Page 96 - index
P. 96
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
dunia kehidupan telah menciptakan bentuk baru identitas sosial dan
ketidaksetaraan di masyarakat, menjadikan kekuasaan bagian dari arus
desentralisasi, sekaligus melahirkan bentuk baru organisasi sosial yang
bertumpu pada kekuatan informasi (lihat Castells, 2000).
Castells (1996) menyatakan, bahwa di era revolusi informasi, selain
ditandai dengan perkembangan TI yang luar bisa canggih, juga mun-
cul apa yang ia sebut sebagai kebudayaan virtual riil, yaitu satu sistem
Prenada Media Group
sosial-budaya baru di mana realitas itu sendiri sepenuhnya tercakup,
sepenuhnya masuk dalam setting citra maya, di dunia fantasi, yang di
dalamnya tampilan tidak hanya ada di layar tempat dikomunikasikan-
nya pengalaman, tetapi mereka telah menjadi pengalaman itu sendiri
(Ritzer & Goodman, 2008: 632). Masyarakat yang semula berinteraksi
dalam ruang yang nyata dan bertatap muka, dengan kehadiran inter-
net mereka kini bisa berinteraksi dengan siapa pun secara online, tanpa
dibatasi nilai dan norma, sehingga di kalangan warga masyarakat yang
mengembangkan hubungan dalam jejaring komputer tak pelak mereka
pun tumbuh dengan subkulturnya yang khas—yang berbeda dengan ma-
syarakat konvensional.
Di era masyarakat pasca-industri, realitas sosial bahkan boleh dibi-
lang telah mati, untuk kemudian diambil alih oleh realitas yang bersifat
virtual, yakni realitas cyberspace. Dunia baru yang dimediasi oleh hadir-
nya teknologi infomasi yang makin maju dan supercanggih telah mela-
hirkan hal-hal yang serba virtual; kebudayaan virtual dan komunitas
virtual (virtual community). Seperti dikatakan Yasraf Amir Piliang (2004),
bahwa di era revolusi informasi, masyarakat memang masih berinteraksi
satu dengan yang lain, kini tidak lagi dalam komunitas yang nyata tetapi
di dalam komunitas virtual (Piliang, 2004: 64). Internet sebagai satu ben-
tuk jaringan komunikasi dan informasi global telah menawarkan bentuk
komunitas sendiri (virtual community), bentuk realitasnya sendiri (virtual
reality), dan bentuk ruangnya sendiri (cyberspace) yang khas.
Di era masyarakat pasca-industrial, community of online fan yaitu
suatu komunitas khas yang menjadi bagian dari virtual community atau
komunitas cyberspace. Lebih dari sekadar sekelompok orang yang tergila-
gila dan menjadi penggemar fanatik dunia maya, community of online fan
biasanya telah berkembang sebagai komunitas yang saling berinteraksi
84

