Page 164 - index
P. 164

152                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              adiktif, biasanya sebelum tidur selalu berusaha menunggu kantuk dengan
              cara membaca sekitar setengah, satu jam, bahkan lebih agar mata cepat lelah
              dan akhirnya tertidur dengan sendirinya. Tetapi, bagi remaja yang tidak
              gemar membaca, mereka biasanya lebih memilih menghabiskan waktu untuk
              menonton televisi, game atau langsung tidur ketika merasa lelah.
                    Terlepas, apakah seorang remaja termasuk pembaca yang riil-
              adiktif atau pseudo-adiktif, apa yang ditemukan dalam studi sebagaimana
              dilaporkan bahwa dewasa ini aktivitas membaca telah berkembang di luar
              konstruk lamanya yang biasanya hanya diidentikkan dengan urusan belajar
              atau kegiatan akademik. Aktivitas membaca untuk kesenangan belakangan
              ini menjadi makin meluas dan populer, bukan saja karena ditunjang
              perkembangan industri budaya populer yang senantiasa menawarkan
              perubahan dan gaya hidup baru, tetapi juga karena aktivitas ini menjadi
              media bagi remaja untuk mengekspresikan diri di hadapan lingkungan
              sosialnya sekaligus memperoleh kenikmatan secara personal.

                      Di China, studi yang dilakukan John Nguyet Erni (2006) terhadap
              anak-anak dan remaja di wilayah perkotaan menemukan bahwa di era ketika
              negeri tirai bambu mulai membuka diri makin liberal dan ada intervensi
              kapitalisme, aktivitas membaca buku-buku populer memberi kepada mereka
              kapital budaya yang merupakan indikasi dari identitas kelompok, status untuk
              kebanggaan diri dan keluarga kelompok menengah, serta sekaligus untuk
              membentuk dan memperluas hubungan serta jaringan sosial yang mengarah
              pada reproduksi kelompok sosial. Studi yang dilakukan di Kota Surabaya ini,
              menemukan hal yang serupa. Hanya saja, jika kajian yang dilakukan John
              Nguyet Erni menyimpulkan bahwa selera dan perilaku membaca remaja di
              China sepenuhnya terhegemoni oleh kekuatan industri budaya, maka yang
              terjadi dan dialami remaja urban di Kota Surabaya ternyata tidak selalu
              mereka menjadi korban pasif dari kekuatan industri kapitalis, karena masih
              ada sebagian remaja urban yang memperlihatkan dan mampu membangun
              selera dan cita rasanya sendiri, bahkan menjadi trend setter.
                    Hal yang sama sebagaimana ditemukan John Nguyet Erni di kalangan
              remaja di wilayah perkotaan China, tampaknya adalah pada persoalan
              bagaimana remaja urban di Kota Surabaya belakangan ini secara umum juga
              makin kecanduan membaca, dan menganggap aktivitas membaca untuk
              kesenangan sebagai bagian dari gaya hidup dan upaya membangun citra.
   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169