Page 357 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 357
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
banguann rumah tradisioonal adat Jawa yang khas dibangun pada
masa kolonial dan masih bertahan hingga kini. Keempat, potensi nilai
informatif, simbolis dan estetis ini merupakan potensi nilai ekonomis
bagi PNRI sekarang sebagai lembaga pemerintah non departemen
dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 melaksanakan tugas diantaranya
sebagai perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan
pelestarian, yang pada tingkat nasional maupun internasional,
serta berkedudukan di ibukota negara. Dengan demikian dapat
dikembangkan menjadi heritage library yang menghimpun koleksi
warisan budaya. Dengan demikian secara otomatis potensi nilai
informatif, simbolis, dan estetis yang melekat pada konteks bangunan
HBS KW III yang kini sebagai bangunan PNRI dapat dikembangkan
untuk memiliki potensi nilai ekonomis bagi PNRI sekarang. Konteks
bangunan HBS KW III yang hidup dalam bangunan PNRI sekarang,
merupakan aset yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme
karena dapat saling mengambil keuntungan.
9. Penelitian ini membuktikan bahwa penilaian terhadap potensi sumber
daya budaya seyogianya dilakukan dengan suatu penelitian ilmiah
yang melihat pula pada pemberian makna yang mendalam terhadap
calon BCB. Dengan menggunakan teori Ian Hodder ini dibantu
dengan teori konotasi Roland Barthes untuk menggali sudut makna
materi budayanya dapat menjadi metode dalam menggali potensi
materi budaya tersebut.
10. Penyelamatan sumber daya budaya dinamis tidak hanya berhenti
pada perlindungan hukum dan usaha perbaikan bangunannya serta
pemanfaatan yang mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi namun
harus diarahkan dan dikondisikan dalam konteks global yang banyak
memperhatikan mengenai makna materi budaya tersebut bagi masa
kini, terutama bila upaya pertahanan terhadap lingkungannya sudah
tidak mungkin dilakukan terutama pada daerah urban yang terdesak
oleh pembangunan kota. Penyelamatan sumber daya budaya dinamis
termasuk pula dalam etika pemberian pemaknaan terhadap calon
bangunan cagar budaya yang berada di wilayah Indonesia. Budaya
pemberian nama yang diberikan juga mengikuti kebiasaan yang
dilakukan di Indonesia. Identifikasi tipe bangunan di Indonesia biasa
didasarkan pada jenis atapnya, maka identifikasi penamaan tipe
bangunan yang masih mengikuti pandangan kolonial harus diubah.
11. Apabila pada awal penelitian ini dibuka dengan pernyataan bahwa
“semua yang ada di dunia ini akan hilang, meninggalkan “nama” yang
dapat diingat bagi yang ditinggalkan”, maka sebagai penutup patut
dikemukakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak akan hilang bila
Tamara Adriani Salim 337

