Page 352 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 352

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Apabila dikaitkan dengan susunan tata ruang bangunan HBS KW III
            yang masih bertahan hingga kini, maka prinsip susunan tata ruang adat
            rumah tradisional Jawa asumsinya tercermin pada ketiga bagian bangunan
            HBS KW III ini. Menurut Ronald (2005: p. 137) dalam aspek lingkungan
            sosial, masyarakat Jawa mempunyai prinsip meletakkan umum lebih tinggi
            daripada  kepentingan  pribadi.  Pada  bangunan  HBS  KW  III  ini,  bagian
            depan selalu difungsikan sebagai tempat melakukan aktivitas yang sifatnya
            formal seperti melakukan kegiatan formal yang sifatnya rutin, dan tempat
            pertemuan. Bangunan depan ini disebutkan bukan untuk menerima tamu
            sebelum masuk rumah. Pada saat ini setelah digunakan sebagai gedung
            utama PNRI, bangunan depan ini tetap dianggap sebagai tempat formal
            hingga tidak sembarang orang dapat masuk.
                Bangunan  tengah  pada  rumah  adat  tradisional  Jawa  merupakan
            bangunan  untuk  melakukan  kegiatan  non  formal  yang  sifatnya  umum
            seperti melakukan pertunjukan dan sebagainya. Pada saat digunakan
            sebagai bangunan HBS KW III bangunan tengah ini memang digunakan
            untuk pertunjukan tahunan atau pun pertemuan antar siswa dan juga rapat
            guru-guru (lihat lampiran 8 Fieldnotes wawancara). Sekarang ini ketika
            digunakan sebagai gedung aula PNRI maka bangunan ini seringkali menjadi
            tempat seminar, tempat pertemuan untuk upacara pembukaan dan bahkan
            ketika belum didirian mesjid dalam kompleks HBS KW III beberapa tahun
            lalu, maka bangunan tengah ini setiap jumat digunakan untuk sholat jumat.
            jadi lebih pada penggunaan sebagai ruang serbaguna yang boleh dimasuki
            oleh umum.
                Bangunan  belakang  pada  rumah  adat  tradisional  Jawa  merupakan
            bangunan yang dianggap pribadi, jadi memiliki makna kedomestikan. Pada
            bangunan HBS KW III saat itu  bagian bangunan HBS KW III berlantai
            dua ini menjadi pusat kegiatan belajar-mengajar bahkan khusus digunakan
            untuk peristiwa yang sifatnya internal seperti ujian akhir siswa-siswi yang
            memiliki  makna  penting  dan penuh  “kesakralan”  karena  menentukan
            kelulusan siswa-siswinya. Pada saat ini, ketika digunakan sebagai bangunan
            PNRI, bangunan belakang ini dijadikan pusat kegiatan Bagian Perencanaan
            dan Administrasi PNRI. Umumnya Bagian Perencanaan dan Administrasi
            suatu instansi atau lembaga pemerintah memegang peranan sebagai penentu
            arah kebijakan dari instansi atau lembaga pemerintahan tersebut. Makna
            yang tersirat adalah bahwa Bagian Perencanaan memiliki makna konotatif
            rahasia, artinya hanya bagian tertentu  yang boleh berurusan dengan
            Bagian Perencanaan ini. Makna konotatif bersifat internal kedomestikan
            ini karena posisinya sebagai pemegang arah pengembangan instansi atau
            lembaga PNRI ini. Dengan demikian tanpa disadari perubahan pembagian
            fungsi  ruang-ruang  pada  saat  digunakan  sebagai  sekolah  HBS  KW  III

            332         Nilai Maknawi Bangunan Sekolah Hogere Burgerschool Koning Willem III ...
   347   348   349   350   351   352   353   354   355   356   357