Page 152 - index
P. 152

140                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


                    Beberapa informan yang diwawancarai dalam studi ini diketahui
              sebagian ada yang begitu gemar membaca novel  fi ksi populer, sebagian
              yang lain gemar membaca novel roman, dan tidak jarang pula yang
              lebih gemar membaca komik grafi s atau komik serial cerita detektif. Ada
              pula informan yang diketahui senang dan selalu membaca dengan tekun
              semua jenis bacaan, tidak peduli genre apa yang ditawarkan dalam bacaan
              itu, karena yang penting mereka dapat mengisi waktu luangnya dengan
              membaca dan terus membaca. Yang menarik disimak, apapun jenis bacaan
              yang disukai dan meski selera masing-masing remaja berbeda-beda dalam
              memilih bacaan yang digemari, tetapi yang terlihat bahwa sebagian besar
              dari mereka umumnya mengaku lebih menyukai dan terdorong untuk
              membaca bacaan yang saat itu tengah populer, banyak dibaca teman-teman
              mereka, dan karena itu mereka merasa ada sesuatu yang kurang jika tidak
              bisa terlibat dalam perbincangan dengan sesamanya tentang bacaan tertentu
              yang sedang populer.

                    Secara teoritis, pilihan gaya hidup yang ditampilkan, termasuk
              memilih jenis bacaan mana yang dianggap populer, memang sedikit-
              banyak berkaitan dengan upaya untuk membuat diri seseorang eksis dalam
              cara tertentu. Di sini ada suatu perilaku konsumsi, di mana remaja urban
              digambarkan sebagai sosok yang berada dalam kondisi selalu dahaga, dan
              tak terpuaskan. Suatu pola konsumsi yang dengan cerdik dibangkitkan oleh
              produsen, gatekeeper, melalui pencitraan yang menjadi titik sentral sebagai
              perumus hubungan. Citra di sini kemudian menjelma menjadi bahasa
              komunikasi sosial di dalam masyarakat konsumen, yang di dalamnya
              telah diciptakan klasifi kasi dan perbedaan sosial menurut kelas, status, dan
              selera. Di sini konsumen pada akhirnya akan dikonstruksi untuk membeli
              citra ketimbang produk: citra yang mampu membuat mereka tampak
              berbeda dan mengalami kebernilaian dalam keberbedaan itu. Dalam istilah
              pemasaran hal ini biasanya dikonseptualisasikan dalam strategi positioning
              dan diferensiasi (Audifax, dalam: Adlin, 2006: 109).

                    Dikatakan Chaney (2004), bahwa perkembangan gaya hidup dan
              perubahan struktural modernitas saling terhubung melalui refl eksitas
              institusional: karena keterbukaan kehidupan sosial masa kini, pluralisasi
              konteks tindakan dan aneka ragam otoritas, pilihan gaya hidup semakin
              penting dalam penyusunan identitas diri dan aktivitas keseharian. Gaya
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157