Page 151 - index
P. 151

Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban        139


              hidup) di sini adalah gabungan dari kedua gaya pribadi dan gaya sosial yang
              muncul pada wilayah sosial tertentu, merupakan aktivitas bersama dalam
              mengisi waktu senggang, dan sikap dalam menghadapi isu sosial tertentu.
              Dalam berbagai kasus, seseorang biasanya menggunakan gaya hidup dalam
              kehidupannya sehari-hari untuk mengidentifi kasi dan menjelaskan secara
              lebih luas mengenai identitas dan afi liasi orang tersebut (Chaney, 2003).
              Kenapa seorang remaja gemar membaca novel fi ksi populer semisal Harry
              Potter, Twilight, Golden Compas atau yang lain, atau gemar membaca komik
              grafi s Manga dari Jepang yang terkenal itu, dan tidak lagi terlalu antuasias
              membaca Komik Tintin atau Batman, misalnya, persoalan yang mendasari
              seringkali bukan berkaitan dengan jalan cerita dan siapa pengarangnya,
              tetapi yang lebih penting adalah apakah bacaan itu sedang populer atau
              tidak. Seperti diutarakan sebagian informan penelitian ini, bahwa keputusan
              mereka membeli dan membaca sebuah bacaan, seringkali karena bacaan
              itu tengah populer dan sedang menjadi perbincangan di kalangan  peer-
              groupnya. Bacaan yang dipromosikan lewat poster serta iklan yang ditempel
              di depan berbagai toko buku, niscaya akan membuat remaja urban tertarik
              untuk membeli dan membacanya.

                    Dikatakan Bourdieu (1984), status sosial bukan didefi nisikan  dari
              kedudukan seseorang dalam kelompok atau kelas sosial, melainkan dari apa
              yang mereka konsumsi. Menurut Bourdieu, perbedaan dalam selera budaya
              antarkelas sosial maupun kelompok muncul dalam pilihan mengenai hal
              yang remeh-remeh, seperti cara berbusana, cara mengisi waktu luang, selera
              musik atau materi bacaan, yang mana itu semua dapat memberi tanda
              (signify) mengenai kedudukan dan mempertahankan, menguatkan atau
              mereproduksi struktur sosial yang telah ada sebelumnya (Storey, 2007: 145).
              Pierre Bourdieu yang telah mengkaji kaitan antara pola konsumsi dan gaya
              hidup, menyatakan bahwa ekonomi barang budaya memiliki logika dan
              otonomi tersendiri: lepas dari determinisme dan memiliki otonomi dalam
              membentuk tingkat dan perbedaan selera (lihat: Evers, 1988: 60). Khalayak
              pembaca, misalnya, dalam pandangan Bourdieu jelas dipahami bukan
              sebagai kelompok yang serba homogen. Masing-masing memiliki hasrat
              yang berbeda, selera yang beragam dan juga cita rasa yang tidak selalu
              harus sama di mana perbedaan itu umumnya dipengaruhi oleh dari mana
              kelas sosial mereka berasal.
   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156