Page 118 - index
P. 118
106 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
satu-dua jam, atau bahkan kurang dari satu jam, bagi para informan hal
itu akan menjadi tidak terasa jika dimanfaatkan untuk membaca novel,
majalah atau komik yang mereka bawa. Beberapa informan menceritakan
pengalamannya, ketika mereka harus menunggu antrean ke dokter gigi atau
menunggu keberangkatan pesawat hingga satu jam lebih, tetapi ternyata
mereka lupa tidak membawa bacaan, maka yang terasa adalah waktu seolah
berjalan seperti siput: sangat pelan, membosankan, dan bahkan sebagian
informan mengaku mereka terkadang sempat pula uring-uringan –tanpa ada
kejelasan siapa sebetulnya yang menjadi sasaran kemarahan mereka.
Bagi remaja urban yang sudah kecanduan membaca, tidak peduli
apakah bacaan yang dibaca merupakan serial atau edisi lepas, yang penting
bagi mereka adalah bagaimana dapat melakukan aktivitas membaca, dan
terus membaca. Jadi, meski yang baru diselesaikan dibaca adalah buku
atau bacaan yang sifatnya lepas, satu edisi tamat, dengan cepat remaja yang
bersangkutan akan mencari bacaan baru lain untuk menyambung kembali
hasrat mereka untuk terus membaca. Nandon: ini adalah salah satu istilah
yang biasa dipergunakan sejumlah informan seperti Nadia, Rossa, Nia,
Nico atau Wendi untuk menggambarkan kebiasaan mereka membeli bacaan
dalam jumlah banyak, karena khawatir bacaan yang dibeli sebelumnya
keburu habis sebelum orang tua mereka sempat mengantarkan pergi ke
toko buku. Meski terkadang kebiasaan nandon ini sempat dipertanyakan dan
diomeli orang tuanya, tetapi informan seperti Nadia, Nia, Rossa dan yang
lain menyatakan tetap saja ia lakukan karena kalau semua bacaan sudah
habis, dan tidak ada kerjaan lain, maka ia akan bingung sendiri karena tidak
tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu.
“Aku biasanya memang nandon buku. Soalnya kadang papa-mamaku ‘kan
sibuk. Kalau tidak nandon, pernah aku kehabisan bacaan pas hari Kamis. Lha
mau ke toko buku ndak sempat, soalnya aku jugs harus les di Kelt. Supaya ndak
terulang lagi, ya akhirnya aku pilih nandon saja. Maksudnya beli buku banyak-
banyak, terus disimpan. Selain takut nanti keburu habis, juga untuk jaga-jaga
kalau bacaan habis. Nanti kalau habis, wah mau ngapain.....”, tutur Nadia.
Memang, kalau mau diperbandingkan, bacaan yang sifatnya serial,
diakui sejumlah informan cenderung lebih menggoda remaja urban untuk
terus mencari jilid berikutnya hingga serial bacaan itu tamat. Perilaku
kecanduan membaca ini, biasanya memang makin meningkat kalau yang

