakan
gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya
sendiri maupun orang lain. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang
membedakan satu orang dengan yang lain. Istilah gaya hidup, baik dari sudut
pandang individual maupun kolektif, mengandung pengertian bahwa gaya
hidup sebagai cara hidup mencakup sekumpulan kebiasaan, pandangan
dan pola-pola respons terhadap hidup, serta terutama perlengkapan
untuk hidup. Cara sendiri bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hal
yang ditemukan, diadopsi atau diciptakan, dikembangkan dan digunakan
untuk menampilkan tindakan agar mencapai tujuan tertentu. Untuk dapat
dikuasai, cara harus diketahui, digunakan dan dibiasakan (Donny Gahral
Adian, dalam: Adlin (ed.), 2006: 37).
Dalam kehidupan masyarakat modern, ada hubungan timbal-balik
dan tidak dapat dipisahkan antara keberadaan citra (image) dan gaya hidup
(life style). Gaya hidup adalah cara manusia memberikan makna pada dunia
kehidupannya, membutuhkan medium dan ruang untuk mengekspresikan
makna tersebut, yaitu ruang bahasa dan benda-benda, yang di dalamnya
citra mempunyai peran yang sangat sentral. Di pihak lain, citra sebagai
sebuah kategori di dalam relasi simbolik di antara manusia dan dunia objek,
membutuhkan aktualisasi dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk
gaya hidup (Yasraf Amir Piliang, dalam: Adlin, 2006: 71). Seorang remaja
urban yang ingin membangun citra sebagai remaja yang selalu mengikuti
perkembangan jaman, tak bisa dihindari harus mampu mengembangkan

