Page 122 - index
P. 122
110 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
bacaan yang menjadi daya tarik --yang membentuk selera dan perilaku
adiktif remaja untuk terus membaca dan membaca.
Berbeda dengan menonton fi lm, di mana sosok sang tokoh dapat
dipersonifi kasi dengan sosok sang aktor yang memerankannya, ketika
membaca sebuah novel, misalnya informan yang diteliti tampaknya memiliki
kebebasan sepenuhnya untuk membayangkan sosok dalam imajinasi atau
fantasinya masing-masing. Studi ini menemukan, buku bacaan apa pun
yang digemari pembacanya, entah itu roman romantis, komik grafi s, novel
hero yang menampilkan jagoan culun seperti Harry Potter, atau Edward
dalam novel Twilight, misalnya semuanya cenderung menciptakan fantasi,
empati, dan juga idola di kalangan pembacanya.
Wendi, Nadia, Gracia, Rossa, Evelyn, dan Rani, misalnya, dari hasil
wawancara diketahui sangat mengidolakan sosok Edward, tokoh vampire
yang baik sebagaimana diceritakan dalam novel fi ksi populer Twilight.
Seperti dituturkan sejumlah informan dalam studi ini, ketika mereka
membaca novel atau cerita tertentu hingga secara emosional larut dan
membayangkan mereka menjadi bagian dari tokoh-tokoh dalam cerita
atau minimal berempati kepada tokoh itu, tidak jarang terjadi mereka ikut
jengkel, was-was, sedih dan bahkan marah ketika si pengarang mematikan
sang tokoh atau menutup cerita dengan akhir yang menyedihkan –bukan
happy ending seperti yang diharapkan kebanyakan pembaca remaja urban.
Semua informan yang diwawancarai mengaku bahwa cerita yang
mereka sukai adalah cerita yang happy ending, di mana sang tokoh yang
baik harus memperoleh nasib yang baik pula. Sebaliknya tokoh yang jahat
dalam cerita itu diharapkan memperoleh hukuman yang setimpal, atau
minimal diceritakan mereka tidak lagi dapat menganggu dan merugikan
tokoh yang baik. Sebuah bacaan yang di ujung cerita ternyata mematikan
sang tokoh atau berakhir malah memenangkan nasib tokoh yang jahat,
selain menimbulkan kekecewaan di kalangan informan, juga tak jarang
membuat informan jengkel, bahkan marah. Nadia, salah seorang informan
yang pada saat diwawancarai baru saja menyelesaikan membaca The
Hight Lord, Sang Ketua Penyihir karya Trudi Canavan mengaku beberapa
kali menutup novelnya di bagian-bagian akhir, karena tak tega dan sedih
membayangkan pacar Sonea, Akkarin, tokoh baik yang menjadi sentral
cerita novel itu terbunuh karena tertusuk pisau tajam Kariko. Nadia,

