Page 169 - index
P. 169
Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban 157
emosional. Kedua, penggemar tidak sekadar membaca teks, mereka
senantiasa membaca kembali teks-teks itu, karena didorong hasrat untuk
terus membaca guna menjawab sejumlah pertanyaan: bukan apa yang
terjadi, tetapi bagaimana sesuatu itu terjadi, mempertanyakan hubungan
antar tokoh, tema narasi, produksi pengetahuan dan wacana sosial. Ketiga,
kebanyakan pembacaan adalah proses yang soliter, yang dilakukan secara
pribadi, tetapi sebagai bagian dari suatu komunitas: para pembaca mencipta
makna untuk berkomunikasi dengan penggemar yang lain (Storey, 2007:
165).
Selama proses dan pengalaman remaja urban melakukan aktivitas
membaca untuk kesenangan, hal-hal dalam bacaan yang menarik minat
remaja urban untuk terus membacanya biasanya berbeda-beda satu dengan
yang lain, tetapi sebagian yang lain bisa pula sama. Studi ini menemukan,
remaja urban cenderung tertarik membaca novel, seperti novel fi ksi
populer, petualangan, cerita kriminal atau romance karena mereka memiliki
keleluasaan untuk mengembangkan fantasi dan imajinasi yang sifatnya
personal terhadap fi gur tokoh, stereotipe karakter, jalan cerita, plot kesukaan,
dan rasa keterlibatan yang dalam karena mereka juga berkesempatan untuk
ikut membayangkan menjadi bagian dari cerita yang mereka baca (lihat:
Cawelti, dalam: Harrington & Bielby, 2006: 203-209). Pendek kata, dengan
membaca remaja urban memiliki kesempatan untuk melakukan eksplorasi
dan berimajinasi secara lebih mendalam. Berbeda dengan komik yang
menurut sebagian informan kurang mampu menarik keterlibatan emosional
pembaca, membaca novel atau buku cerita yang berupa teks-teks deskripsi
yang mendalam, cenderung lebih mampu membuat mereka “masuk” dan ikut
merasakan situasi yang dikembangkan si pengarang, bahkan “dibumbui”
dengan imajinasi yang sifatnya sangat personal. Yang dimaksud imajinasi
di sini, sebagaimana dikatakan Milne (2008) adalah kombinasi antara alasan,
emosi dan sensasi, yang mana kesemuanya kemudian menjadi kekuatan
untuk memodifi kasi sesuai kebutuhan masing-masing personal.
Seperti ditemukan Nell (1988), studi ini juga menemukan bahwa di
kalangan remaja pembaca, mereka cenderung menyukai bacaan seperti
novel fi ksi populer karena selalu mengajak pembaca memasuki dunia dan
petualangan dalam buku (lihat: Stokmans, 2003). Novel fantasi dikatakan
senantiasa berhasil membentuk kehendak pembaca, menyediakan

