Page 166 - index
P. 166

154                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              bukan saja reputasi, image, prestise dan citranya akan naik di mata teman-
              temannya, tetapi ia juga akan memperoleh kepuasan dan kenikmatan
              tersendiri yang tak tergantikan.

              5.3  PENGALAMAN MEMBACA DAN DAYA TARIK BACAAN

                    Pada awalnya, sebuah bacaan (dalam hal ini fi ksi populer), seringkali
              dituding dan disalahkan karena menawarkan bentuk-bentuk adiktif berupa
              kompensasi dan distraksi. Bacaan yang menyebabkan pembaca kecanduan
              dinilai negatif, karena berlawanan dengan sifat dan esensi dari aktivitas
              rekreasi itu sendiri, dan dinilai cenderung hanya melemahkan karena
              membuat pembaca menolak menghadapi realitas dan bahkan menyebabkan
              mal-adjusment, yakni ketidakmampuan berhadapan atau menyesuaikan diri
              dengan kebutuhan lingkungan sosial dalam kehidupan nyata (lihat: Storey,
              2007).

                    Adalah Derek Longhurst (1989) yang kemudian mencoba menepis
              kekhawatiran yang terlalu berlebihan menyikapi kehadiran bacaan populer
              produk industri budaya. Menurut Longhurst, cerita atau bacaan populer
              tidak bisa lagi dipahami secara memadai sebagai semata-mata  narkotis
              dan pembacanya sebagai pecandu yang tak tercerahkan (Storey, 2007: 36).
              Artinya, sebuah bacaan, dan cerita yang terkandung di dalamnya dalam
              perspektif  Cultural Studies tidak dipahami dalam kacamata hitam-putih,
              apakah membaca jenis bacaan tertentu itu merupakan hal yang negatif,
              dan merugikan pembacanya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana
              memahami kenapa para pembaca, dalam hal ini remaja urban menjadi
              kecanduan membaca, dan unsur-unsur apa dalam bacaan yang menyebabkan
              remaja urban adiktif untuk terus membaca.

                    Kalau berbicara data statistik, mungkin benar bahwa dalam semua
              kelompok umur, remaja perempuan cenderung membaca lebih banyak
              daripada laki-laki (Blackwood, Flowers, Rogers & Staik, 1991, dalam: Galik,
              1999). Terlepas apakah itu remaja perempuan atau remaja laki-laki itu
              memiliki preferensi dan selera yang berbeda dalam memilih jenis bacaan
              yang disukai, yang jelas keduanya memiliki hasrat dan perilaku adiktif yang
              sama sebagai sesama penggemar bacaan. Seperti ditemukan dalam studi ini,
              bahwa baik laki-laki maupun perempuan, remaja urban yang diwawancarai
              ini keduanya sama-sama memiliki pengalaman membaca yang sifatnya
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171