Page 159 - index
P. 159

Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban        147


              bahkan simbol status dalam pergaulan di antara sesama. Ada kesan kuat
              bahwa bila seorang remaja tidak tahu dan tidak mengikuti perkembangan
              komik-komik Jepang dan Korea karangan Asumi Hara, Maki Minami, dan
              sebagainya atau tidak tahu kisah  Harry Potter,  Twilight dan sejenisnya,
              seolah-olah mereka akan dianggap kuper, tidak mengikuti perkembangan
              jaman, dan karena itu bukan tidak mungkin kesulitan bergaul dengan
              lingkungan remaja urban yang begitu dinamis.

                    Dengan latar belakang kondisi psikologis yang khas, cenderung selalu
              ingin mengetahui hal yang baru serta penuh dengan imajinasi dan hasrat,
              aktivitas membaca di kalangan remaja urban, dalam beberapa tahun terakhir
              ini ada indikasi terus berjalan penuh kedinamisan, tumbuh makin pesat,
              dan seolah terbangun serta menemukan habitatnya ketika toko-toko buku
              memasang berbagai bacaan terbitan terbaru dengan penataan yang atraktif
              dan nyaman. Berbeda dengan aktivitas membaca di sekolah yang merupakan
              bagian dari kegiatan belajar, aktivitas membaca untuk kesenangan (reading
              for pleasure) yang berkembang di kalangan remaja urban cenderung makin
              populer dan meluas, terutama ketika dunia penerbitan buku-buku bacaan
              untuk pangsa pasar remaja juga makin tumbuh dan menjadi bagian dari
              sub-kultur budaya massa. Seperti dikatakan Wigfi eld & Guthrie, (1997:
              404) bahwa belakangan ini, kenikmatan membaca telah menjadi aktivitas
              sosial, budaya dan rekreasional, dan perkembangan membaca sebagai
              suatu aktivitas yang menyenangkan telah makin berkembang dan memiliki
              caranya sendiri.

                    Perkembangan industri penerbitan khusus anak-anak dan remaja,
              diakui atau tidak kini telah berkembang menjadi ladang persemaian gaya
              hidup. Majalah-majalah remaja yang diperuntukkan khusus bagi para
              ABG (Anak Baru Gede) yang mungkin tengah mencari identitas dan citra
              diri ini, kini telah banyak beredar dengan kemasan yang tak kalah atraktif
              dengan media transnasional. Produk-produk budaya, tak terkecuali buku
              bacaan,  fi lm, majalah, media massa, perlahan namun pasti telah ikut
              atau bahkan berperan besar dalam membentuk youth culture (kultur anak
              muda), dan sekaligus gaya hidup remaja urban. Namun demikian, berbeda
              dengan asumsi Mazhab Frankfurt yang cenderung menempatkan posisi
              khalayak, termasuk pembaca sebagai konsumen yang serba pasif dan
              rentan terhegemoni oleh proses komodifi kasi budaya, studi ini menemukan
   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164