Page 134 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 134

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                                  Sumber : Crnjac, Marina et.all. (2017)
                Revolusi  industri  memberi  keniscayaan  bahwa  dari  industri  yang
            smart akan menghasilkan produk yang smart juga melalui inovasi-inovasi
            yang dihasilkan. Hal itu juga akan mempengaruhi bagaimana cara berpikir,
            cara meyakini dan cara bersikap dalam paradigm baru di dalam revolusi
            mental yang akan menghasilkan manusia-manusia unggul dan terdepan.

            E. Pustakawan Asertif
                Interaksi  pustakawan  dengan  pemustaka  dalam  menuangkan
            kerjasama  dalam  kegiatan  pencarian    sumber-sumber    informasi
            referensi, membutuhkan keterampilan kepribadian antara pemustaka dan
            pustakawan.  Keterampilan  sosial  menjadi  salah  satu  syarat  wajib  bagi
            interaksi  di  perpustakaan,  disamping  syarat-syarat  yang  lain  yang  juga
            harus ada. Keterampilan Sosial (Social Skills) adalah kemampuan untuk
            menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan
            dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan
            lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi
            dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan  perselisihan, serta
            untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim.
                Sebagai ilustrasi mengenai pengertian keterampilan sosial, pada sekitar
            tahun 1970-an, di tengah maraknya protes mahasiswa sedunia menentang
            Perang Vietnam,  seorang  pustakawati  di  sebuah  kantor  US  Information
            Agency  diluar  negeri  menerima  kabar  buruk:  sekelompok mahasiswa
            mengancam akan membakar perpustakaannya. Reaksinya sepintas nampak
            konyol,  tapi  hasilnya  luar  biasa,  pustakawati  ini  justru  mengundang
            kelompok  yang  mengancam  tesebut  untuk  mengancam  tersebut  untuk
            menggunakan fasilitas perpustakaan sebagai ajang pertemuan-pertemuan
            mereka,  maka  terjadilah  dialog  bukan  konfrontasi.  Dalam  berbuat
            demikian,  pustakawan  ini  memanfaattkan  hubungan  pribadinya  dengan
            beberapa tokoh mahasiswa setempat  yang cukup daapat dipercaya
            dan  mempercayainya.  Langkah  tersebut    membuahkan  terbukanya
            saluran-saluran  baru  yang  saling  memahami  dan  ini  mempengaruhi
            persahabatannya dengan para tokoh mahasiswa. Perpustakan itu selamat.
            Pustakawan tersebut jelas memperagakan keahliannya sebagai negosiator,
            penengah, atau agen perdamaian yang sangat hebat, yang mampu membaca
            memuncaknya  ketegangan,  mendadaknya  perubahan  situasi,  kemudian
            mengelola tanggapan dengan menyatukan semua orang bukannya saling
            mempertentangkannya.  Kantor  terhindar  dari  kerusakan  seperti  yang
            menimpa  kantor-kanntor  perwakilan  Amerika  lain  yang  dipimpin  oleh
            orang-orang yang kurrang memiliki keterampilan sosial.


            114                         “Assertive Librarian” dan Tantangan Perpustakaan ...
   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139