Page 158 - index
P. 158
146 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
(McKenna & Kear, 1990, dalam: Clark & Rumbold, 2006). Sedangkan
motivasi ekstrinsik mengacu pada dorongan untuk melakukan aktivitas
dalam rangka merespon nilai dan permintaan dari luar. Seorang remaja
termotivasi membaca secara ekstrinsik ketika ia membaca bukan karena
tertarik, tetapi lebih pada kepentingan untuk mengharapkan hasil, misalnya
nilai bagus atau sekadar memenuhi tugas sekolah.
Perspektif Cultural Studies berusaha memahami aktivitas membaca
untuk kesenangan dengan cara yang agak berbeda dengan studi-studi
psikologis sebagaimana diuraikan di atas. Walaupun membaca untuk
kesenangan diakui sedikit-banyak juga berkaitan dengan karakteristik
sosial-psikologis pembacanya, dalam hal ini remaja urban, tetapi lebih
dari sekadar hal-hal yang sifatnya personal, aktivitas membaca menurut
perspektif Cultural Studies dipahami sebagai bagian gaya hidup, makna dan
dinamika perkembangan industri budaya kapitalisme (lihat: Gronow, 1997).
Remaja sebagai pembaca, menurut perspektif Cultural Studies
bukanlah semata merupakan suatu kategori universal biologi, melainkan
satu konstruk sosial yang tengah berubah yang muncul pada kurun waktu
tertentu dan pada kondisi defi nitif (Barker, 2004: 334). Remaja adalah sebuah
konstruk diskursif, di mana yang penting diperbincangkan kemudian
adalah diskursus tentang gaya, citra, perbedaan dan identitas remaja urban
di tengah lingkungan sosialnya. Jenis bacaan apa yang disukai remaja urban,
termasuk genre cerita yang disukai, bagaimana intensitas dan kapan mereka
membaca, itu semua adalah refl eksi dari pilihan gaya, citra dan identitas
sosial yang tengah dicoba dibangun remaja urban.
Seperti sudah dipaparkan di bab sebelunya, studi ini menemukan
bahwa aktivitas membaca acapkali dikembangkan remaja urban, bukan
sekadar karena daya tarik cerita yang dibaca, tetapi juga karena fungsi
sosial dari aktivitas membaca, termasuk prestise. Di kalangan remaja urban,
saat ini bisa ditanya kepada mereka siapa yang tak pernah atau belum
membaca novel Harry Potter, Golden Compass, Twilight, Detektif Conan,
tetralogi Laskar Pelangi atau buku-buku komik dari Jepang dan Korea yang
belakangan ini cenderung makin mudah ditemui di berbagai toko buku
berseiring dengan makin maraknya fi lm-fi lm animasi dari kedua negara
itu? Di kalangan remaja metropolitan ini, tampak bahwa kegiatan membaca
buku-buku populer telah menjadi bagian dari gaya hidup (life style), dan

