Page 124 - index
P. 124

112                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              hero, cerita detektif atau cerita yang realistik seperti novel tetralogi Laskar
              Pelangi. Tetapi, terlepas dari soal gender, berbagai genre dalam bacaan yang
              disukai remaja urban: cerita-cerita fi ksi populer, fantasi dan cerita romance
              atau cerita detektif dari komik-komik  mainstream diakui masing-masing
              informan sangat menarik untuk terus diikuti, karena dengan membaca,
              mereka tanpa sadar memiliki keterkaitan emosional dan bahkan empati
              yang mendalam dengan tokoh-tokoh yang mereka gemari dalam bacaan itu.

                    Sejumlah informan yang diwawancarai menyatakan, bahwa mereka
              ketika membaca sebuah novel yang disukai, terkadang harus menutup mata
              dan berhenti sejenak membaca ketika tiba di halaman yang menceritakan
              adegan di mana tengah seru-serunya terjadi konfl ik, sang tokoh diceritakan
              mengalami situasi kritis, atau bagian dari bacaan yang ceritanya sangat
              menyedihkan, sehingga membuat sejumlah informan mengaku tidak tega
              untuk meneruskan membaca dan melihat lebih lanjut kelanjutan ceritanya.
              Bagi informan ini, yang mengasyikan dari aktivitas membaca kalau ceritanya
              bagus, penuh kejutan, dan tokohnya itu baik.

                   “Aku kalau pas bagian yang seru-seru suka takut meneruskan membaca. Kalau
                   sedih aku juga jadi ngak tega. Biasanya tak tutup dulu sebentar. Terus kalau
                   sudah tenang, baru aku teruskan lagi membaca. Soalnya aku kasihan. Aku suka
                   sedih kalau tokohnya mati. Masa tokohnya yang baik mati. Yang jahat malah
                   enak-enak. Mangkel aku.....”, tutur Nadia.

                   “Kalau membaca itu memang menghanyutkan. Maksudku kita ini kayaknya
                   ikut meresapi ceritanya. Ikut susah kalau ada apa-apa sama tokohnya. Kalau
                   tokohnya perempuan disakiti gitu, aku suka ikut mangkel....”, tutur Nona.

                   “Aku pernah lho nangis, waktu membaca salah satu komik. Soalnya,
                   tokohnya di akhir cerita ternyata mati. Mestinya ‘kan bisa nggak dimatikan.
                   Pengarangnya itu semprul kok. Kata kakakku, di internet itu ada website yang
                   menampung kelompok fans pembaca untuk membuat sendiri ending sebuah
                   cerita. Jadi, kalau kita nggak setuju ada tokoh yang dimatikan, ya kita bisa
                   mengubah ceritanya sendiri. Kapan-kapan aku mau ngubah ceritanya. Biar
                   tokohnya nggak jadi mati....”, tutur Evelyn.

                    Studi ini menemukan, selain daya tarik yang berkaitan dengan genre
              bacaan, jalan cerita yang dibangun pengarang, nasib sang tokoh, dan
   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129