Page 168 - index
P. 168

156                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              dipenuhi pertanyaan: apa yang terjadi kemudian? Bagaimana nasib sang
              tokoh? Seorang pembaca yang larut betul ketika membaca sebuah novel
              yang berseri, seperti Harry Potter, Twilight atau yang lain, karena tak sabar
              menunggu terbitan dalam edisi Bahasa Indonesia, ia bahkan akan mencari
              edisi Bahasa Inggris atau bahkan pesan lewat amazon.com –sebuah alamat
              atau situs di internet yang memang melayani pemesanan buku atau bacaan
              via satelit di mana proses pembayaran dilakukan melalui kartu kredit.

                    Frued (1914, 2003) menyatakan bahwa kenikmatan (psychoanalytic
              pleasure), termasuk kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas membaca
              adalah apa yang memotivasi subyek (lihat: Shen, 2007) dan melahirkan
              hasrat untuk terus-menerus membaca. Berbagai produk budaya populer,
              seperti buku,  fi lm dan yang lain akan membangkitkan emosi keakraban
              dan kehangatan, mendorong subyek untuk terus kecanduan membaca,
              menonton fi lm yang diangkat dari bacaan itu dan mencari berbagai produk
              budaya lain yang berkaitan, karena intimasi dan komodifi kasi telah menjadi
              jantung bagi industri budaya, selain karakter  merchandizing atau menjual
              kegembiraan (Allison, tanpa tahun). Dalam masyarakat yang kapitalistik dan
              mengembangkan komodifi kasi budaya, produk-produk budaya memang
              selalu dikemas dan diberi nilai tambah untuk kesenangan (adding leisure).
                    Sebagai bagian dari gaya hidup, aktivitas membaca untuk kesenangan
              yang adiktif biasanya tidak bersifat temporer: sesaat kemudian memudar.
              Membaca yang dilakukan dengan penuh kegembiraan atau kesenangan,
              niscaya akan melahirkan para pengemar atau pembaca yang benar-benar
              adiktif. Menurut Henry Jenkins (1992), ada tiga ciri utama yang menandai
              moda pemberian (makna) budaya penggemar dalam membaca teks-
              teks media, yaitu yang berkaitan dengan: cara penggemar menarik teks
              mendekati ranah pengalaman hidup mereka, peran yang dimainkan melalui
              pembacaan kembali dalam budaya penggemar, dan proses yang dengannya
              informasi program dimasukkan dalam interaksi sosial yang terus menerus.

                    Pembaca yang adiktif, dalam  Cultural Studies tak ubahnya seperti
              penggemar atau fans (lihat: Jensen, dalam: Harrington & Bielby (eds.), 2006:
              301-314). Secara garis besar ciri-ciri yang menandai karakteristik penggemar
              atau pembaca yang benar-benar adiktif adalah: Pertama, pembacaan
              penggemar dicirikan oleh sebuah intensitas keterlibatan intelektual dan
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173