Page 155 - index
P. 155
Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban 143
mereka ketahui dan baca. Ketika ada salah seorang peserta menceritakan isi
sebuah novel terbaru yang baru saja ia baca, maka beberapa peserta FGD
yang lain seringkali langsung ikut berbicara untuk memperlihatkan bahwa
mereka pun tahu bacaan baru itu.
Bagi remaja urban, fungsi dari aktivitas membaca untuk kesenangan
dengan demikian bukan hanya untuk mengisi waktu luang atau pelarian
(escape) dari kegiatan rutin di sekolah yang menjemukan, tetapi di sana
juga ada fungsi lain yang ingin dicapai, yakni membangun identitas sosial,
sebagai “tiket” untuk masuk dalam lingkungan peer-group, dan juga prestise.
Ketika seorang remaja urban mengkonsumsi sesuatu, katakanlah membeli
dan kemudian membaca novel terbitan terbaru, ternyata bukan sekadar
karena ia hanya ingin membeli fungsi pertama atau fungsi inheren dari
produk yang dibelinya itu, tetapi sebetulnya ia juga berkeinginan untuk
membeli fungsi sosial yang lain yang disebut Adorno (1960) sebagai ersatz,
“nilai pakai kedua” sebuah produk (lihat: Evers, 1988). Artinya, seseorang
membeli buku, tidak selalu karena ia ingin membaca saja untuk mengisi
liburan atau waktu senggang, tetapi bisa juga karena didorong tujuan-tujuan
sosial yang lain: prestise dan citra, kepentingan untuk memperoleh modal
sosial sebagai alat menjalin relasi dengan peer-groupnya, dan lain sebagainya.
Istilah budaya konsumen, sebagaimana dikatakan Mike Fatherstone
(1985), oleh sebab itu tidak diartikan sebagai suatu penilaian yang berbicara
tentang sifat pasif konsumen yang digiring dan serba mudah diatur. Budaya
konsumen juga membuka kemungkinan untuk konsumsi produktif, dalam
arti menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan: menemukan
kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup yang berbeda-beda,
bahkan khas (Evers, 1988: 53). Bagi remaja urban, gaya dan aktivitas membaca
untuk kesenangan sesungguhnya bukanlah sekadar ekspresi lokasi kelas, ia
adalah sistem yang menandai, yang mengkomunikasikan identitas kultural
dan perbedaan kultural (Storey, 2007: 153).
Di kalangan remaja urban, aktivitas membaca untuk kesenangan
disadari atau tidak dewasa ini telah menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan
tuntutan. Meski kita harus mengakui bahwa masih banyak remaja urban
yang enggan membaca, dan memilih menghabiskan waktu luangnya untuk
menonton televisi, bermain game atau bermain bersama teman-temannya,
tetapi di kalangan remaja yang sudah kecanduan membaca, buku, novel,

