Page 353 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 353
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
dan ketika sekarang digunakan menjadi PNRI, ternyata memiliki makna
yang tidak berubah dan maknanya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.
Apabila dikaitkan dengan pembagian ruang pada rumah tradisional Jawa
maka maknanya juga tidak jauh berbeda pada HBS KW III dan ketika
sekarang digunakan sebagai PNRI. Inilah yang disebut oleh Ian Hodder
dengan makna yang tak disadari (unrecognized meaning). Makna
konotasinya adalah pembagian fungsi ruang depan, tengah dan belakang
sudah sejak dibangun sebagai HBS KW III seolah sudah menjadi mitos
(konsep pemikiran Roland Barthes) pembagian ruangnya yang cenderung
mengikuti budaya lokal setempat yaitu budaya Jawa.
Berkaitan dengan keseluruhan bentuk bangunan HBS KW III ini
dapat dijelaskan bahwa bangunan HBS KW III yang masih bertahan ini,
justru banyak menonjolkan bentuk dan susunan bangunan serta pembagian
fungsi ruang yang mengikuti bangunan rumah tradisional Jawa. Hal ini
penting dikemukakan nantinya ketika akan diajukan untuk ditetapkan
sebagai bangunan cagar budaya. Jadi walaupun bangunan HBS KW III
ini dibangun pada masa zaman kolonial, namun makna yang tersembunyi
di balik bentuknya yang kokoh dan megah ini, lebih banyak menyiratkan
makna konotasi bangunan rumah tradisionil Jawa.
X. KESIMPULAN
Hasil analisis yang dilakukan menelusuri sejarah bangunan sekolah
HBS KW III, pemikiran dan perilaku siswa-siswi HBS KW III dan
morfologi bangunannya ini mengantarkan pada kesimpulan:
1. Bangunan sekolah HBS KW III ini dari segi sejarah berdirinya
bangunan sekolah HBS KW III merepresentasikan karakteristik
simbol perintis sejarah pendidikan menengah di Nusantara, yang
dibuka pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda, di kawasan yang
dianggap sesuai sebagai sebuah kawasan pendidikan. Terbukti pula
dari analisis letaknya hingga kini tetap berada di kawasan pendidikan
yang menjadi pusat acuan nasional. Keberadaannya kini dalam sebuah
wadah Perpustakaan Nasional R.I. yang pertama kali dimiliki oleh
pemerintah R.I., memperkuat penetapannya sebagai bangunan cagar
budaya tidak hanya oleh karena memiliki karakteristik usia bangunan
lebih dari 50 tahun (151 tahun) yang mewakili gaya bangunan Indis
masa kolonial dengan karakter ciri tradisional Jawa yang kuat, namun
yang lebih penting adalah bangunan ini terbukti memiliki arti khusus
bagi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
2. Makna konotasi bangunan sekolah HBS KW III dalam temuan
dokumen serta kognisi pendukung budaya yang dapat membantu
Tamara Adriani Salim 333

